OPINI—Rajab, sya’ban, dan Ramadan merupakan bulan haram dan memiliki kemuliaan. Saat ini, kita sudah berada di bulan rajab dan tinggal menghitung hari umat islam akan memperingati isra’ mikraj. Isra’ mikraj ialah perjalanan Rasulullah SAW ke langit dan turunnya perintah solat lima waktu.
Selain isra’ mikraj, masih banyak lagi peristiwa di bulan rajab, seperti pembebasan palestina yang dilakukan Salahuddin al Ayyub, runtuhnya kekhilafahan islam, hijrah ke habasyah dan sebagainya.
Isra’ mikraj bukan hanya sekadar momentum spiritual saja, tetapi gerbang menuju perubahan politik umat islam secara ideologis. Sebab, setelah piristiwa isra mikraj, dakwa rasulullah berubah menjadi dakwa secara terang terangan untuk mengatasi masa kejahiliaan kaum Qurais di Makkah.
Selain itu, bulan rajab tidak bisa di pisahkan dari pembebasan tanah syam, yakni palestina. Al-Aqsa menjadi kiblat pertama umat islam. Namun saat ini Palestina masih mengalami penjajahan yang dilakukan Israel laknatullah.
Dikutip dari metrotvnews (9/01/2026), setidaknya 15 warga Palestina, termasuk lima anak-anak, tewas dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza sejak Kamis 8 Januari 2026 pagi waktu setempat, meskipun ada perjanjian gencatan senjata, menurut kantor berita resmi Palestina, WAFA.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, meskipun gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober, pelanggaran Israel terus berlanjut, dengan 425 warga Palestina tewas dan 1.206 luka-luka akibat pelanggaran tersebut.
Mata umat islam tidak boleh terlepas dari tanah Palestina. Mereka merupakan saudara seakidah dan termasuk tanah umat islam yang harus di perjuangkan untuk dipertahankan di tangan umat Islam. Maka di bulan rajab ini, jangan hanya di sekadar sebuah momentum spiritual saja tetapi dijadikan refleksi diri untuk melakukan perubahan ideologis.
Mungkin diantara kalian bertanya-tanya, mengapa palestina ini masih terus berkonflik? Sudah berpuluh- puluh tahun tidak pernah terselesaikan.
Jika di telusuri akar masalahnya, ini akibat umat islam tidak memiliki persatuan dan hilangnya perisai mereka yakni Daulah Islam. Pasca runtuhnya Daulah Islam, selama 105 tahun umat Islam tidak bisa menerapkan syariat Islam secara kaffah di seluruh penjuru bumi. Umat islam di sekat-sekat batas nasionalisme sehingga mereka tidak memiliki sebuah persatuan yang saling melindungi antara satu dengan yang lainnya.
Sebahagian umat islam masih belum menyadari bahwa diterapkannya sistem sekuler demokrasi secara global menjadikan kehidupan mereka mendapatkan penderitaan yang bertubi-tubi, baik dari kesejahteraan, keamanan, keadilan dan sebagainya.
Sistem sekuler demokrasi membuat kerusakan di atas bumi ini seperti angka korupsi setiap tahun naik, hukum tupul ke atas lancip ke bawah, angka kemiskinan setiap tahun meningkat, biaya Pendidikan dan kesehatan mahal dan masih banyak lagi.
Tanpa daulah islam, negeri-negeri islam dipimpin oleh penguasa boneka barat yang hanya menguntungkan barat saja. Mereka hanya mementingkan penjajah kafir dibandingkan rakyatnya sendiri. Mereka bertindak represif untuk membungkam aspirasi rakyat yang mengkritik kebijakan mereka dan orang-orang yang menyuarakan untuk kembali kepada islam secara kaffah. Sementara tuan-tuan mereka dibiarkan mengkeruk kekayaan alam negerinya untuk kepentingannya sendiri.
Runtuhnya Daulah Islam 105 tahun yang lalu adalah bencana besar bagi umat Islam. Setelahnya, dunia menderita di bawah kepemimpinan kapitalisme global. Maka menegakkan kembali kepemimpinan Islam atas dunia menjadi urgen untuk diperjuangkan.
Dengan memperingati Rajab dan Isra’ Mi’raj, menjadikan umat islam untuk bermuhasabah untuk kembali menerapkan syariat islam secara kaffah dan mecampakkan hukum-hukum sekuler kapitalisme buatan akal manusia.
Selain itu, umat Islam harus terus-menerus menyerukan kepada tentara muslim untuk melakukan pembebasan di Palestina dan menegakkan kembali Daulah Islam. Ketika Umat Islam di seluruh dunia telah bersatu, maka Umat Islam bakal mampu mengalahkan kekejaman barat atas saudara mereka yang mengalami penjajahan. Maka dibutuhkan kepemimpinan islam dalam menyelesaikan problematika saat ini.
Rasulullah saw. bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Artinya bahwa orientasi kekuasaan dalam Islam sudah jelas, yakni mengurus rakyat berdasarkan syariah. Bukan untuk mengurus kepentingan partai, kelompok atau oligarki. (*)
Wallahu a’lam bishawab.
Penulis:
Nur Ana
(Aktivis Muslimah)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.













