OPINI—Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menyesalkan kasus kekerasan seksual yang dialami oleh siswi taman kanak-kanak (TK) berusia 5 tahun di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur yang para pelakunya masih berusia anak anak (kemenpppa.go.id).
Pun dibalik Itu Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan sebanyak 4.683 aduan masuk ke pengaduan sepanjang 2022 kemarin. Nyaris dari lima ribu pengaduan itu bersumber dari pengaduan langsung, pengaduan tidak langsung (surat dan email), daring dan media massa (republika.co.id).
Khalayak ramai digempuri dengan kasus kasus kekerasan yang sudah tak pandang bulu lagi, anak anak yang seyogianya belum kenal dengan baik buruknya sesuatu malah jadi pelakon dibalik tindak kriminal.
Alih-alih segala upaya yang diberikan Pemerintah terkait perlindungan anak nyaris tak membuahkan hasil dengan melihat fakta dari data yang menunjukkan semakin tingginya tingkat kekerasan pada anak.
Melirik peristiwa ini tak mungkin terjadi tanpa adanya sebab hingga terus menimbulkan aksi yang memprihantinkan. Menurut Dr. Arum Harjati (pengamat masalah perempuan, anak, dan generasi) Menurutnya ada banyak faktor yang berpengaruh dan saling terkait.
Pola Pengasuhan
Anak mendapatkan didikan dari lingkungan kelurganya yang merupakan tempat menimpah ilmu pertama mereka, perhatian orang tua kepada mereka akan memberikan efek pada perilakunya.
Pengasuhan yang tepat membutuhkan ilmu terkait ini. Faktanya, kurikulum pendididkan hari ini tak memberi bekal yang cukup untuk menjadi orang tua, justru hanya berorientasi menjadikan para pendidik sebagai tenaga kerja.
Hal ini dibarengi dengan maraknya kampanye kesetaraan gender. Alhasil, calon Ibu justru didorong menjadi pekerja daripada mempersiapakan calon Ibu yang cerdik dan Intelek yang dapat memberi nuansa mengarahkan generasi ke arah perubahan yang hakiki.
Beginilah arus kehidupan dibawah sistem kapitalime yang hanya berorientasi pada asas materi apapun dilakukan demi mencapai keinginan. Tanpa disadari hal tersebut membuat kelalaian yang seharusnya menjadi acuan utama diabaikan. Anak anak yang seharusnya menjadi prioritas malah terkesan diabaikan. Mereka seharusnya mendapatkan perlindungan dan keamanan malah mendapatkan getahnya.













