MAKASSAR – Ketua DPD Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji & Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua) H Ardiyansyah Arsyad mengatakan Biaya pelaksanaan umrah ditengah pandemi covid-19 mengalami kenaikan sekitar 50 persen.

“Jadi kalau biaya umrah selama pandemi covid-19 sekitar Rp 38 juta sampai Rp 40 juta mengalami kenaikan sekitar 50 persen karena berbagai aturan yang harus diikuti sesuai protokol kesehatan,”Ungkapnya.Kamis 26 November 2020.

Ia menyebutkan beberapa hal yang membuat biaya umrah naik diantaranya kamar yang biasanya diisi empat orang diisi dua orang untuk penerapan pshisical distancing,jumlah orang didalam bus,biaya pcr serta lainnya.

“Semuanya harus mengikuti protokol kesehatan seperti jumlah orang dalam kamar harus dua orang,jumlah penumpang dibus,biaya visa,pcr,serta lainnya,”Sebutnya.

Ardiyansyah Arsyad juga Mengaku beberapa regulasi dari arabsaudi masih terus berubah-ubah selama pandemi covid.

“Seperti keberangkatan jamaah pada tanggal 1 dan 3 november lalu,kalau misalnya berangkat dalam satu grup misalnya 200 orang kemudian di sana ada yang terpapar atau positif maka semuanya wajib dikarantina,sementara pada tanggal 22 november lalu regulasi berubah lagi,apa bila ada yang positif maka yang positif saja yang dikarantina sementara lainnya tetap melaksanakan ibadah umrah,”Ucapnya.

Lebih jauh ia Mengaku pihak travel harus menjelaskan secara jelas terkait kondisi regulasi yang cepat berubah kepada calon jamaahnya.

“Harus dijelaskan secara terinci kepada calon jamaah umrah terkait regulasi yang cepat berubah selama pandemi covid sehingga mereka paham dan mengerti,”Pungkasnya.

Ketua DPD Amphuri wilayah sulampua menambahkan hingga saat ini tidak semua travel berani menerim calon jamaah umrah.

“Kuota umrah untuk negara asia sekitar 1.000 orang,dan saat ini sangat terbatas travel yang menerima calon jamaah umrah,”Tutupnya. [*]