MAKASSAR—Tong Tong Fair yang merupakan festival budaya Indonesia tahunan terbesar di dunia yang dihelat di Belanda sejak tahun 1959 sukses dilaksanakan dan mendatangkan impect positif bagi Kota Makassar.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Makassar, A. Herfida Attas menceritakan pada pembukaan Tong Tong Fair bisa dikatakan adalah Makassar Day, karena pada pembukaan tim kesenian dari kota Makassar yang mengantar para tamu VIP, Duta Besar dan Wali Kota Denmark.
“Pada pembukaan hampir dikatakan itu adalah Makassar day, karena tim kesenian dari kota Makassar yang mengantar para tamu VIP, dubes, Wali Kota Denmark untuk keliling di dalam pameran,” ucap A. Herfida Attas saat di temui di kantornya, Jalan Balaikota, Senin (15/9/2023).
Menurut Herfida, Tim Pemkot Makassar berangkat bersama 11 orang tim kesenian dari Sanggar Yayasan Anging Mammiri (Yama).
Dipilihnya Yama menurut Herfida, karena Yama merupakan salah satu sanggar yang sudah terbiasa tampil di internasional.
“Makassar banyak sanggar, tapi yang taraf internasional baru dua, Yama dan Batara Gowa. Batara Gowa tahun lalu ke Rumania,” jelas Herfida.
Selain tim kesenian di festival yang merupakan sarana digunakan untuk pengobat rindu bagi orang Indonesia yang tinggal di Belanda dan sudah bejalan selama 63 tahun ini, juga dilaksanakan pameran UMKM, beberapa produk yang sudah terkurasi laris manis karena pengunjung sangat banyak.
“Di Tong Tong Fair, kita tampil tanggal 31 Agustus, 1 September dan tampil lagi tanggal 2,3,4 kemudian 5 September kembal ke Makassar. Selain dari tim kesenian kita juga ada pameran UMKM, beberapa produk yang sudah terkurasi, laris manis, pengunjung sangat banyak,” tutur Herfida.
lebih lanjut Herfida menjelaskan, tanggal 2 September, tim Pemkot Makassar diterima KBRI, dubes dan jajaran, juga hadir KKSS Belanda.
“Kita hadir dengan menyajikan coto makassar sebagai branding Makassar kota makan enak. kata dubes baru pertama kali ada delegasi yang datang yang menyajikan makanan kepada KBRI dan Alhamdulilah bagus sekali. Ada kita sajikan tampilan kesenian tarian dan kita berikan souvenir satu pasang gendang Makassar,” urainya.
Antusias orang indonesia apalagi orang Makassar yang banyak di Belanda sangat tinggi, bahkan saat itu Makassar paling menonjol selama tong tong berlangsung.
“Lebih menariknya perjalanan kita, karena sudah kita sajikan Coto, ada satu pengusaha dari toraja yang domisili di Denmark akan buat resto Coto dengan nama Rezeki Makassar, jadi tahun depan kalau ke Tong Tong Fair tidak usah lagi bawa Coto. Kerjasamanya akan beli bumbu coto yang kami tawarkan. Produk lainnya seperti bumbu coto, ada sambel, kopi, bahkan sampai baju bodo, lontara, Sutra, laku di sana. paling laku bumbu coto,” tuturnya.
Herfida menegaskan, bahwa misi utama ikut serta dalam Tong Tong Fair adalah investasi dan berhasil akan hadirkan Rumah Makan Coto di Belanda melalui orang Toraja yang punya usaha resto ke lima di Belanda.
“Harapan dari Misi budaya ke Belanda. Kita harus selalu perlihatkan bagaimana budaya kita, bukan hanya tourism yang dibawa kesini tapi ketika kita hadirkan budaya kita di festival luar negeri maka kita akan dikenal, Makassar kota dunia. Bukan baru kali ini kita bawa delegasi tim kesenian, tahun lalu kita dengan Australia di Sidney, di situ pertama kali adanya panggung yang menyatukan kesenian Makassar dan Aborigin,” pungkasnya. (*/4dv)













