Sulsel

Silaturahmi Kebangsaan LDII dan Kodam XIV Hasanuddin

MAKASSAR – Ancaman faktual yang Indonesia hadapi saat ini adalah perang proksi, perang siber, perang hibrida, perang informasi, dan perang asimentris. Perang tersebut tidak menggunakan senjata konvensional untuk merebut suatu wilayah, akan tetapi menggunakan teknologi, informasi, media, dan narkoba. Perang proksi, dalam hal ini menghindari konfrontasi secara langsung. Sehubungan dengan hal itu, TNI dan rakyat sepatutnya saling bersinergi menghadapi berbagai ancaman ini.

TNI sebagai komponen utama melaksanakan tugas-tugas pertahanan negara. Adapun ormas sebagai bagian dari rakyat berperan sebagai komponen cadangan untuk membantu tugas-tugas TNI dalam menjaga keutuhan NKRI. Demikian mengemuka dalam Silaturahmi Kebangsaan antara Kodam XIV Hasanuddin dengan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan di Baruga Syekh Yusuf, Markas Kodam XIV Hasanuddin, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (27/9/2017).

Dalam silaturahim tersebut, antara lain hadir Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Agus Surya Bakti, Ketua LDII Sulawesi Selatan Hidayat Nahwi Rasul, Sekretaris LDII Sulawesi Selatan Asdar Mattiro, Ketua LDII se-Sulawesi Selatan, Ketua PC/PAC LDII se-Kota Makassar, aster, asintel, dan staf ahli Pangdam XIV Hasanuddin.

Ketua LDII Sulawesi Selatan Hidayat Nahwi Rasul menguraikan, sebagai penduduk mayoritas di Indonesia, umat Islam didorong dapat mengejawantahkan Islam yang rahmatan lil alamin. LDII, tutur Hidayat, mendorong peningkatan kualitas umat. Bahwa Indonesia adalah negara besar yang memiliki kekayaan geografis. Semua itu untuk masa depan bangsa ini dalam rangka mencapai cita-cita konstitusi. “Sebab itu, kita perlu menyamakan persepsi perihal penguatan umat Islam yang mayoritas agar berkualitas,” ujar pakar telematika ini.

Perihal Islam dan kebangsaan, organisasi kemasyarakatan (ormas) memiliki tugas mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin. Oleh karena itu, sisi keumatan dan kebangsaan ini perlu didorong dialektikanya. “Agar umat Islam bisa memperkuat sisi kebangsaan. Bersamaan dengan itu, umat Islam memberi kontribusi yang positif terhadap bangsa ini. Itu semua menjadi latar belakang mengapa kita menghadiri pertemuan dengan panglima saat ini,” tutur Hidayat.

Sebagai negara majemuk, Indonesia perlu merawat dua hal, yaitu merawat sisi kebangsaan dan sisi keumatan. “Dialektika antara sisi kebangsaan dan keumatan ini harus kita rawat bersama. Silaturahim kebangsaan ini adalah sebuah wujud kerja nyata bagaimana mendekatkan TNI dengan rakyat,” terang Hidayat yang juga anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan ini.

Menurut pandangan LDII, TNI adalah jangkar pemersatu bangsa. Oleh karena itu, kata Hidayat, LDII memerlukan arahan Panglima Kodam XIV Hasanuddin perihal situasi saat ini agar rakyat bisa tetap bersatu dan punya wawasan yang baik tentang kebangsaan maupun wawasan keumatan. “Dua wawasan ini perlu dimiliki oleh pengurus DPW LDII Sulawesi Selatan. Termasuk oleh semua mubalig LDII yang ada di pelosok, sehingga kita mengawal dakwah yang sejuk, kontributif, dan merekatkan bangsa ditengah-tengah kemajemukan. Semoga arahan Pangdam bisa memperkukuh persepsi ktia tentang keumatan dan kebangsaan,” sebut Hidayat.

Silaturahim kebangsaan ini dinilai penting untuk mendapatkan materi dari Pangdam XIV Hasanuddin terkait modul proksi war yang berkembang saat ini. LDII bekerjasama dengan TNI, kata Hidayat, dalam hal memperluas wawasan kebangsaan. “Tentu kita bekerjasama dengan TNI untuk memberi wawasan tentang NKRI kepada masyarakat. Terutama dari perspektif keagamaan. Inilah posisi penting LDII dan TNI dalam rangka merawat kemajemukan,” papar Hidayat.

Di tempat yang sama, Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Agus Surya Bakti mengemukakan, efek globalisasi adalah terjadinya dinamika demokratisasi, hukum, dan HAM. “Disatu sisi, globalisasi membuka ruang komunikasi antara satu negara dengan negara lain. Namun, disisi lain juga membuka konflik global yang berujung pada penguasaan terhadap wilayah yang mempunyai energi, pangan, dan air,” ujar jenderal bintang dua ini.

Lebih jauh, akhir-akhir ini Islam dicitrakan negatif oleh kelompok-kelompok tertentu. Selama ini, Islam dikaitan dengan kekerasan, bom, dan hal-hal yang menakutkan. “Gambarannya adalah kekerasan. Kita tidak bisa mengelak karena faktanya demikian. Padahal, Islam adalah agama yang cinta kedamaian, toleransi, hormat-menghormati, dan membawa rahmatan lil alamin,” ungkap Jenderal Agus di hadapan 70 orang pengurus LDII se-Sulawesi Selatan.

Ajaran Islam hakikatnya membawa kedamaian bagi semua, termasuk dalam perspektif kehidupan berbangsa dan bernegara. “Saya ingin menitip, bawalah Islam pada jalan yang benar, yaitu ajaran yang damai dan rahmatan lil alamin,” paparnya.

Pihaknya berharap, LDII memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait kehidupan berbangsa dan bernegara dalam perspektif Islam. “Mari kita ajarkan Islam yang damai, Kehadiran seorang muslim di suatu tempat akan memberi sebuah kesejukan,” ungkap jenderal berlatarbelakang Kopassus ini.

Pertemuan antara Kodam XIV dan LDII Sulawesi Selatan, kata Jenderal Agus, dinilai strategis. “Kita berharap LDII Sulawesi Selatan yang sudah jelas komitmennya pada nasionalisme, bisa bekerjasama dengan anak buah saya untuk menjaga Indonesia. Dihadapan saya banyak dai-dai muda yang bisa bekerjasama dengan dandim,” jelasnya.

Tugas pokok TNI adalah menjaga Indonesia dari Sabang sampai Merauke. LDII menjadi mitra TNI terkait tugas-tugas TNI. “Saya harap LDII membuat sebuah pendekatan yang sejalan dengan pembinaan teritorial, mulai dari babinsa, kodim, korem, sampai kodam,” ujar Jenderal Agus. [*]

Komentar Anda

Komentar Anda

Popular

Ke Atas