Beranda » Opini » Stop “Menggoreng” Isu Radikalisme!
Stop “Menggoreng” Isu Radikalisme!
Opini

Stop “Menggoreng” Isu Radikalisme!

Meributkan radikalisme tidak akan membuat pertumbuhan ekonomi meningkat. Kenapa pemerintah tidak fokus saja dengan isu BPJS yang meroket?

OPINI – Radikalisme menjadi gorengan paling menarik hari ini di tengah suasana kabinet baru Jokowi. Isu Radikalisme dianggap sangat berbahaya bagi keuntuhan NKRI, dapat memecah belah masyarakat, bahkan menghancurkan negara.

Oleh karena itu, siapa saja yang berpotensi berpaham radikalisme akan disasar. Paham berbahaya ini harus segera ditindaklanjuti dan para menteri yang telah ditugaskan harus bekerja untuk membasmi.

Pertanyaannya, sejauh mana radikalisme mengancam negeri tercinta kalau definisinya saja masih simpang-siur?

Menilik arti radikalisme yang berasal dari bahasa latin yang berarti akar (roots). Menurut KBBI radikal berarti “secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip)”, “amat keras menuntut perubahan”, dan “maju dalam berpikir atau bertindak”.

Kalau mau jujur, istilah radikal bersifat netral hanya saja kenetralan inilah yang digunakan secara sepihak untuk menyerang.

Mereka saja yang menggemborkan istilah radikalisme tidak menetapkan definisi jelas, hanya menjurus pada satu kelompok yaitu mereka yang sedang berjuang menerapkan Islam secara sempurna dalam tataran kehidupan bernegara, atau mereka yang telah menggoyahkan kepentingan ideologi barat.

Isu Radikalisme terus digoreng, rezim turut andil dalam mematangkan gorengan ini agar laris di pasaran.

Sebut saja soal cadar dan celana cingkrang yang ikut terseret, penyeruan berdoa di masjid menggunakan bahasa Indonesia, konten ceramah yang tidak boleh politis, pelarangan materi jihad dalam pembelajaran, dan seterusnya. Satu titik kesimpulan, mengarah pada Islam.

Heran, kenapa mereka terlalu panik bila umat mendekat ke agamanya, bukankah ini lebih bagus? Ini berarti tugas mereka berkurang tapi sebaliknya, kenapa harus membidik mereka?

Soal cadar dan celana cingkrang, seberapa merisihkannya pakaian ini, lah, para aktor kenamaan saja mengenakan.

Lihat, Justin Biber yang mengenakan celana cingkrang model cropped pants, Rapper Jaden Smith dengan celana cingkrang oversized, Lee Min Hoo, Choi Siwon Super Junior, hingga Michael Jackon King of Pop didapuk sebagai orang yang memperkenalkan tren ini. Apakah mereka yang melarang kurang piknik?

Lain celana cingkrang, lain cadar, jenggot pula, maklum semuanya ciri-ciri teroris. Tapi, apa iya segenting itu radikalisme membahayakan negara?

Atau ini hanya sebagai alat untuk menutupi kelalaian penguasan dalam menyelesaikan persoalan negeri yang bertumpuk-tumpuk?

Kenapa mereka yang menunjukkan cintanya kepada Indonesia harus dihentikan? Kenapa mereka yang memberikan solusi terbaik bagi negerinya dipermasalahkan?

Salahkah bila Islam dijadikan solusi atas segala persoalan mengingat ideologi kapitalisme gagal menyelesaikannya? Apakah Islam agama yang mencintai kekerasan?

Tentu tidak, lantas bagaimana dengan mereka yang menimbulkan konflik di Wamena sampai-sampai memakan korban?

Gerakan OPM yang jelas-jelas mengibarkan Bintang Kejora diabaikan, sementara pengibaran bendera al-Liwa dan Ar-royah bertuliskan kalimat tauhid dipusingi bahkan dibakar.

Katanya undang-undang yang ada tidak mampu menjangkau Papua memangnya Papua bukan bagian Indonesia sehingga undang-undang negara ini seolah tidak berlaku di sana?

Meributkan radikalisme tidak akan membuat pertumbuhan ekonomi meningkat. Kenapa pemerintah tidak fokus saja dengan isu BPJS yang meroket?

Atau isu korupsi, bagaimana kalau pemerintah fokus menangkapi para koruptor, bekerja menarik semua sumber daya alam dari tangan asing-aseng, ini jelas jauh lebih membahayakan dan menyengsarakan rakyat.

Negara hadir demi melindungi bangsa bukan menyengsarakan sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945 pada alenia ke-4;

“Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpa darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Tapi bila melihat realitas hari ini tampaknya negara gagal dalam melindungi bangsanya. Penguasa gagal menjadi superhero bagi rakyatnya tetapi hanya menjadi superhero bagi pemilik kepentingan.

Biarkan rakyat menangis asal para kapital di permukaan tetap eksis. Dalam sistem kapitalisme-sekuler tujuan negara bisa sebatas bunga-bunga yang ditabur, indah dipandang namun rusak dan menyimpan racun mematikan.

Oleh karena itu, menjadikan Islam sebagai solusi dan pemutus segala persoalan bangsa bisa menjadi pilihan terbaik.

Islam hadir dengan seperangkat sistem dan aturannya yang tegas tanpa pandang bulu atau tanpa pandang kepentingan kapital.

Kesejahteraan umat nomor satu. Jangan harap uang dapat mengubah keputusan syariat. Jangan bermimpi kekayaan bisa mengubah aturan yang telah ditetapkan pemilik syariat.

Bila benar penguasa bekerja untuk umat maka seharusnya mereka sibuk berpikir untuk mengeluarkan umat dari keterpurukannya, tidak sekadar menyibukkan diri dengan menusuk saudara sendiri.

Memusuhi Islam dengan narasi-narasi buruk. Hentikan menggoreng isu radikalisme dan tetap fokus pada musuh yang sebenarnya. (*)

*Khaeriyah Nasruddin, penulis buku Risalah Kunang-kunang. Aktif dalam forum lingkar pena ranting UIN Alauddin Makassar.