Beranda » Politik » Survei SMRC: Jokowi Ungguli Prabowo di daerah ini
Politik

Survei SMRC: Jokowi Ungguli Prabowo di daerah ini

JAKARTA — SMRC melakukan jajak pendapat secara bertahap di Jawa Barat pada 22 Mei-1 Juni, Jawa Tengah pada 23-30 Mei, dan Jawa Timur pada 21-29 Mei. Populasi survei adalah warga Indonesia di ketiga provinsi itu yang sudah memiliki hak pilih, yakni berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Jumlah responden di masing-masing provinsi berjumlah 820 orang.

Peneliti SMRC Sirojudin Abbas mengatakan jika pemilihan presiden dilakukan saat survei dilaksanakan, Jokowi unggul atas Prabowo di ketiga lokasi tersebut.

“Ada efek yang jelas antara elektabilitas pilkada pada pilpres. Bila pemilihan diadakan saat ini di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, memang Jokowi sudah unggul dari calon-calon lain yang mungkin maju. Termasuk bila dilakukan simulasi saling berhadapan antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo,” kata Sirojudin.

Abbas mengatakan dalam simulasi dua nama di Jawa Barat, Jokowi mendapatkan dukungan 48,3 persen. Sedangkan Prabowo meraih 37,8 persen. Sementara di Jawa Tengah, Jokowi sangat dominan dengan dukungan 73,5 persen, di atas Prabowo yang mendapat dukungan 16,7 persen. Di Jawa Timur, Jokowi mendapat dukungan 58,8 persen dan Prabowo 29,6 persen.

Sirojudin mengatakan keunggulan Jokowi di Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak begitu mengejutkan. Sebab, sejak pilpres 2014 lalu, Jokowi memang unggul dalam survei di dua daerah tersebut.

SMRC secara khusus menyoroti hasil di Jawa Barat karena dalam pilpres 2014 lalu, Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla kalah dari pasangan Prabowo-Hatta Rajasa di provinsi yang paling banyak penduduknya itu. Jokowi-JK saat itu mendapat 40,22 persen, sementara Prabowo-Hatta 59,78 persen. Naikknya elektabilitas Jokowi dalam survei di Jawa Barat kali ini ditengarai karena meningkatnya kepuasan publik atas kinerja Jokowi.

Namun demikian Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya, Ferry Juliantono menyatakan partainya tetap yakin tingkat keterpilihan Jokowi akan terus turun menjelang pemilihan presiden.

“Saya tetap berpegang dan berpedoman terhadap hasil lembaga media survei nasional yang menjelaskan elektabilitas pak Jokowi 36 persen. Kenapa saya lebih mengambil referensi lembaga survei ini, karena lebih mendekatkan kepada realitas yang ada,” kata Ferry.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Maruarar Sirait, mengatakan gembira melihat hasil survei SMRC tersebut karena partainya terus menunjukkan kecenderungan positif dalam beberapa survei.

“Jadi itu yang memang kita jaga. Jangan pas disurvei trennya naik, pas pemilu trennya turun. Soal bagaimana menjaga tren itu harus tepat karena tentu jauh lebih berarti angka ini pada saat pemilu,” tandas Maruarar.

Menurut Sirojudin, ketika diajukan pertanyaan siapa calon gubernur Jawa Barat pilihan Anda, responden paling banyak memilih Wali Kota Bandung Muhammad Ridwan Kamil.

“Pertanyaan diberikan tanpa mengajukan daftar nama dan dijawab secara spontan oleh pemilih, Muhammad Ridwan Kamil memperoleh 19,3 persen, Berikutnya ada Deddy Mizwar (9,8 persen), Pak Sudrajat (2,2 persen)Pak Hasanuddin (1,9 persen) Deddy Mulyadi (1,4 persen), Pak Syaikhu (1,1 persen). 63,1 persen lagi masih mengambang, belum tahu siapa yang akan mereka pilih,” ungkap Sirojudin.

Dari simulasi menggunakan surat suara, lanjut Sirojudin, Ridwan Kamil meraup 43,1 persen pemilih Jawa Barat. Disusul Deddy Mizwar dan Deddy Mulyadi sama-sama memperoleh 34,1 persen, serta Sudrajat dengan 7,9 persen dukungan. Sedangkan 8,4 persen masih merahasiakan pilihannya. Selain itu masih ada sekitar 30 persen pemilih yang dapat mengubah dukungannya.

Lebih lanjut Sirojudin menyatakan pilihan partai tidak selalu paralel dengan pilihan pemilih terhadap calon kepala daerah. Dia mencontohkan 45 persen pemilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mendukung Ridwan Kamil-Uu dan 30 persennya menyokong Deddy Mizwar-Deddy Mulyadi. Sedangkan yang memilih Tubagus Hasanudin, calon gubernur dari PDIP hanya 17 persen.

Untuk Jawa Tengah, ketika ditanya pilihan calon gubernur, menurut Sirojudin, 39,4 persen memilih pasangan Ganjar Pranowo, diikuti Sudirman Said (7,2 persen). Sedangkan 50,6 persen masih pemilih masih mengambang atau merahasiakan pilihannya.

Ketika digunakan simulasi suara, lanjut Sirojudin, Ganjar meraup 70,1 persen suara dan Sudirman Said (22.6 persen). Sedangkan pemilih mengambang 7,3 persen. Ditambahkannya, 32 persen pmilihan masih mungkin mengubah dukungan.

Menurut Sirojudin, sebanyak 80 persen pemilih PDIP dan PPP mendukung pasangan Ganjar-Taj Yasin serta hanya 17 persen yang menyokong pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah.

Untuk pemilihan gubernur di Jawa Timur, kata Sirojudin, Khofifah Indar Parawansa meraih 31,2 persen dukungan ketika responden ditanya siapa calon gubernur akan dipilih. Pertanyaan disampaikan tanpa mengajukan daftar nama kandidat. Posisi kedua adalah Saifullah Yusuf dengan 26,5 persen suara. Sedangkan 38,5 persen pemilih masih belum bisa menentukan pilihannya.

Ketika dilakukan simulasi menggunakan kertas suara, Khofifah mendapat 48,5 persen suara dan Saifullah 40,5 persen. Sedangkan suara mengambang sebesar sepuluh persen. Sirojudin menambahkan masih ada 29 persen pemilih di Jawa Timur masih dapat mengubah dukungannya. [voa/4ld]