OPINI—Kenduri Sko merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Diadakan setiap lima tahun sekali, upacara adat ini memiliki makna penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kenduri Sko menjadi momentum untuk mensyukuri hasil panen, mempererat tali kekeluargaan, menjaga warisan budaya, serta melakukan pengukuhan gelar adat.
Selain itu, dalam rangkaian Kenduri Sko terdapat ritual unik yang disebut Nuham Pnandan, yaitu upacara pembersihan benda pusaka. Tradisi ini menggambarkan penghormatan mendalam terhadap warisan leluhur yang memiliki nilai spiritual, historis, dan simbolis tinggi.
Nuham Pnandan: Pembersihan Benda Pusaka Sebelum Kenduri Sko
Nuham Pnandan, atau ritual membersihkan benda pusaka, biasanya dilakukan di rumah gedang (rumah adat) sebelum puncak acara Kenduri Sko. Contohnya, di Desa Belui, Kecamatan Depati VII, Jambi, acara ini diadakan di Rumah Gedang Kalbu. Masyarakat berkumpul untuk melaksanakan upacara yang penuh makna ini.
Ritual diawali dengan anak betino (perempuan adat) menyampaikan maksud upacara kepada anak jantan (laki-laki adat) dan pemangku adat. Setelah mendapat persetujuan, prosesi dimulai dengan menyiapkan sesajian, seperti:
- Kemenyan yang dibakar,
- Pisang, lempuk, beberapa jenis kembang, dan daun sirih,
- Seekor ayam yang telah dibersihkan,
- Air yang dicampur jeruk nipis, jeruk kunci, jeruk kapas, serta dedaunan dan bunga-bunga.
Tangga khusus digunakan untuk naik ke loteng, tempat benda pusaka disimpan. Proses penurunan dilakukan dengan hati-hati, menggunakan kain panjang untuk menggendong pusaka satu per satu. Sesampainya di bawah, benda-benda pusaka dibersihkan dengan air yang telah disiapkan, lalu dikeringkan sebelum dikembalikan ke tempatnya semula.
Benda Pusaka: Simbol Identitas dan Spiritualitas
Beragam benda pusaka diturunkan dalam upacara ini, masing-masing memiliki cerita dan fungsi tersendiri. Beberapa di antaranya:
- Tuguk Pati Serap Mato: Tongkat yang melambangkan kewibawaan.
- Keno dan Gong: Alat musik tradisional yang dahulu digunakan untuk mengumpulkan depati.
- Seludap Pina: Simbol kesuburan yang dipercaya membawa keberuntungan bagi pasangan yang belum memiliki keturunan.
- Dulang dan Parup Kayau: Alat dapur tradisional yang digunakan untuk acara besar.
- Bambu Bertulisan Incung: Artefak berisi tulisan kuno yang mengandung doa dan pesan leluhur.
Benda-benda ini disimpan di loteng gelap dan dipercaya dapat menghilang jika tidak dirawat secara rutin melalui upacara seperti Nuham Pnandan.
Makna Spiritual Air Bekas Pembersihan
Air bekas mencuci benda pusaka diyakini memiliki kekuatan spiritual. Para peserta upacara biasanya membawa pulang air ini untuk digunakan mandi. Ritual ini dipercaya melindungi mereka dari gangguan roh leluhur (disapo moyang), yang dapat menyebabkan sakit jika warisan adat tidak dihormati.
Pelestarian Tradisi Sebagai Warisan Budaya
Tradisi Nuham Pnandan dan Kenduri Sko adalah cerminan kekayaan budaya Kerinci. Selain menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, ritual ini memperkuat identitas masyarakat setempat di tengah arus modernisasi. Pelestarian benda pusaka dan tradisi adat seperti ini memerlukan komitmen serius agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tidak punah.
Tradisi ini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Kerinci, tetapi juga aset budaya bangsa yang perlu dijaga bersama. (*)
Penulis: Kamelia Kurniawan (Mahasiswi Universitas Negeri Jambi)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.







