OPINI—Baru-baru ini dunia medis kembali dihebohkan dengan penyakit antraks yang menimpa warga Gunungkidul, Yokyakarta. Antraks adalah penyakit infeksi yang menulari hewan ternak. Manusia juga dapat terinfeksi melalui kontak langsung atau tidak langsung pada spora antraks dengan media menyentuh, menghirup, atau menelan. Penyakit bakteri ini jarang terjadi namun fatal karena dapat menyebabkan kematian.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul menyatakan terdapat 128 orang yang ikut menyembelih dan memakan daging sapi yang terjangkit bakteri antraks, 87 warga diantaranya positif antraks, dan 18 lainnya bergejala.
Diduga penyebab dari penularan antraks di Gunungkidul karena adanya tradisi berandu, yaitu kebiasaan warga lokal sebagai wujud solidaritas dengan menyembelih sapi yang sakit atau mati. Daging dari hewan yang disembelih tersebut, kemudian dibagi-bagikan atau dijual murah, untuk meringankan beban pemilik yang ternaknya mati. (Tvone.news, 13/07/23)
Kasus antraks di Gunungkidul ini bukanlah pertama kali terjadi. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, penyakit antraks yang menimpa hewan ternak di Gunungkidul pernah muncul pada tahun 2019, 2020, 2022, dan Juni 2023.
Sayangnya, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tidak segera menetapkan status kasus tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Fenomena ini justru memperlihatkan kepada kita potret kemiskinan yang terjadi ditengah masyarakat. Rendahnya penanganan dan edukasi dari pemerintah akan kesehatan pangan semakin memperparah kasus ini.
Padahal sangat jelas keharaman mengonsumsi bangkai, dan juga bahaya mengonsumsi bangkai telah banyak dibahas dalam ilmu medis apatalagi bangkai hewan yang berpenyakit tentu sangat dilarang.
Namun kemiskinan justru membutakan masyarakat. Demi memenuhi kebutuhan, mereka rela mengonsumsi makanan yang mengancam kesehatannya.
Seperti inilah fenomena yang terjadi hari ini, dimana penguasa nampak abai terhadap problematika masyarakat dan hanya menjadi regulasi bagi para korporat untuk mengeruk sumber daya ekonomi negara.
Sedangkan rakyat sengaja dicekik dengan kebijakan bahan pokok naik, pendidikan mahal, sulitnya lapangan pekerjaan dan sebagainya yang justru semakin menyuburkan angka kemiskinan ditengah masyarakatnya.
Dilain sisi pandangan hidup manusia yang terbentuk hari ini adalah berstandarkan materi, sehingga melahirkan individu yang rela melakukan apa saja demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Didukung pula masyarakat yang ikut andil secara tidak langsung memberlakukan kejahatan, salah satunya dengan memberlakukan tradisi berandu atas dalih solidaritas.
Dengan demikian terlihat jelas bahwa sistem yang mendasari kehidupan kita hari ini yaitu sistem kapitalisme terbukti tidak mampu mengatasi masalah antraks yang menimpa warga Gunungkidul.
Namun sistem ini justru menjadi cikal bakal lahirnya permasalahan tersebut ditengah masyarakat dengan memperkaya para orang kaya dan memiskinkan para orang miskin.
Padahal sangat jelas bahwa kasus ini membutuhkan penangan secara sistematis untuk mengatasi akar masalahnya yaitu kemiskinan, kesalahan pandangan hidup, dan minimnya edukasi kesehatan pangan ditengah masyarakat. Dan hal tersebutlah yang justru tidak mampu diatasi disistem hari ini.
Berbeda ketika sistem Islam diterapkan. Dimana seluruh aspek kehidupan akan diatur sesuai dengan hukum syara, tidak terkecuali dengan pengharaman memakan bangkai hewan darat. Penetapan hukum ini tidak hanya sampai disitu tetapi juga turut didukung dengan sanksi yang tegas bagi yang mengonsumsi atau yang memperjual belikan makanan tersebut.
Dalam sistem ekonomi Islam juga berstandarkan hukum syara, yang mampu mewujudkan keadilan ekonomi, sehingga harta tidak hanya berputar pada orang kaya saja. Seperti sumber daya alam akan dikelolah secara mandiri oleh negara.
Hasil pengelolaannya disalurkan untuk mensejahterahkan rakyat dengan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, semisal terjaminnya sandang, pangan, papan, pendidikan keamanan, dan kesehatan bagi seluruh rakyatnya.
Dengan demikian rakyat dapat dengan mudah memperoleh makanan yang halal dan toyib, mendapat fasilitas kesehatan pangan, serta mereka teredukasi seputar kesehatan dan kehalalan pangan.
Selain itu pandangan kehidupan disistem ini adalah untuk mencari ridho Allah semata. Sehingga individu dan masyarakat yang lahir dalam sistem ini senantiasa tersuasanakan dengan kehidupan yang islami dan menstandarkan segalanya hanya kepada ridho Allah.
Mereka tidak akan mudah melakukan perbuatan yang mendatangkan murka Allah serta apabila mereka ditimpa musibah seperti hewan ternaknya terjangkit penyakit antraks maka merekapun akan segera mengubur hewan ternaknya dan bersabar dengan ujian tersebut.
Oleh karena itu dalam mengatasi fenomena warga yang mengonsumsi hewan mati atau sakit, dapat diselesaikan dengan diterapkannya sistem Islam secara kaffah diseluruh sendi kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawabin. (*)
Penulis: Nadia Kurnia Insyra
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.











