OPINI—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar mencatat 3 kecamatan yang terdampak banjir yakni Kecamatan Manggala, Biringkanaya, dan Tamalanrea.
Data per 25 Desember pukul 14.00 Wita, banjir masih merendam sejumlah wilayah di Makassar. Terjadi di 15 kelurahan dengan total 1.954 kepala keluarga (KK) atau 6.644 jiwa dan jumlah rumah terendam sebanyak 2.646 unit.
Dilansir dari detik.com (25/12/2022), ada 2 kecamatan yang mengalami banjir cukup parah hingga membuat warga mengungsi. Tercatat ada 609 jiwa yang mengungsi di Kecamatan Manggala dan Biringkanaya. Data ini adalah yang terdampak parah.
Banyak pula daerah yang sulit diakses, baik karena banjir maupun tanah longsor. Belum lagi pohon tumbang akibat hujan dan angin kencang yang terjadi dalam penghujung tahun ini.
Peristiwa berulang terus terjadi di banyak wilayah Indonesia. Dimana akhir tahun identik dengan bencana dimana-mana. Seyogianya menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak, terutama pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas tata kelola negeri ini.
Namun, sepertinya kesalahan terus saja dilakukan. Bahkan dampak banjir di beberapa wilayah makin intensif dan meluas. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Jika ditelisik secara mendalam, akan ditemui beberapa indikator penyebabnya. Pertama, yang paling mendasar adalah asas pembangunan sekularistik.
Tolok ukur perbuatan didasarkan pada pemisahan aturan Ilahi (termasuk pembangunan infrastruktur) membuat manusia bertindak atas dasar hawa nafsu belaka.
Sehingga tindakan apapun yang dilakukan sangat jauh dari nilai ruhiyah. Nilai yang berdasar dari ketakwaan kepada Sang Pencipta. Jika nilai ini tidak dihadirkan dalam semua aktivitas, dipastikan akan menuai petaka. Termasuk hujan ketika mengguyur bumi, akan mendatangkan bencana banjir dan yang lainnya.












