MAKASSAR—Pemprov Sulsel terus melakukan langkah dan terobosan dalam mengendalikan inflasi yang membuat daya beli masyarakat berkurang.
Menurut Kepala Biro Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Provinsi Sulsel, Junaedi pemicu inflasi di Sulsel seputaran cabe, bawang, beras dan telur. “Memang kita di Sulsel yang mendominasi pemicu inflasi seputaran cabe, bawang, beras dan telur,” tuturnya.
“Oleh karena itu, saya kira itu bukan hal yang baru, terkait komuditi pemicu, akan tetapi bapak Gubernur telah melakukan intervensi perkomiditi dengan baik, anggaplah beras kendalikan dengan baik, cabe produksi berbasis rumah tangga, termasuk seluruh ASN diwajibkan menanam cabe hingga di tingkat desa dan kelurahan,” terang Junaedi.
Secara perlahan dengan langkah dan terobosan ini akan mampu mengendalikan inflasi yang terjadi di Sulsel.
“Secara perlahan bisa mengendalikan inflasi karena Pak Gubernur baru dua bulan jalan kebijakan ini dan tentu belum berbuah, tapi kita harap bulan depan masuk natal dan tahun baru cabe yang ditanam ASN dan masyarakat sudah bebuah dan bisa kendalilan inflasi,” tutur Junaedi.
Ia menambahkan dua tahun terakhir Inflasi di Sulsel selalu berada di bawah nasional yang 2,38. “Kalau inflasi di Sulsel dua tahun terakhir ini kita berada di angka 2,33 sementara nasional 2,28, kita lebih rendah dari nasional dan laporan saat ini,” jelasnya.
“Harga cabe paling tinggi di Kabupaten Barru sekitar Rp40 ribu per kilogram, kemudian Gowa Rp35 ribu, sehingga Pemerintah Provinsi Sulsel mencoba mengambil cabe dari sentra produksi untuk di distribusikan ke daerah lain untuk menjaga harga tetap terjaga,” pungkasnya. (*/4dv)













