PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • 24 PC Muslimat NU Dikerahkan Kawal 177.500 Susu untuk Anak Sulsel • 27 Tusukan Akhiri Hidup Istri di Samata, Suami Ditemukan Tewas Bakar Diri • 177.500 Pcs Susu Disalurkan ke Anak di 24 Kabupaten/Kota Sulsel • Makassar Jadi Pilot Project Nasional, 6.032 RT/RW Dikerahkan Kawal Warga Dapat Perlindungan Sosial • Family Gathering di Tanjung Bayang, Jajaran Kelurahan Bitowa Perkuat Kekompakan • Tetra Pak Dorong Hilirisasi Kelapa Indonesia dari Manado • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • 24 PC Muslimat NU Dikerahkan Kawal 177.500 Susu untuk Anak Sulsel • 27 Tusukan Akhiri Hidup Istri di Samata, Suami Ditemukan Tewas Bakar Diri • 177.500 Pcs Susu Disalurkan ke Anak di 24 Kabupaten/Kota Sulsel • Makassar Jadi Pilot Project Nasional, 6.032 RT/RW Dikerahkan Kawal Warga Dapat Perlindungan Sosial • Family Gathering di Tanjung Bayang, Jajaran Kelurahan Bitowa Perkuat Kekompakan • Tetra Pak Dorong Hilirisasi Kelapa Indonesia dari Manado •
Opini

Dari Kampus ke Jerman: Program Magang yang Menjebak Mahasiswa

554
×

Dari Kampus ke Jerman: Program Magang yang Menjebak Mahasiswa

Sebarkan artikel ini
Niswatul Mukminah (Aktivis Muslimah)

OPINI—Ferienjob, istilah dalam bahasa Jerman yang berarti “pekerjaan liburan,” biasanya dirancang untuk mahasiswa yang ingin bekerja selama liburan untuk memperoleh pengalaman kerja dan penghasilan tambahan. Namun, dalam praktiknya, program ini telah disalahgunakan, termasuk terhadap mahasiswa Indonesia.

Laporan dari Tempo.co (20/3) menyebutkan sebanyak 1.047 mahasiswa dari 33 universitas di Indonesia terlibat dalam program Ferienjob di Jerman. Alih-alih mendapatkan pengalaman berharga, mereka menghadapi kondisi kerja yang buruk: lembur tanpa fasilitas transportasi memadai, gaji yang sering terlambat, serta akomodasi yang tidak layak.

Bahkan, beberapa dari mereka dipindahkan ke sektor kerja yang berbeda tanpa persetujuan. Kasus ini kini dalam penyelidikan pihak kepolisian Jerman dan diduga termasuk dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) (DW.com, 04/4).

Ferienjob Bukan Bagian dari MBKM

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menegaskan bahwa program Ferienjob di Jerman tidak termasuk dalam skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Peringatan ini dirilis menyusul penyalahgunaan label MBKM dalam promosi program tersebut. Kemendikbudristek mengimbau perguruan tinggi agar lebih selektif dalam menjalin kerja sama terkait magang internasional.

Dalam rapat dengan Komisi X DPR RI, pemerintah didesak untuk lebih proaktif menangani kasus ini. DPR mengkritik lambatnya respons Kemendikbudristek, meskipun Kedutaan Besar RI di Jerman telah mengeluarkan peringatan sejak Mei 2023 terkait potensi pelanggaran dalam program Ferienjob. Pengawasan terhadap agen perekrutan mahasiswa juga menjadi sorotan.

Eksploitasi Berkedok Magang

Magang sebagai bagian dari program MBKM pada dasarnya bertujuan mempertemukan dunia pendidikan dan dunia kerja. Namun, realitasnya menunjukkan celah yang dimanfaatkan pihak tertentu untuk menekan biaya.

  • Bagi perguruan tinggi, skema magang mengurangi kebutuhan investasi fasilitas belajar seperti laboratorium.
  • Bagi perusahaan, mahasiswa magang adalah tenaga kerja murah yang tidak perlu digaji sesuai standar karyawan tetap.

Hasilnya, mahasiswa sering diperlakukan layaknya pekerja penuh waktu tanpa insentif memadai, bahkan diarahkan ke tugas di luar bidang studi mereka tanpa bimbingan. Kondisi ini mencerminkan sistem kapitalisme, di mana pendidikan diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan pasar, bukan masyarakat.

Implikasi Sistemik

Orientasi pendidikan kapitalistik menjadikan mahasiswa hanya fokus pada materi dan karier pribadi, tanpa memperhatikan kontribusi mereka terhadap masyarakat. Fenomena ini melahirkan lulusan yang tidak mampu menjadi solusi atas persoalan bangsa.

  • Sarjana ekonomi gagal mengatasi kemiskinan.
  • Sarjana gizi tidak mampu mencegah tingginya angka stunting.
  • Pejabat terdidik justru terlibat dalam korupsi dan penyalahgunaan wewenang.

Inikah kualitas generasi yang diharapkan?

Pendidikan dalam Pandangan Islam

Dalam Islam, pendidikan adalah kebutuhan mendasar yang harus dikelola negara untuk kemaslahatan masyarakat, bukan industri. Negara bertanggung jawab menyediakan pendidikan berkualitas yang gratis, dengan kurikulum yang dirancang untuk membentuk manusia berkepribadian Islam dan bermanfaat bagi masyarakat.

1. Fokus pada penelitian berbasis kebutuhan masyarakat.
Penelitian diarahkan untuk mempermudah kehidupan manusia, bukan menciptakan produk konsumtif yang justru memperburuk problem sosial.

2. Pengelolaan pendidikan yang independen.
Mahasiswa diberikan ruang untuk berkembang tanpa intervensi dari pihak berkepentingan.

3. Pembentukan moral Islami.
Pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada ilmu dan keterampilan, tetapi juga pembentukan akhlak mulia.

Dalam naungan sistem Islam, tidak akan ada ilmuwan yang mendukung eksploitasi, menghasilkan produk destruktif, atau abai terhadap masyarakat. Pendidikan diarahkan untuk membentuk problem solver sejati yang siap membangun peradaban yang lebih baik. (*)

Wallahu a’lam bisshawab.

 

Penulis: Niswatul Mukminah (Aktivis Muslimah)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com