GOWA—Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Hasanuddin (Unhas) поколение ke-113 baru-baru ini menggelar kegiatan sosialisasi dan penanaman tanaman refugia di Pondok Pesantren Agrowisata Tahfidzul Qur’an Insan Cendikia, Desa Belapunranga, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Sulsel. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 28 Januari 2025.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan metode pengendalian hama pertanian secara organik kepada para santri dan pembina pesantren, serta meningkatkan kesadaran mereka akan pentingnya pertanian berkelanjutan. Tanaman refugia, seperti bunga matahari dan kemangi, berfungsi sebagai penarik musuh alami hama sehingga mengurangi penggunaan pestisida kimia.
Muhammad Aswad S, penanggung jawab kegiatan ini, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan santri dan pembina pesantren mengenai pertanian organik, khususnya dalam penggunaan tanaman refugia untuk pengendalian hama.
“Kami ingin memperkenalkan cara unik dalam mengendalikan hama tanpa mengandalkan bahan kimia, dan ini juga sejalan dengan visi pondok pesantren yang mengutamakan pertanian organik,” ujarnya.
Proses persiapan kegiatan ini memakan waktu hampir tiga pekan, dimulai dari pemilihan dan pembelian benih, pembuatan media semai dari sampah plastik, pemeraman, penyemaian, hingga pembuatan jalur penanaman.
Setiap tahap dilakukan dengan penuh perhatian untuk memastikan keberhasilan dalam menanam 100 bibit tanaman refugia, yang terdiri dari 50 bibit bunga matahari dan 50 bibit kemangi.
Tak hanya fokus pada pertanian, kegiatan ini juga mengajarkan pengelolaan sampah plastik. Media semai yang digunakan, yang terbuat dari sampah plastik gelas, menjadi contoh nyata tentang bagaimana mengurangi pencemaran lingkungan, sambil memberikan edukasi kepada santri mengenai pentingnya pengolahan sampah dengan memanfaatkan limbah plastik.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari pihak Pondok Pesantren Agrowisata Tahfidzul Qur’an Insan Cendikia. Direktur pesantren, Drs. H. Muh. Thamrin M. Si, bersama pembina dan seluruh santri turut mendukung penuh kegiatan ini. Antusiasme mereka terlihat jelas dalam partisipasi aktif mereka dalam penanaman dan penyuluhan yang berlangsung.
Jalur penanaman tanaman refugia ini tidak hanya berfungsi sebagai pembatas jalan, tetapi juga memberikan sentuhan estetika pada area pondok pesantren, sesuai dengan konsep agrowisata yang diusung oleh pesantren.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan tidak hanya memberi manfaat dalam hal pengendalian hama secara alami, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam memperindah lingkungan pesantren dan menumbuhkan kesadaran ekologis di kalangan generasi muda. Dengan harapan, langkah ini bisa menjadi contoh bagi pesantren lain untuk menerapkan pertanian organik dalam praktik sehari-hari. (Cj/Ag4ys)
Citizen Journalism: Akbar Wijaya (Mahasiswa Agroteknologi Unhas)













