PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Dua Lansia Tewas dalam Kebakaran, TP PKK Toraja Utara Tempuh Jalan Kaki Salurkan Bantuan • Perang Kelompok Kembali Marak, JMSI Sulsel Sentil Polda dan Polrestabes Makassar • Seragam Devile KONI Bone Rp900 Ribu per Set, Anggaran Belum Ada tapi Pengadaan Jalan • 6.472 PPPK Paruh Waktu Makassar Diperpanjang, 135 Pegawai Tak Masuk Usulan • KAHMI Sulsel Mulai Galang Dukungan Pembangunan Graha Hijau Hitam di Talasalapang • Distaru Makassar Sosialisasikan SLF, Tekankan Legalitas dan Keselamatan Bangunan Gedung • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Dua Lansia Tewas dalam Kebakaran, TP PKK Toraja Utara Tempuh Jalan Kaki Salurkan Bantuan • Perang Kelompok Kembali Marak, JMSI Sulsel Sentil Polda dan Polrestabes Makassar • Seragam Devile KONI Bone Rp900 Ribu per Set, Anggaran Belum Ada tapi Pengadaan Jalan • 6.472 PPPK Paruh Waktu Makassar Diperpanjang, 135 Pegawai Tak Masuk Usulan • KAHMI Sulsel Mulai Galang Dukungan Pembangunan Graha Hijau Hitam di Talasalapang • Distaru Makassar Sosialisasikan SLF, Tekankan Legalitas dan Keselamatan Bangunan Gedung •
Opini

Praktik Baik dan Gerakan Kultural KGBN (Refleksi Temu Pendidik Nusantara)

1530
×

Praktik Baik dan Gerakan Kultural KGBN (Refleksi Temu Pendidik Nusantara)

Sebarkan artikel ini
Nurhidayah Mantong (KGBN Kabupaten Pinrang Sulsel)
Nurhidayah Mantong (KGBN Kabupaten Pinrang Sulsel)

OPINI—Setiap komunitas guru memiliki ciri khasnya masing-masing yang memperkaya khazanah pendidikan Indonesia. Salah satu yang kini tumbuh subur di berbagai provinsi adalah Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN). Komunitas ini menandai kehadirannya lewat semangat praktik baik—upaya nyata guru meningkatkan kompetensinya melalui berbagi pengalaman dan refleksi pembelajaran.

Didirikan secara resmi pada tahun 2019, KGBN memulai langkahnya dengan menggali praktik baik dari anggotanya dan menyebarkannya sebagai bentuk kolaborasi antarguru. Melalui gerakan ini, KGBN berupaya mewujudkan semangat Merdeka Belajar yang sesungguhnya: memberi ruang bagi guru dan murid untuk tumbuh sesuai potensinya.

Pendiri KGBN, Najelaa Shihab, pernah berkata dalam sebuah wawancara di Wolipop (Senayan City, Jakarta Pusat, 20 Desember 2019), “Saya senang belajar, bukan senang sekolah.” Kalimat sederhana ini mencerminkan semangat pembebasan berpikir—bahwa belajar tak boleh dibatasi oleh dinding kelas dan halaman buku teks. Prinsip inilah yang menjadi napas KGBN, yang setiap tahunnya memantulkan gagasan “merdeka belajar” dalam ajang tahunan Temu Pendidik Nusantara (TPN).

Perjalanan TPN dan Semangat yang Terus Tumbuh

Sebelum KGBN resmi berdiri, Najelaa telah lebih dahulu menggagas Temu Pendidik Nusantara (TPN) melalui Yayasan Guru Belajar sebagai ruang perjumpaan guru-guru dari seluruh pelosok negeri. TPN pertama digelar tahun 2014 dengan tema “Menjadi Guru.” Tema ini lahir untuk menjawab tantangan implementasi Kurikulum 2013 yang menuntut guru menjadi fasilitator belajar, bukan sekadar penyampai materi.

TPN 2014 berhasil menghadirkan 41.000 pendidik dari 82 daerah, yang berarti lebih dari 1,4 juta murid turut menikmati buah praktik baik tersebut. Pada momen itu pula, UNESCO menganugerahkan Hamdan Prize for Teacher Development 2024, sebagai pengakuan atas kontribusi besar gerakan ini dalam pengembangan kapasitas guru di tingkat global.

Dari tahun ke tahun, TPN terus menampilkan tema yang menggugah kesadaran guru sebagai agen perubahan dan pemimpin pembelajaran. Tahun 2015, tema “Pemimpin Pendidikan Berdaya” mempertegas bahwa guru harus mengenali kekuatan dirinya untuk memimpin pembelajaran dengan reflektif dan adaptif. Tema ini kemudian diangkat kembali pada TPN XI (2024) sebagai penguatan semangat kepemimpinan guru berdaya di era baru pendidikan.

TPN juga tak luput mengingatkan pentingnya memanusiakan hubungan. Tema “Belajar dari Anak” (2017) dan “Memanusiakan Hubungan” (2018) menandaskan bahwa guru perlu membuka diri untuk belajar dari murid—mendengarkan, memahami kebutuhan mereka, dan membangun rasa percaya di ruang kelas. Semangat ini kembali ditegaskan pada TPN VIII (2021) melalui tema “Asesmen untuk Merdeka Belajar.”

Memasuki era digital dan pandemi, TPN menghadirkan tema yang selaras dengan tantangan zaman. “Literasi untuk Menggerakkan Negeri” (2019) dan “Menggali Potensi Diri” (2020) menegaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan juga kesadaran kritis untuk menangkal hoaks dan membangun karakter di ruang maya.

Salah satu tema paling visioner muncul di TPN IX (2022) dengan tajuk “Kurikulum yang Memberdayakan Konteks.” Tema ini jauh sebelum pemerintah mengarusutamakan deep learning atau pembelajaran mendalam, TPN sudah menegaskan pentingnya konteks lokal sebagai akar berpikir kritis dan bermakna bagi murid. Tanpa konteks, belajar menjadi dangkal. Dengan konteks, belajar menjadi reflektif dan menghidupkan.

Pada tahun berikutnya, TPN X (2023) melanjutkan arah ini lewat tema “Tumbuh Berkelanjutan: Perubahan Pendidikan Melampaui Ruang Kelas.” Tema ini mengajak guru berpikir ekologis—bahwa perubahan pendidikan sejati tumbuh dari dalam diri guru dan terus menjalar ke sekitar.

Dan akhirnya, TPN XII (2025) menandai babak baru: “Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim.” Tema ini mengajak guru dan murid berpikir global tentang keberlanjutan bumi. Pembelajaran kini bukan sekadar tentang nilai akademik, tapi tentang kepedulian terhadap lingkungan, air, udara, dan kehidupan.

TPN ini menghadirkan suasana yang lebih luas tentang mendidik murid itu bukan lagi urusan lokal, tapi guru dan murid dilibatkan dalam urusan peduli dengan kondisi global. Artinya peran sekecil apa pun yang dipahami guru dan murid dan dilakukan dengan kesadaran penuh maka yakinlah akan membawa dampak bagi dunia.

Soal bagaimana murid memahami pengelolaan limbah, bagaimana mengelola air, mendukung terciptanya udara bersih, berpartisipasi mewujudkan rasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah dan tempat tinggalnya. Ini tergambar dari tema “Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim”. TPN XII ini seperti berseru memanggil pendidik untuk memakmurkan iklim yang sehat dan dapat terjaga pada masa-masa berikutnya.

Pada ajang Temu Pendidik Nusantara XII, berbagai kategori penghargaan dianugerahkan sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi dan inovasi dalam dunia pendidikan. Ada Rohana Kudus Award yang menyoroti keteladanan perempuan pendidik, Ki Hajar Dewantara Award bagi guru penanam nilai karakter dan kebangsaan, serta Dewi Sartika Award bagi penggerak pembelajaran kreatif berbasis kearifan lokal.

Muhammad Syafei Award ditujukan kepada kepala daerah yang dinilai berkontribusi besar dalam menciptakan kebijakan dan ekosistem pendidikan yang berpihak pada guru dan pembelajaran. Setiap penghargaan bukan sekadar simbol prestise, tetapi jejak nyata dari semangat gotong royong dan cinta yang menumbuhkan Indonesia lewat ruang-ruang belajar.

Guru sebagai Pusat Gerak dan Kolaborasi

TPN bukan sekadar ajang berbagi praktik baik, tapi juga ruang nyata bagi guru untuk melatih kepemimpinan dan kolaborasi. Dalam dua bulan menjelang pelaksanaan, para guru dari seluruh Nusantara bergotong royong menyiapkan acara—mulai dari kampanye digital, desain publikasi, kerja sama dengan pemerintah, UMKM, hingga media.

Di sinilah tampak bahwa guru tidak hanya mendidik, tapi juga mampu menjadi organisator, kreator, dan inovator. Mereka belajar menggunakan berbagai platform digital seperti Canva, Instagram, dan Facebook untuk mendukung kegiatan. Tim kerja dari berbagai provinsi berkolaborasi dalam koordinasi dan refleksi lintas daerah.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di ranah pendidikan, tapi juga di ekonomi lokal. TPN yang menghadirkan ratusan peserta dari berbagai daerah selalu memberi peluang bagi masyarakat sekitar untuk berdagang dan ikut merasakan manfaatnya.

TPN juga menumbuhkan perhatian pemerintah terhadap gerakan pendidikan yang hidup dari akar rumput. Kolaborasi yang terbangun secara bottom-up ini menggambarkan hubungan yang harmonis antara pemerintah dan para pendidik, saling menguatkan dalam semangat perubahan.

Jejak dan Dampak Nyata dari TPN

Pertanyaan yang paling penting dari refleksi TPN adalah: apa hasil dari TPN itu sendiri?

Apakah setelah pulang dari perhelatan besar itu, guru kembali ke kelas hanya dengan semangat sementara, atau justru membawa api yang menyalakan perubahan di sekolahnya?

Mari kita menyimak beberapa kisah inspiratif dari pendidik yang pernah menikmati sajian praktik baik di TPN.

Dari Pinrang, Sulawesi Selatan, ada Wahyuniar, guru yang mengaku bahwa keikutsertaannya di TPN mengubah cara pandangnya terhadap pembelajaran. Ia tak lagi sekadar mengajar materi, melainkan menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid. “Saya belajar dari teman-teman pendidik di seluruh Nusantara bahwa berbagi praktik baik bukan soal siapa yang paling hebat, tapi siapa yang paling berani berubah,”

Sementara dari Yogyakarta, Rina, seorang guru sekolah dasar, pulang dari TPN dengan ide sederhana namun revolusioner: membangun pojok refleksi di kelasnya.

Setiap akhir pekan, murid-murid menuliskan pengalaman belajar mereka di secarik kertas—apa yang menyenangkan, apa yang sulit, dan apa yang bisa diperbaiki. Dari sana tumbuh budaya belajar yang jujur dan empatik, sejalan dengan semangat memanusiakan hubungan yang diusung TPN.

Di sisi lain, Suhardi, guru di Kalimantan Barat, menjadikan hasil pelatihan TPN sebagai dasar membangun komunitas guru kecil di kecamatannya. Ia mengajak teman-teman sejawat untuk meniru praktik baik yang ia pelajari, seperti pembelajaran berbasis proyek dan asesmen formatif yang berpihak pada murid. Kini komunitasnya rutin melakukan pertemuan reflektif setiap bulan.

Dari cerita-cerita itu kita bisa melihat bahwa TPN bukan sekadar acara tahunan, melainkan gerakan kultural yang menumbuhkan kesadaran baru di kalangan pendidik. Kesadaran bahwa belajar tidak berhenti di ruang kelas; bahwa perubahan dimulai dari keberanian seorang guru untuk mencoba hal kecil yang berdampak besar.

TPN bukan panggung untuk menunjukkan siapa yang paling hebat, melainkan ladang subur tempat guru belajar bersama menanam harapan

Dari perjalanan panjang TPN, kita belajar bahwa perubahan pendidikan bukan datang dari kebijakan semata, melainkan dari guru-guru yang terus belajar, berbagi, dan bergerak.

KGBN dan TPN telah membuktikan bahwa praktik baik bukan sekadar slogan, tetapi denyut hidup pendidikan yang berdaya.

Guru yang berdaya akan melahirkan murid yang merdeka.

Dan dari ruang-ruang belajar sederhana, lahirlah bangsa yang berpikir mendalam dan berperasaan luhur. (Dari berbagai sumber)

 

Penulis: Nurhidayah Mantong (KGBN Kabupaten Pinrang Sulsel)

 

 

***

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com