MAKASSAR—Kerinduan dua sahabat lama di dunia kewartawanan melahirkan sebuah karya lagu bertajuk Rindu Sahabat. Lagu ini berawal dari obrolan ringan di WhatsApp, setelah Andi Pasamangi Wawo merilis lagu keduanya berjudul “Ternyata” bulan lalu.
Sahabatnya, Mathin Surya, yang kini berkiprah di ibu kota, tertarik berbincang lebih jauh. Percakapan itu membawa keduanya pada lorong waktu hampir setengah abad silam, saat masih satu kantor di Harian Suratkabar Pos Makassar milik tokoh pers Rahman Arge, yang ketika itu dipimpin Andi Tonra Mahie pada awal 1980-an hingga masa Reformasi.
Di ruang redaksi itulah kebersamaan mereka teruji oleh deadline dan tekanan pekerjaan. Mathin Surya dikenal sebagai pelukis multitalenta yang bertanggung jawab merampungkan layout, karikatur, ilustrasi, sekaligus menjabat Redaktur Pelaksana. Sementara Andi Pasamangi Wawo mengemban amanah sebagai Wakil Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab yang memastikan 12 halaman koran terisi penuh setiap hari.
Tugas wajib yang menuntut kolaborasi itu tak jarang terasa melelahkan. Hari libur dan Minggu kerap tersita demi mengejar tenggat. Namun justru dari tekanan itulah keduanya ditempa menjadi pribadi yang tangguh.
“Kerja di bawah tekanan itulah yang membuat kami bisa eksis sampai kini. Tak mudah rapuh dan cengeng menghadapi kenyataan hidup sepahit apa pun,” kenang Andi.
Lebih dari seperempat abad mereka tak pernah bersua sejak Mathin hijrah ke ibu kota. Media sosial menjadi jembatan pertemuan kembali—berawal dari Facebook, berlanjut ke Messenger dan WhatsApp.
Dalam salah satu percakapan, Mathin menantang sahabat lamanya. Ia bertanya apakah kemampuan Andi dulu mengisi kolom “Seni dan Budaya” yang sering kekurangan naskah masih bisa dilakukan dalam sekejap.
Tepat 15 menit kemudian, Andi menjawab dengan sebuah syair berjudul Rindu Sahabat. Puisi itu kemudian diaransir menjadi lagu ketiganya.
Keduanya sepakat memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk penggarapan musik dan visual. Awalnya lagu direncanakan berirama dangdut, namun akhirnya dipilih tempo slowbeat yang dinilai lebih menyentuh dan merasuk ke sukma.
Lagu ini menjadi simbol persahabatan yang terpisah pulau dan waktu. Sebuah harapan sederhana pun tersemat—dapat kembali bersua di usia senja sebelum takdir memisahkan untuk selamanya. (Ag4ys)













