OPINI—Konferensi Provinsi (Konferprov) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan akan digelar Selasa (2/6/2026) di Graha Pena, markas besar Fajar Grup di Makassar.
Menariknya, kontestasi kali ini kembali menghadirkan dua figur yang sama-sama berasal dari keluarga besar Harian Fajar. Mereka adalah Pemimpin Redaksi Harian Fajar, Amrullah Basri, dan mantan pimpinan Fajar TV, H. Suwardi Thahir.
Fenomena ini seolah mengulang sejarah panjang PWI Sulsel, di mana persaingan kerap lahir dari rahim yang sama, namun tetap berakhir dalam bingkai persaudaraan.
Pada Konferprov sebelumnya, dinamika juga sempat menghangat ketika Nurhayana Qamar maju sebagai kandidat sebelum akhirnya mengundurkan diri. Saat itu, H. Agus Salim Alwi Hamu kembali terpilih secara aklamasi untuk periode kedua.
Pascakonferensi, riak-riak perbedaan sempat berlanjut hingga ke jalur hukum. Namun seiring waktu, suasana kembali teduh. Aktivitas organisasi berjalan normal dan hubungan antarsesama wartawan kembali mencair.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman yang sebelumnya berada di kubu berbeda kembali duduk bersama, bercanda, dan bersilaturahmi dalam berbagai kesempatan. Bahkan grup WhatsApp “Wartawan Glamur” yang dimotori anggota Dewan Penasehat PWI Sulsel, AB Iwan Azis, menjadi ruang yang mempertemukan kembali para wartawan senior tanpa sekat politik organisasi.
Pengalaman itu mengingatkan saya pada Konferprov PWI Sulsel sekitar tahun 1993. Saat itu dua tokoh besar pers Sulsel, almarhum A. Syahrir Makkuradde dan almarhum H.M. Alwi Hamu, terlibat persaingan ketat memperebutkan kursi Ketua PWI Sulsel.
Awalnya saya mengira persaingan itu hanya formalitas untuk memeriahkan konferensi. Ternyata saya keliru. Pertarungan berlangsung serius dan bahkan sempat membuat konferensi mengalami kebuntuan selama beberapa waktu.
Akhirnya H.M. Alwi Hamu keluar sebagai pemenang. Namun yang lebih penting dari hasil pemilihan adalah apa yang terjadi setelahnya. Kedua kubu kembali berangkulan dan melanjutkan pengabdian mereka bagi dunia jurnalistik.
Itulah tradisi yang selama ini saya lihat di PWI Sulsel. Bersaing saat pemilihan, tetapi kembali bersatu setelah keputusan diambil.
Karena itu saya meyakini Konferprov PWI Sulsel periode 2026-2031 akan berlangsung aman dan kondusif.
Memang ada sejumlah dinamika terkait persyaratan pencalonan yang sempat memunculkan berbagai persepsi. Salah satunya kewajiban dukungan minimal 20 persen anggota biasa sesuai Daftar Pemilih Tetap serta rekomendasi dari perusahaan media.
Namun saya percaya seluruh aturan yang diterapkan merupakan bagian dari mekanisme organisasi yang harus dihormati bersama.
Saya bahkan memiliki pengalaman pribadi terkait hal itu. Anak saya yang telah lama menjadi anggota biasa dan pernah menjadi pengurus PWI Sulsel kehilangan hak pilih karena status keanggotaannya tidak lagi memenuhi ketentuan administrasi yang berlaku. Sebagai orang tua, tentu saya bisa saja mempermasalahkan hal tersebut. Namun aturan tetaplah aturan yang harus dihormati.
Karena itu, saya memilih melihat persoalan secara jernih dan proporsional.
Kembali pada pertarungan Amrullah Basri dan H. Suwardi Thahir.
Ada satu hal yang menurut saya patut menjadi teladan. Di tengah persaingan menuju kursi Ketua PWI Sulsel, Amrullah Basri tetap memberikan rekomendasi kepada H. Suwardi Thahir sebagai salah satu syarat pencalonan.
Sikap seperti inilah yang menunjukkan bahwa kompetisi tidak harus menghilangkan rasa hormat dan persaudaraan.
Boleh berbeda pilihan, boleh bersaing memperebutkan amanah organisasi, tetapi nilai-nilai sipakatau tetap harus dijaga.
Saya percaya, siapa pun yang terpilih nanti, PWI Sulsel akan tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh wartawan.
Selamat bertarung kepada kedua adinda saya. Bertarunglah secara terhormat, karena pada akhirnya persaudaraan jauh lebih besar daripada kemenangan.
Dan seperti yang selalu kita yakini, takdir pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.
Tak lupa, saya juga mendoakan dua kandidat Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel, H.M. Dahlan Abubakar dan Jurlan. Semoga siapa pun yang terpilih mampu memperkuat marwah organisasi serta menjaga tegaknya Kode Etik Jurnalistik dan Perilaku Wartawan. (*)
Salamakki tapada salama.















