PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Sengketa Lahan Petani Laoli di Luwu Timur Masuk PTUN, Aktivitas di Objek Perkara Diminta DihentikanKuliah Tamu Unhas Bahas AI Tepercaya untuk Inovasi KesehatanAntrean BBM Mengular, Wali Kota Makassar Tekan Pertamina Benahi Pelayanan SPBUDarurat Bencana Kebijakan, Selamatkan NegeriPascasarjana Unhas Bangun Riset Berbasis Suara Komunitas Bersama National Geographic ExplorerAntrean BBM Ganggu Mobilitas, Appi Alihkan Siswa PAUD-SMP Belajar dari RumahPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Sengketa Lahan Petani Laoli di Luwu Timur Masuk PTUN, Aktivitas di Objek Perkara Diminta DihentikanKuliah Tamu Unhas Bahas AI Tepercaya untuk Inovasi KesehatanAntrean BBM Mengular, Wali Kota Makassar Tekan Pertamina Benahi Pelayanan SPBUDarurat Bencana Kebijakan, Selamatkan NegeriPascasarjana Unhas Bangun Riset Berbasis Suara Komunitas Bersama National Geographic ExplorerAntrean BBM Ganggu Mobilitas, Appi Alihkan Siswa PAUD-SMP Belajar dari Rumah
DKI Jakarta

Intelektual NU Kritik Teddy, Jawaban Anggaran Dinilai Tidak Akuntabel

82
×

Intelektual NU Kritik Teddy, Jawaban Anggaran Dinilai Tidak Akuntabel

Sebarkan artikel ini
Ekonom UNUSIA: Kebijakan PPATK Picu Panik Penarikan Dana Nasabah
Ekonom Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Muhammad Aras Prabowo, menilai pernyataan tersebut memicu kepanikan massal yang berujung pada fenomena panic withdrawal atau penarikan dana nasabah di sejumlah daerah.

JAKARTA—Intelektual muda Nahdlatul Ulama, Muhammad Aras Prabowo, mengkritik pernyataan Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, terkait sumber anggaran program pasar murah di kawasan Monumen Nasional yang menyebut “pokoknya ada”.

Melalui keterangan tertulisnya yang diterima Mediasulsel.com Senin (30/3/2026), Aras menilai, jawaban tersebut mencerminkan lemahnya akuntabilitas dalam tata kelola keuangan negara.

Menurutnya, dalam prinsip akuntansi sektor publik, setiap penggunaan anggaran harus memiliki dasar hukum yang jelas, transparansi sumber, serta dapat dipertanggungjawabkan secara audit.

“Tidak ada ruang bagi jawaban ‘pokoknya ada’ dalam pengelolaan keuangan negara yang modern dan akuntabel,” tegasnya.

Ia menambahkan, pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan moral hazard sekaligus mendelegitimasi institusi publik. Dalam sistem pemerintahan modern, pengelolaan anggaran seharusnya berbasis sistem dan data, bukan asumsi atau pernyataan simplistik.

Lebih lanjut, Aras menilai fenomena itu sebagai bagian dari krisis epistemik dalam birokrasi, di mana bahasa kekuasaan kerap menggantikan bahasa akuntabilitas. Ia menegaskan, publik tidak hanya berhak mengetahui bahwa anggaran itu “ada”, tetapi juga dari mana sumbernya, bagaimana prosesnya, dan untuk siapa dialokasikan.

Ia juga mendorong pemerintah untuk memperkuat transparansi fiskal melalui keterbukaan data anggaran secara real-time. Menurutnya, tuntutan era digital mengharuskan pemerintah lebih responsif dan terbuka kepada publik.

“Transparansi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Pemerintah perlu membangun komunikasi publik berbasis data, bukan sekadar retorika,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Aras mengingatkan bahwa legitimasi dalam sistem demokrasi sangat ditentukan oleh kualitas akuntabilitas.

“Ketika pejabat publik tidak mampu menjelaskan sumber anggaran secara rasional dan transparan, maka itu menjadi indikasi adanya persoalan dalam tata kelola keuangan negara,” pungkasnya. (Ag4ys)

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com