OPINI—Dehumanisasi terhadap Muslim Palestina oleh Zionis hingga hari ini masih terus berlangsung. Tidak hanya mereka yang masih hidup, tetapi juga mereka yang telah meninggal dunia. Orang-orang yang hidup dibunuh, termasuk anak-anak dan perempuan.
Sementara mereka yang telah wafat pun tidak dibiarkan tenang; jenazah mereka dilarang dimakamkan di tanah sendiri, bahkan kuburannya dibongkar dan dipindahkan.
Di Tepi Barat, para pemukim ekstremis Israel memaksa warga Palestina menggali kembali makam seorang pria untuk memindahkan jenazahnya ke lokasi lain. Alasannya, makam tersebut dianggap terlalu dekat dengan permukiman Israel. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa penindasan tidak berhenti bahkan setelah kematian. (SindoNews, Minggu, 10 Mei 2026).
Hingga saat ini, wilayah yang dikuasai Zionis terus meluas. Mereka tidak pernah berhenti menyiapkan serangan baru demi memperbesar pendudukan atas tanah Palestina yang telah mereka jajah sejak 1948.
Tidak ada tempat yang benar-benar aman di Palestina, terutama di Gaza yang kini menjadi salah satu wilayah paling mematikan di dunia, termasuk bagi para jurnalis. Lebih dari 300 jurnalis dilaporkan tewas sejak 7 Oktober 2023. Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) bahkan menyebut Jalur Gaza sebagai tempat paling mematikan bagi jurnalis di dunia. (ANTARA, 4 Mei 2026).
Jumlah korban di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.736 orang tewas dan 172.535 luka-luka akibat serangan Zionis. Bahkan setelah gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober 2025, jumlah korban terus bertambah. Sebanyak 770 jasad ditemukan dari timbunan reruntuhan.
Masa depan anak-anak Gaza dipenuhi luka dan pengorbanan. Banyak dari mereka harus menjalani hidup dengan ketidaksempurnaan fisik akibat serangan Zionis. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 4 Mei 2026 mengingatkan bahwa satu dari lima penderita amputasi di Jalur Gaza adalah anak-anak.
Kekurangan dokter spesialis prostetik serta pembatasan masuknya material medis ke Gaza menyebabkan ribuan korban tidak mendapatkan perawatan yang layak. PBB melalui laporan Anadolu yang dikutip Tempo (5 Mei 2026) juga mengkhawatirkan meningkatnya berbagai masalah medis yang mengancam anak-anak Gaza.
Gencatan senjata yang berlaku sejak 11 Oktober 2025 tidak mampu menghentikan jatuhnya korban. Rakyat sipil, perempuan, hingga anak-anak tetap menjadi sasaran empuk bagi Zionis yang kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Kesepakatan damai diabaikan, sementara serangan terus dilancarkan.
Di balik keangkuhan Zionis, terdapat dukungan politik, militer, dan finansial dari Amerika Serikat. Dengan dukungan itu, mereka terus memperluas pendudukan melalui genosida yang sistematis. Korban terus berjatuhan setiap hari, termasuk anak-anak yang seharusnya menjadi penjaga masa depan.
Untuk menutupi genosida yang mereka lakukan, Zionis juga berupaya membungkam pers agar dunia tidak mengetahui kejahatan mereka. Salah satunya dengan menargetkan para jurnalis. Ketika jurnalis dibungkam, maka suara Palestina pun berusaha dihapus dari perhatian dunia.
Bahkan solusi two state solution yang ditawarkan PBB dan sekutu Israel sejatinya hanya menjadi alat politik untuk menutupi kejahatan Zionis. Skenario ini berisi pengakuan terhadap kemerdekaan Palestina sekaligus menjamin eksistensi negara Zionis Yahudi.
Solusi dua negara pada akhirnya hanya menjadi legitimasi atas perampasan tanah Palestina. Ini sekaligus menghapus jejak berbagai kejahatan Zionis dan melegalkan pendudukan yang telah berlangsung puluhan tahun. Tidak ada jaminan bahwa Israel akan menghentikan okupasi dan genosidanya.
Dunia, khususnya kaum Muslim, seharusnya tidak diam atas pendudukan Gaza. Terutama para pemimpin negeri-negeri Muslim yang selama ini hanya sebatas menyayangkan, mengecam, dan mendesak dunia internasional serta PBB untuk bersikap tegas.
Akar persoalan Gaza adalah keberadaan entitas Zionis Yahudi di atas tanah milik Muslim Palestina. Perempuan dan anak-anak Gaza adalah korban penjajahan itu. Namun, mereka tetap bertahan. Mereka menjaga kehormatan Allah dan Rasul-Nya di Baitul Maqdis, termasuk di tanah ribath, Gaza.
Mereka tidak pernah lupa akan kemuliaan umat Muhammad saw. dan pentingnya persatuan umat. Inilah yang membuat rakyat Palestina rela menanggung penderitaan luar biasa. Bagi Muslimah Gaza, lebih ringan mati karena kelaparan atau wabah penyakit daripada menyerahkan diri kepada entitas Zionis sebagai hadiah di atas piring pengkhianatan.
Kelangsungan entitas Yahudi di Palestina hingga hari ini bukan semata karena kekuatan mereka, melainkan karena kelemahan para penguasa negeri-negeri Muslim. Banyak di antara mereka lebih loyal kepada kaum kafir penjajah dan para pelaku genosida.
Mereka melihat dan mendengar penjajahan di Palestina, kejahatan brutal Zionis, serta pembantaian yang terus berlangsung. Namun, seolah-olah mereka tidak melihat dan tidak mendengar.
Para pemimpin Muslim telah menghalangi pasukan mereka untuk menolong saudara-saudara mereka di Gaza. Akibatnya, jumlah syuhada terus bertambah, korban luka semakin banyak, dan penderitaan tidak pernah berhenti. Mereka hanya menghitung angka kematian, menyebutnya sebagai “korban tewas”, tanpa tindakan nyata.
Mereka bertindak seolah sebagai pihak netral, padahal lebih dekat kepada Yahudi. Jika solusi dua negara benar-benar terjadi, Palestina hanya akan menjadi negara tanpa kedaulatan sejati—dikelilingi entitas pendudukan kriminal yang tidak menghormati hukum internasional, norma moral, maupun kedaulatan negara lain.
Pembebasan tanah Palestina hanya dapat terwujud jika umat Islam bersatu dan memiliki pemimpin yang benar-benar peduli terhadap penderitaan kaum Muslim, menjaga kehormatan perempuan, serta bertanggung jawab melindungi generasi emas umat.
Perempuan dan anak-anak Gaza membutuhkan sosok seperti Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima Islam yang berhasil membebaskan Baitul Maqdis dari tangan penjajah. Mereka juga merindukan sosok seperti Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang menjaga kehormatan Muslimah.
Sebab Palestina tidak hanya membutuhkan simpati, tetapi juga pembebasan yang nyata. (*)
Penulis:
Ma’wah
(Aktivis Muslimah)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.











