OPINI—Pembelajaran internasional, profesionalisasi pendampingan usaha, dan penguatan ekosistem UMKM menjadi fondasi penting untuk membawa usaha Indonesia naik kelas.
Mengikuti Management Course for Enterprise Support Organizations and BDS Providers yang diselenggarakan International Training Centre of the International Labour Organization (ITCILO) di Turin, Italia, pada 20–30 Oktober 2026, menjadi pengalaman berharga bagi saya untuk melihat pengembangan UMKM dari perspektif yang lebih luas.
Perjalanan ini bukan sekadar kesempatan mengikuti pelatihan internasional, melainkan ruang untuk merefleksikan kembali bagaimana Indonesia membangun sistem pendampingan usaha yang lebih profesional, terukur, dan berdampak nyata bagi pelaku UMKM.
Selama ini, berbagai program pemberdayaan UMKM di Indonesia telah berkembang melalui pelatihan, konsultasi bisnis, fasilitasi legalitas, akses pembiayaan, digitalisasi, hingga perluasan pasar. Namun, tantangan kita tidak berhenti pada penyediaan layanan.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah sejauh mana layanan tersebut mampu mendorong perubahan nyata pada kapasitas, produktivitas, daya saing, dan keberlanjutan usaha.
Di sinilah pentingnya memperkuat peran Business Development Services (BDS) sebagai pendekatan pendampingan yang berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan bisnis. Pendampingan tidak semestinya berhenti pada penyampaian materi atau penyelesaian administrasi.
Pendampingan harus membantu pelaku usaha mengenali persoalan, menemukan peluang, mengambil keputusan, serta membangun kemampuan untuk bertumbuh secara mandiri.
Pembelajaran di ITCILO memperkaya perspektif saya bahwa organisasi penyedia layanan pengembangan usaha perlu memiliki tata kelola yang baik, tenaga pendamping yang kompeten, metodologi yang relevan, serta mekanisme evaluasi yang berorientasi pada hasil.
Profesionalisme pendamping menjadi faktor penting untuk memastikan intervensi yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan dunia usaha.
Sebagai Ketua Umum DPN Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI), trainer Start and Improve Your Business (SIYB) ILO, konsultan PLUT KUMKM, sekaligus akademisi, saya melihat pembelajaran ini memiliki relevansi langsung dengan agenda penguatan ekosistem UMKM di Tanah Air.
Indonesia membutuhkan ekosistem pendampingan yang tidak berjalan secara parsial. Pemerintah, organisasi penyedia layanan bisnis, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dunia usaha, dan komunitas perlu membangun kolaborasi yang lebih erat.
Dengan demikian, UMKM tidak hanya memperoleh pelatihan, tetapi juga memiliki akses terhadap pengetahuan, teknologi, pembiayaan, jejaring bisnis, dan pasar yang sesuai dengan tahap perkembangan usahanya.
Kita juga perlu mengubah cara mengukur keberhasilan program pemberdayaan. Jumlah peserta pelatihan dan banyaknya kegiatan yang terlaksana tetap penting, tetapi belum cukup untuk menggambarkan dampak program terhadap pelaku usaha.
Ukuran keberhasilan yang lebih substantif harus terlihat dari peningkatan omzet dan produktivitas, perbaikan tata kelola keuangan, perluasan pasar, penciptaan lapangan kerja, serta kemampuan usaha bertahan dan berkembang di tengah perubahan ekonomi.
Pengalaman belajar di Turin mengingatkan saya bahwa praktik baik internasional tidak cukup hanya dipelajari atau direplikasi. Kita perlu memahami prinsip yang mendasarinya, menyesuaikannya dengan karakteristik UMKM Indonesia, kemudian menerapkannya melalui pendekatan yang kontekstual dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, membawa UMKM naik kelas bukanlah pekerjaan satu lembaga atau satu program. Ini merupakan agenda bersama yang membutuhkan pendamping profesional, kebijakan yang konsisten, kelembagaan yang kuat, dan kolaborasi lintas sektor yang berorientasi pada dampak. (*)
Penulis:
Bahrul Ulum Ilham, S.Pd., MM., Ph.D.
(Ketua Umum DPN Asosiasi Business Development Services Indonesia/ABDSI)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.













