Refleksi 27 Tahun Amarah 1996
Amarah 1996 adalah gerakan mahasiswa yang sangat fenomenal. Lahir dan digagas atas kesadaran mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontol sosial terhadap kebijakan pemerintah. Yang saat itu adalah merespon kenaikan tarif angkot dari 300 rupiah menjadi 500 rupiah yang dinilai tidak pro rakyat, termasuk mahasiswa.
Gerakan tersebut adalah bentuk aksi mahasiswa yang mencerminkan sikap moralitas, integritas dan idealisme dalam mengawal kepentingan masyarakat. Tidak dipengaruhi oleh pihak atau kelompok manapun.
Sikap tersebut adalah sebuah nilai yang patut direfleksikan oleh semua mahasiswa atau aktivis saat ini, yang gerakannya cenderung politis. Mahasiswa saat ini sangat elit, senang jika bergaul dengan kekuasaan termasuk berswafoto dengan penguasa.
Amarah harus dijadikan penyemangat dalam gerakan mahasiswa saat ini. Nilai-nilai gerakannya harus termanifestasi dalam aksi mahasiswa dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Juga Amarah perlu direfleksikan dalam bentuk simbol, yaitu dengan membangun tuguh amarah di dalam kampus UMI atau di depan kampus. Meskipun sudah ada tuguh penghargaan atas ke-3 mahasiswa UMI yang gugur.
“Rencana tersebut perlu disampaikan kepada pihak birokrasi kampus, apalagi Rektor saat ini adalah Mantan Ketua PMII RE UMI Prof. Dr. Basri Modding”, masukan dari Ahamad Mantan Ketua RE UMI sebelum Amarah 1996.













