Amarah 1996: Utang Sejarah Jendral TNI (Purn) Fachrul Razi
Pancarian Andi Sultan (Almarhum) oleh Umar Ringkasa masih berlanjut keesokan harinya (baca: Amarah 1996: Pencabutan SK Tarif Angkot hingga Pembakaran Damri), 25 April 1996. Sekitar pukul 10.00 Umar Ringkasa berusaha masuk ke kampus untuk mencari keberadaan Andi Sultan (Almarhum).
Namun penjagaan sangat ketat oleh banyak aparat, sehingga tidak bisa masuk kampus. Katanya bahwa bahkan jalan tikuspun tidak bisa kita lalui untuk masuk kamus.
Beberapa jam kemudian terdengar kabar bahwa ada ditemukan 3 mayat mahasiswa UMI di sungai Pampang. Sontak hal tersebut memicu letusan amarah mahasiswa dari berbagai kampus, dan melakukan aksi solidaritas.
Dan salah satunya adalah Almarhum Andi Sultan. Setelah dipastikan bahwa benar Andi Sultan telah gugur dengan kondisi tubuh yang sudah membengkak.
“Dibadannya terdapat bekas sepatu laras dan beberpa bekas senjata tajam,” jelas Umar dengan suara yang terbatah-batah akibat sedih karena harus mengingat kembali sahabat dekatnya Almarhum Andi Sultan.
Munurut Masrudi Ahmad Sukaepa, S.E selaku Sekretaris BEM Fakultas Ekonomi UMI saat itu bahwa dari sisi medis Almarhum Andi Sultan sudah meninggal baru dibuang di sungai Pampang. Kerena tidak ditemukan banyak air dalam perutnya, artinya bahwa dia mati bukan karena tenggelam.
Kemudian Almarhum Andi Sultan dibawa ke rumah duka. Salah satu yang memandikan adalah sahabat dekatnya yaitu Umar Ringkasa. Berdasarkan penuturannya bahwa saat dimandikan, jenazah Almarhum sudah dalam keadaan membusuk dan dibalut kain hingga tujuh lapis.
Saat itu sahabat-sahabat dari Almarhum Andi Sultan berdatangan ke rumah duka, dan beberapa aparat datang dan berusaha menangkapinya. Kemudian dikejar, karena dianggap sebagai inisiator dalam aksi tersebut.













