PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.DPRD Makassar Dorong GERMAS dan Kesadaran Kesehatan Mental di Tengah MasyarakatMunafri Ajak Muslimat NU Makassar Kolaborasi dengan Dewan Lingkungan Atasi SampahWorld Cleanup Day 2026, Kelurahan Bitowa Gelar Kerja Bakti MassalSeminar Nasional Dokter di Makassar Bahas Inovasi Pemeriksaan Kesehatan Saluran CernaToreh Sejarah, Pascasarjana UNDIPA Makassar Wisuda 7 Magister Informatika Angkatan PerdanaKarhutla Parepare Tembus 257 Kasus, Lima Hektare Lahan Terbakar dalam SemalamPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.DPRD Makassar Dorong GERMAS dan Kesadaran Kesehatan Mental di Tengah MasyarakatMunafri Ajak Muslimat NU Makassar Kolaborasi dengan Dewan Lingkungan Atasi SampahWorld Cleanup Day 2026, Kelurahan Bitowa Gelar Kerja Bakti MassalSeminar Nasional Dokter di Makassar Bahas Inovasi Pemeriksaan Kesehatan Saluran CernaToreh Sejarah, Pascasarjana UNDIPA Makassar Wisuda 7 Magister Informatika Angkatan PerdanaKarhutla Parepare Tembus 257 Kasus, Lima Hektare Lahan Terbakar dalam Semalam
Opini

Bahaya Jika Bullying Menjadi Tren!

1321
×

Bahaya Jika Bullying Menjadi Tren!

Sebarkan artikel ini
Bahaya Jika Bullying Menjadi Tren!
Nurmia Yasin Limpo, S.S (Pemerhati Sosial & Masyarakat)

OPINI—Bullying seolah menjadi tren saat ini. Di lingkungan sekolah, bullying tidak hanya menimpa anak remaja tingkat SMP dan SMA saja, namun kini menimpa bocah setingkat SD kelas rendah dan menyebabkan kematian.

Dilansir dari Kompas.com (20/5/2023) seorang anak di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kelas 2 di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Jabar), meninggal dunia akibat dikeroyok oleh kakak kelasnya pada Senin (15/5/2023).

Mirisnya, diduga pengeroyokan tersebut beberapa kali terjadi hingga akhirnya korban merengang nyawa di salah satu RS rujukan di daerah tersebut. Peristiwa nahas ini, menambah deret kasus-kasus bullying yang menimpa remaja dan anak-anak. Tak tannggung-tanggung, hampir semua kasus menyebabkan sakit parah bahkan kematian.

Menjadi Tren

Seolah sudah menjadi tren, rentetan kasus bullying telah menghiasi media cetak dan laman media sosial bak jamur yang terus berkembang. Ternyata priliaku ini menjangkiti tak hanya usia dewasa, tetapi juga menyerang usia anak-anak (bocah) menjadi bengis.

Adanya media sosial memberikan informasi begitu cepat, dapat di tonton oleh siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Tak tanggung-tanggung, aksi ‘pelaku’ tak jarang sengaja diabadikan di telepon genggam. Merekam aksinya dan menyebar baik sengaja ataupun tak sengaja rekaman pada akhirnya tersebar media sosial dan menjadi konsumsi semua usia, bahkan anak dibawah umur.

Mirisnya, tak jarang dalam rekaman beberapa kasus pelaku hanya iseng, terlihat puas dan tertawa terbahak-bahak dengan rekan-rekannya. Seolah prilaku tersebut hal yang biasa dikalangan anak muda atau menjadi ajang ‘unjuk gigi’ di hadapan rekan-rekannya. Namun, bukan tidak mungkin bullying di dunia nyata pun banyak jumlahnya yang tak terketahui publik kemungkinan aksinya lebih parah lagi.

Bahaya Bagi Generasi

Apapun alasannya, bullying tidak dapat dibenarkan. Baik itu ia menjadi pelaku maupun korban, sama-sama memperoleh kerugian. Bagi pelaku, kebiasaan mem-bully akan menghilangkan rasa empati dan menggerus rasa kasih sayang sesama teman.

Mereka akan menjadi bringas tanpa kasihan dengan sesamanya. Jadilah anak bermental ‘penjahat’ seperti di film-film yang mempertontonkan kejahatan. Disisi lain, anak yang menjadi korban bully memperoleh kerugian lebih parah lagi. Pastinya akan meninggalkan luka fisik dan mental bahkan kematian.

Padahal sekolah dan lembaga terkait telah berusaha memberi edukasi terkait pendidikan karakter yang kuat kepada anak didik mereka. Namun, bullying tetap ada, bahkan semakin menyebar ‘bak penyakit menular’. Hasilnya jadilah anak berprilaku bengis dan tak berempati terhadap sesama. Lantas mengapa anak-anak masih berprilaku demikian?

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com