SIDRAP – Upaya pencegahan stunting tidak hanya dilakukan melalui pemberian makanan bergizi, tetapi juga dimulai dari cara memilih dan menyimpan bahan pangan yang aman. Pendekatan inilah yang diusung mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin (Unhas) Angkatan 69 melalui program MADÉCÉNG (Masyarakat Desa Cerdas Memilih dan Menyimpan Protein Hewani Bergizi untuk Cegah Stunting) di Desa Kulo, Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Kegiatan yang berlangsung di Rumah Gizi Desa Kulo pada Minggu, 19 Juli 2026, dipimpin Muhammad Fauzan Siddiq, mahasiswa Pendidikan Kedokteran Hewan Unhas angkatan 2023. Sebanyak 23 peserta yang terdiri atas ibu hamil, ibu balita, dan kader Posyandu mengikuti edukasi tersebut, bahkan jumlah peserta melampaui target yang telah ditetapkan panitia.
Program ini lahir sebagai respons terhadap masih tingginya angka stunting di wilayah kerja Puskesmas Kulo. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidenreng Rappang per Juli 2026, terdapat 87 balita stunting, dengan 17 kasus berasal dari Desa Kulo.
Mahasiswa KKN menilai rendahnya konsumsi protein hewani, ditambah minimnya pemahaman masyarakat tentang cara memilih, mengolah, dan menyimpan bahan pangan asal hewan secara higienis, menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi tersebut.
Melalui pendekatan One Health (Kesehatan Masyarakat Veteriner), peserta dibekali pengetahuan mengenai keamanan pangan dari perspektif kedokteran hewan. Edukasi difokuskan pada pentingnya memastikan protein hewani yang dikonsumsi tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dari kontaminasi bakteri maupun penyakit zoonosis.
Muhammad Fauzan Siddiq menjelaskan, protein hewani seperti daging, telur, susu, dan ikan merupakan sumber asam amino esensial yang sangat dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang anak.
“Namun, jika keliru dalam memilih dan menyimpannya, pangan tersebut justru bisa terkontaminasi kuman dan memicu diare berulang. Melalui kegiatan ini kami mengedukasi warga menerapkan prinsip ASUH (Aman, Sehat, Utuh, Halal), mulai dari mengenali ciri daging segar, teknik penyimpanan dengan rantai dingin (cold chain), hingga mencegah kontaminasi silang di dapur,” jelas Fauzan.
Efektivitas program diukur melalui metode pre-test dan post-test. Sebelum penyampaian materi, peserta terlebih dahulu mengisi kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan awal, kemudian kembali mengikuti evaluasi setelah edukasi selesai.
Hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 57,3 pada pre-test menjadi 80,5 pada post-test atau naik sekitar 23 poin, yang setara dengan peningkatan pengetahuan lebih dari 40 persen.
Ketua Rumah Gizi TP PKK Desa Kulo, Jumiati, mengapresiasi inisiatif mahasiswa Unhas tersebut. Menurutnya, edukasi mengenai keamanan pangan menjadi pelengkap penting dalam upaya pencegahan stunting yang selama ini lebih banyak berfokus pada pemberian makanan tambahan.
“Kami dari Rumah Gizi dan TP PKK Desa Kulo sangat mengapresiasi program MADÉCÉNG ini. Penanganan stunting tidak cukup hanya melalui pembagian makanan tambahan, tetapi juga harus dibarengi edukasi tentang pemilihan dan penanganan bahan pangan yang benar di rumah tangga. Pengetahuan yang dibagikan mahasiswa Unhas memberikan wawasan baru bagi para ibu dan kader Posyandu agar lebih cermat mengolah protein hewani yang higienis dan aman bagi tumbuh kembang balita,” ujarnya, Jumat (24/7/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan secara swadaya oleh mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Unhas Angkatan 69 tersebut ditutup dengan sesi diskusi interaktif serta pembagian makanan tambahan (PMT) bagi balita.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa, kader kesehatan, TP PKK, dan Pemerintah Desa Kulo, program MADÉCÉNG diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola pangan bergizi secara aman, sehingga menjadi salah satu langkah nyata untuk menekan angka stunting di Kabupaten Sidenreng Rappang. (Mp/Ag4ys)
Citizen Reporter: Brooklyn Orlando Shakir Jr (Mahasiswa Fisioterapi Unhas)













