Cepehi Fashion Week: Generasi Latah, Buah Sistem Rusak

Cepehi Fashion Week: Generasi Latah, Buah Sistem Rusak
Dr. Suryani Syahrir, ST, MT.

Rusaknya Standar Tata Nilai

Maraknya konten-konten unfaedah alias sampah di media sosial merupakan bukti nyata rusaknya tata nilai kehidupan. Pun di dunia nyata, kerusakan begitu rupa mendera generasi milenial.

Standar tata nilai sudah sangat jauh bergeser, bahkan di luar nalar. Viralnya CFW ini tak bisa dilepaskan dari asas yang mendasari pola pikir umat. Support dari berbagai kalangan, terutama dunia fashion begitu jelas. Sehingga, tak heran jika ada sebagian pihak menjadikan fenomena CFW sebagai aji mumpung.

Jika dicermati, terjadi kemajemukan kepentingan disana. Terlihat kerusakan terpampang nyata menyatu dalam  beragam corak. Ada pemuda berdandan ala waria yang ditengarai pelaku LGBT. Ada yang memakai pakaian muslimah, tetapi tabarruj. Banyak pula yang mengenakan pakaian sangat minim.

Aktivitas pacaran diduga kuat lebih banyak lagi. Produsen fashion juga tak mau ketinggalan dalam mempromosikan produknya. Jadilah ajang street fashion yang kebanyakan selebgram sebagai endorse produk-produk.

Sikap latah banyak pihak disebabkan standar tata nilai yang digunakan berdasar akidah sekuler kapitalis yang lahir dari sistem kapitalisme. Inilah akar masalah dari semua problem hari ini, termasuk fenomena CFW. Benar salah bukan lagi didasarkan pada norma agama, tetapi dari berapa banyak cuan yang bisa dihasilkan.

Berita Lainnya

Ketidakjelasan visi hidup, membuat generasi latah makin menjamur. Meniru apapun yang lagi viral, walau hal tersebut sudah sangat terang kerusakannya. Tersebab paradigma yang dibangun di tengah masyarakat adalah paradigma kapitalistik. Standar kesuksesan seseorang dinilai dari berapa banyak materi yang bisa diraup, walau harus terjerat utang ribawi dan muamalah yang batil.

Gambaran fenomena di atas juga membuktikan gagalnya sistem pendidikan hari ini. Profil generasi yang dihasilkan adalah generasi yang hanya berkutat pada eksistensi diri dan materi, minus akhlak dan jati diri.

Hal ini menegaskan bahwa sistem yang diadopsi negeri ini tak mampu melahirkan generasi cemerlang. Generasi tangguh dan berakhlak mulia, Istiqomah dalam menjalankan syariat-Nya.

Berita Terkait