OPINI—Ferienjob, istilah dalam bahasa Jerman yang berarti “pekerjaan liburan,” biasanya dirancang untuk mahasiswa yang ingin bekerja selama liburan untuk memperoleh pengalaman kerja dan penghasilan tambahan. Namun, dalam praktiknya, program ini telah disalahgunakan, termasuk terhadap mahasiswa Indonesia.
Laporan dari Tempo.co (20/3) menyebutkan sebanyak 1.047 mahasiswa dari 33 universitas di Indonesia terlibat dalam program Ferienjob di Jerman. Alih-alih mendapatkan pengalaman berharga, mereka menghadapi kondisi kerja yang buruk: lembur tanpa fasilitas transportasi memadai, gaji yang sering terlambat, serta akomodasi yang tidak layak.
Bahkan, beberapa dari mereka dipindahkan ke sektor kerja yang berbeda tanpa persetujuan. Kasus ini kini dalam penyelidikan pihak kepolisian Jerman dan diduga termasuk dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) (DW.com, 04/4).
Ferienjob Bukan Bagian dari MBKM
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menegaskan bahwa program Ferienjob di Jerman tidak termasuk dalam skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Peringatan ini dirilis menyusul penyalahgunaan label MBKM dalam promosi program tersebut. Kemendikbudristek mengimbau perguruan tinggi agar lebih selektif dalam menjalin kerja sama terkait magang internasional.
Dalam rapat dengan Komisi X DPR RI, pemerintah didesak untuk lebih proaktif menangani kasus ini. DPR mengkritik lambatnya respons Kemendikbudristek, meskipun Kedutaan Besar RI di Jerman telah mengeluarkan peringatan sejak Mei 2023 terkait potensi pelanggaran dalam program Ferienjob. Pengawasan terhadap agen perekrutan mahasiswa juga menjadi sorotan.
Eksploitasi Berkedok Magang
Magang sebagai bagian dari program MBKM pada dasarnya bertujuan mempertemukan dunia pendidikan dan dunia kerja. Namun, realitasnya menunjukkan celah yang dimanfaatkan pihak tertentu untuk menekan biaya.
- Bagi perguruan tinggi, skema magang mengurangi kebutuhan investasi fasilitas belajar seperti laboratorium.
- Bagi perusahaan, mahasiswa magang adalah tenaga kerja murah yang tidak perlu digaji sesuai standar karyawan tetap.
Hasilnya, mahasiswa sering diperlakukan layaknya pekerja penuh waktu tanpa insentif memadai, bahkan diarahkan ke tugas di luar bidang studi mereka tanpa bimbingan. Kondisi ini mencerminkan sistem kapitalisme, di mana pendidikan diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan pasar, bukan masyarakat.
Implikasi Sistemik
Orientasi pendidikan kapitalistik menjadikan mahasiswa hanya fokus pada materi dan karier pribadi, tanpa memperhatikan kontribusi mereka terhadap masyarakat. Fenomena ini melahirkan lulusan yang tidak mampu menjadi solusi atas persoalan bangsa.
- Sarjana ekonomi gagal mengatasi kemiskinan.
- Sarjana gizi tidak mampu mencegah tingginya angka stunting.
- Pejabat terdidik justru terlibat dalam korupsi dan penyalahgunaan wewenang.
Inikah kualitas generasi yang diharapkan?
Pendidikan dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, pendidikan adalah kebutuhan mendasar yang harus dikelola negara untuk kemaslahatan masyarakat, bukan industri. Negara bertanggung jawab menyediakan pendidikan berkualitas yang gratis, dengan kurikulum yang dirancang untuk membentuk manusia berkepribadian Islam dan bermanfaat bagi masyarakat.
1. Fokus pada penelitian berbasis kebutuhan masyarakat.
Penelitian diarahkan untuk mempermudah kehidupan manusia, bukan menciptakan produk konsumtif yang justru memperburuk problem sosial.
2. Pengelolaan pendidikan yang independen.
Mahasiswa diberikan ruang untuk berkembang tanpa intervensi dari pihak berkepentingan.
3. Pembentukan moral Islami.
Pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada ilmu dan keterampilan, tetapi juga pembentukan akhlak mulia.
Dalam naungan sistem Islam, tidak akan ada ilmuwan yang mendukung eksploitasi, menghasilkan produk destruktif, atau abai terhadap masyarakat. Pendidikan diarahkan untuk membentuk problem solver sejati yang siap membangun peradaban yang lebih baik. (*)
Wallahu a’lam bisshawab.
Penulis: Niswatul Mukminah (Aktivis Muslimah)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.








