Beranda » Opini » Dibalik Cadar Hesti, Ada Cinta Tuhan
Dibalik Cadar Hesti, Ada Cinta Tuhan
Opini

Dibalik Cadar Hesti, Ada Cinta Tuhan

OPINI – Setelah pernyataan rektor UIN Sunan Kalijaga yang mengundang kontoversial dengan pernyataan melarang mahasiswa bercadar (niqab) masuk kampus. Melahirkan pro dan kontra masyarakat termasuk kalangan mahasiswa dan cendikiawan muslim.

Namun masalah mampu diselesaikan tanpa perlua riak-riak begitu panjang, dengan hati yang leogowo, rektor UIN Sunan Kalijaga mampu mencabut peraturan kampus.

Tak lama kemudian muncullah ibu sukmawati dengan video dengan puisinya menyinggung cadar sampai tak mengenal syari’at namun itu adalah lantunan bait–bait sastra meskipun ada unsur saranya.

Rentetan masalah cadar (niqab) di menjadi polemik di masyarakat muslim di Indonesia. Ada yang menganggap bahwa cadar itu adalah bagian dari Agama Islam dan ada pula menganggap itu hanyalah budaya arab bukanlah syari’at Islam.

Secara pribadi, cadar maupun tidak bercadar tak jadi bagian penting dalam beragama Islam yang terpenting “Akhlakul Kharimah”.

Seperti halnya yang di alami oleh Hesti Sutrisno yang akrab di panggil mbak Hesti memelihara 11 ekor anjing, kebanyakan anjing–anjing terlantar.

Apa yang dilakukan Hesti teramat diluar dari batas kewajaran apalagi dengan di baluti pakaian bernuansa Islam. Di tambah pula niqab menambah keheranan masayarakat akan kelakuan Hesti yang tak biasa dilakukan oleh kalangan muslim lainnya.

Berbagai media berita, bahwa dalam kehidupan sehari–harinya hoby merawat anjing liar dibalik itu ada jiwa sosial membantu warga sekitar rumahnya karna anjing liar yang dirawatnya sering kali menganggu ketenangan warga, terutama anak–anak yang takut dengan anjing liar.

Tak hanya memungut anjing liar saja yang di pelihara tapi ada 30 ekor kucing liar yang di pungut dan dipelihara dengan baik.

Kepedulian Hesti teringat dengan kisah wanita penghibur berjuang masuk kedalam sumur yang dalam mengambil air demi menolong anjing kehausan dan di dalam kisahnya diberikan balasan surga untuknya, meskipun kisah wanita penghibur yang masuk surga ini masih menjadi perdebatan para alim Ulama.

Jiwa kepedulian Hesti ini dilakukan sejak tahun 2015 yang awalnya memiliki keraguan menolong anjing liar karna keganasan anjing liar dan hukum Agama yang banyak memberikan pandangan ulama menkategorikan anjing sebagai hewan najis.

Namun dari ketakutan ganasnya hewan anjing liar dan hukum Agama mampu dia lawan dengan membuka hatinya untuk menolong anjing liar untuk dipelihara.

Terangkatnya di kegiatan Hesti di media membuat masyarakat terutama beragama Islam memberikan pandangan akan hoby dan kepedulian hesti dengan binatang liar.

Pandangan masyarakat pro dan kontra, kegiatan hesti memungut anjing liar dan di pelihara menurut kebanyakan orang menganggap itu adalah bentuk kepedulian kepada binatang terlantar dan tak menjadi masalah dalam Agama Islam, namun ada juga tak respect dengan kegiatan Hesti dikarenakan anjing adalah hewan yang dikategorikan haram (najis).

Pro dan kontra memelihara anjing dalam pandangan Islam tergambarkan pada pandangan empat mahzab. Dimana dari ke empat Mahzab telah berbeda pandangan ada yang menizinkan memelihara anjing ada pula tak mengizinkan.

Para pengikut Mazhab Maliki mengatakan bahwa tiap-tiap barang yang hidup itu suci keadaannya walaupun seekor Anjing/Babi.

Para pengikut Mazhab Hanafi setuju terhadap mereka ini bahwa anjing itu Suci keadaannya selama dia masih hidup saja.

Pengikut Mazhab Hanafi mengatakan bahwa Liur anjing itu Najis selama anjing masih Hidup, karena mengikuti najisnya Daging anjing itu sesudah matinya. (Al-Fiqhu Alal Madzahibil Arbaah Juz I Hal.16 ).

Bagi pengikut Hanbali pun memiliki ada dua pendapat di antara ulama madzhab Hanbali yaitu; (a) anjing itu najis baik badannya, bulunya maupun air liurnya; (b) Badan dan bulu anjing itu suci. Hanya air liurnya yang najis.

Bagi kalangan Madzhab Syafi’i: menghukumi bahwa seluruh bagian anjing adalah najis baik badan, bulu, lendir, keringat dan air liurnya. Namun najis mampu di bersihkan, adapun cara menyucikannya adalah dengan menyiramkan 7 kali air salah satunya dicampur dengan tanah.

Namun ada pendapat dalam madzhab Syafi’i yang menyatakan yang wajib dibasuh 7 kali itu adalah yang terkena air ludah anjing. Sedangkan yang selain itu, cukup dibasuh satu kali ini berdasar pendapat Imam Nawawi dalam kitab Raudhah dan Al-Majmuk seperti dikutip dari kitab Kifayatul Akhyar 1/63.

Pandangan yang berbeda pendapat ini tak harus menghukumi Hesti akan kepedulian kepada binatang liar meski kebanyakan ummat Islam menganggap binatang yang dipeliaharanya dikategorikan sebagai hewan najis.

Apalagi menghukuminya dengan alasan memakainya niqab (cadar), alasan ini tak masuk akal melainkan alasan amarah yang diutamakan.

Kemudian tak semestinya memusuhi anjing karna dia adalah mahluk Tuhan seutuhnya. Bukankah manusia diciptakan dimuka bumi sebagai khalifah dimuka bumi ini, khalifah tak mesti di artikan memimpin manusia saja tetapi memilhara binatang termasuk dalam artian khalifah dimuka bumi, karna seutuhnya manusia menjaga alam sekitar termasuk melindungi binatang.

Tak perlu mengerucutkan permasalahan orang–orang memlihara anjing, asal tak melanggar fiqih sosialnya. Jangan menutup jiwa sosial perempuan bercadar menunjukkan rasa empatinya kepada binatang liar, seperti perilaku sosial perempuan bercadar tersebut.

Cadar hanyalah busana yang menutupi auratnya tak untuk menutup kepeduliannya kepada binatang liar. Kalau pun mengambil pandangan syafi’i tentang najisnya terkena air liur anjing. Itu mampu diselesaikan dengan menyiram 7 kali air atau membasuh 7 kali tanah.

Sudahilah pandangan najisnya anjing untuk dipelihara, untuk yang memelihara tak harus menghukuminya dengan dalih Agama Islam.

Hesti Sutrisno meski acap kali mendapatkan ancaman lewat komentar dan inbox facebook. Ancaman tersebut tak menggoyahkan hatinya untuk tetap berjuang menghidupi binatang peliharaannya.

Tetap konsisten berdiri tegak melindungi binatang–bianatang yang terlantar untuk mendapatkan rezeki Tuhan lewat tangan pemberian Hesti.

Menurutnya segala cercaan masyarakat baik duni maya adalah bentuk ujian untuk tetap menegakkan Hablum minal a’lam (hubungan manusia dengan alam).

Setidak kisah Ashabul Kahfi yang tergambarkan dalam surah al–kahfi menjadi pemberian izin Tuhan untuk memelihara dan melindungi binatang sekali pun itu binatang anjing sebagaimana firman Allah SWT;

“(Sebagian dari) mereka akan berkata: “Bilangan Ashabul Kahfi itu tiga orang, yang keempatnya ialah anjing mereka”; dan setengahnya pula berkata bilangan mereka lima orang, yang keenamnya ialah anjing mereka”.

secara meraba-raba dalam gelap akan sesuatu yang tidak diketahui; dan setengahnya yang lain berkata: “Bilangan mereka tujuh orang dan yang kedelapan ialah anjing mereka”.

Katakanlah (wahai Muhammad): “Tuhanku lebih mengetahui akan bilangan mereka, tiada yang mengetahui bilangannya melainkan sedikit”.

Karena itu janganlah engkau membahas dengan siapapun mengenai mereka melainkan dengan bahasan (secara sederhana) yang nyata (keterangannya di dalam al-quran). “Dan janganlah engkau meminta penjelasan mengenai hal mereka kepada seseorang pun dari golongan (yang membincangkannya)”. (Al-Kahfi: 22).

Menutup dari tulisan saya kali ini, megambil dari kutipan Hesti Sutrisno sebagai motivasi bagi kita untuk mencintai binatang dan tak menghukuminya.

“Saya akan terus melakukan kebaikan sama mereka yang terlantar di jalanan. Udah ngatain saya kafir, udah ngatain Islam bohonglah, saya nggak peduli, saya nggak akan balas. Karena kalau saya balas, saya sama dengan mereka. Bingung juga saudara se-Muslim saya, apa yang dipersalahkan? Najis? Allah kan kasih tata cara untuk mensucikannya kembali.”

“Justru ini suatu ujian, apakah saya akan melanjutkan suatu kebaikan dengan makhluknya yang terlantar, atau sudah stop. Insya Allah, enggak. Saya nggak akan stop. Tapi bukan berarti mereka (anjing) di sini (rumah) ya, karena ya tahu sendirilah,” ujar Hesti Sutrisno. (*)

Penulis: Ikhlasul Amal Muslim