OPINI – Sontak warganet ramai mengomentari Ibu Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur karena mengatakan bahwa perempuan muslim tidak diwajibkan untuk mengenakan jilbab.

Menurut Sinta, Gus Dur pun berpendapat serupa (Tempo, 17/1/20). Dalam tayangan YouTube channel Deddy Corbuzier pada Rabu, 15 Januari 2020, Ibu Sinta di tidak hanya mengkritik kewajiban berjilbab bagi muslimh, ia pun menambahkan bahwa dalam menafsirkan alquran seorang harus memiliki kompeten dan keluasan ilmu.

Seperti yang dilansir tempo dalam diskusi bersama Deddy Corbuzier. “Orang menerjemahkan ayat-ayat [Alquran] itu harus memenuhi beberapa persyaratan. Harus menguasai alat-alatnya, dari segi budayanya gimana, semuanya harus ada. Kalau tidak memenuhi persyaratan, ya enggak bener mengartikannya,” jawab Sinta dalam acara Deddy Corbuzier pada Rabu, 15 Januari 2020 lalu.

Dengan tersirat Ibu Sinta ingin menegaskan bahwa ia telah memenuhi syarat dalam menafsirkan ayat-ayat. Ketika menjawab pertanyaan Deddy “Apakah semua orang Islam itu harus memakai jilbab? Tidak juga. Kalau kita mengartikan ayat dalam Alquran itu secara benar,” kata Sinta.

“Kok berani ibu mengatakan seperti itu?” tanya Deddy.

“Berani, karena Alquran saya artikan kontekstual.

Seperti yang dilansir Okemuslim (17/1/20) pernyataan senada dari putri bungsunya, Inayah Wulandari atau Inayah Wahid, juga menambahkan penjelasan bahwa menjadi seorang penafsir Alquran harus mempunyai berbagai persyaratan yang begitu komplet. Tidak ada satupun persyaratan itu yang boleh terlewatkan.

“Penafsir harus banyak persyaratan yang sangat komplet, enggak boleh orang menafsirkan sembarangan apalagi hanya bermodalkan Google. Sekarang kan banyaknya kemudian ikutnya Ustaz Al-Googlia. Ngajinya di Google. Enggak gitu, kalau ahli tafsir harus punya basic dan ilmunya yang sangat tinggi,” tambah Inayah.

Mungkin inilah salah satu alasan mengapa sang putri tak menutup aurat. Karena memaknai penggunaan jilbab dan kerudung tidaklah wajib. Sekalipun ia anak seorang bagian dari organisasi Islam besar di negeri ini.

Inayah enggan mengungkapkan alasannya mengapa sampai saat ini ia belum juga mengenakan jilbab. Hal itu karena ia tidak ingin berdebat mengenai hal tersebut. “Bukan karena saya belum mendapatkan hidayah,” kata Inayah. “Bukan karena itu, tapi saya tidak akan menjelaskan kenapa? karena masyarakat kita masih banyak yang kemudian sudah antipati duluan.”imbuhnya (tempo,17/1/20)

Kewajiban menggunakan jilbab tak jadi bahan debat saat ini.

Mayoritas masyarakat muslim di negeri ini telah menemukan momentnya. Mulai terbiasa dengan suasana Islam. Banyaknya komunitas hijrah dari kalangan orang biasa hingga public figur.

Ramainya mesjid dengan sejumlah agenda dakwah. Bahkan gedung dan hotel tidak mau kalah, menjadi wasilah dakwah.

Ditengah hiruk pikuk semangat hijrah sebagian besar kaum muda muslim. Muncul pernyataan menolak kewajiban menutup aurat dengan jilbab dan kerudung. Pernyataan yang keluar bukan orang awam yang baru mengenal Islam. Tetapi sebaliknya hidup dalam suasana Islam.

Wajar ketika umat muslim yang diwakili warganet kaget dan terheran mendengar pernyataan ibu Sinta Nuriyah bersama putri bungsunya, Inayah Wulandari dalam siaran youtube yang dipandu Deddy Corbuzier lalu.

Menutup Aurat Perintah dari Allah SWT

Sebuah perintah yang jelas dipahami bahwa suatu kewajiban yang sifanya jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan mendapat dosa.
Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (QS. Al Ahzab: 59).

Jilbâb, jamaknya jalâbîb menurut umumnya orang Arab adalah baju kurung panjang, sejenis jubah bukan sekedar kerudung. (Kamus al Munawwir, hal 199)

Syaikh Taqiyuddin al-Nabhani, dalam Nidzam al-Ijtima’i menjelaskan makna

يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِن

Beliau menyatakan:
“yakni mengulurkan jilbab mereka, karena kata min dalam ayat ini bukan menunjukkan pada makna sebagian (li at-tab‘îdh), tetapi menunjukkan pada makna penjelasan (li al-bayân), yakni mengulurkan baju kurung (mulâ-ah dan milhafah) ke bagian bawah.”

اَلْجِلْبَابُ بِكَسْر الْجِيمِ هُوَ الْمُلَاءَةُ الَّتِي تَلْتَحِفُ بهَا الْمَرْأَة فَوق ثِيَابهَا هَذَا هُوَ الصَّحِيح فِي مَعْنَاهُ

Jilbab, dengan harakat kasrah huruf jim, adalah kain panjang terusan perempuan yg digunakan di atas baju dalam yg dikenakannya. Ini makna jilbab yang benar. (Imam an-Nawawi rh)

Sedangkan perintah berkerudung terkandung dalam firman Allah SWT,

Kerudung, dalam Alqur’an disebut sebagai khimâr yakni kain yang menutup kepala hingga dada.

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Hendaklah mereka menutupkan kerudung (khimâr)ke bagian dada mereka. (QS an-Nûr : 31)

Mengenai tafsir ayat “wal-yadhribna bi-khumurihinna ‘ala juyubihinna” (QS 24 : 31), Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya an-Nizham al-Ijtima’i fi al-Islam (2003) hal. 68-69 mengatakan, kata “khumur” adalah bentuk jamak dari “khimaar“, yang artinya adalah “maa yughathha bihi ar-ra`su” (apa-apa yang digunakan untuk menutupi kepala).

Demikianlah Allah SWT menarangkan perintahnya dalam alquran yang mulia. Tak ada satupun jumhur ulama yang mengingkari kewajiban menggunakan jilbab dan kerudung. Perbedaan mereka hanya pada ranah bentuk jilbab dan kerudung itu sendiri.

Meski demikian, terhadap yang mengambil pendapat yang berbeda, asalkan masih menutup auratnya, mereka tetaplah layak dihormati.

Pernyataan oleh ibu Sinta dan Inayah wajar jika menuai kritikan. Mengapa? karena mengingkari kewajiban jilbab dan mempermasalahkan bentuk jilbab.

Tetapi, justru perintah itu tak dijalankan dengan alasan tak mendapat ruang diskusi. Mendiskusikan untuk memberi alasan menolak perintah Allah SWT menunjukkan keangkuhan.

Kita bersyahadat kepada Allah dan Rasul-Nya. Penyerahan total hidup dengan aturan-Nya. Memberikan seperangkat aturan kepada manusia.

Tak layak kita menawar aturan-Nya bahkan mengingkariNya. Lalu meminjam platfom ‘budaya’ seolah budaya berbeda dengan Islam. Padahal Islam tak terpisahkan dengan budaya itu sendiri. Budaya luhur lahir dari rahim yang luhur yakni Islam.

Padahal Allah SWT ingin menjaga kemuliaan wanita. Memuliakannya dengan Islam yang melahirkan seperangkat aturan. Termasuk aturan pergaulan dalam bersosialisasi dalam masyarakat.

Namun, kita melihat fakta hari ini justru sebagian wanita lebih memilih mengatur dirinya sendiri atas nama HAM dan semisalnya.

Padahal manusia serba terbatas. Butuh aturan yang mampu menjaga harkat dan martabat wanita. Wanita dalam pandangan Islam adalah manusia yang harus dijaga kemuliaannya dan kehormatannya.

Jadi sebagai wanita muslimah kita wajib menutup aurat. Tidak ada alasan untuk tidak mengenakannya. Setiap aturan berupa perintah wajib dilaksanakan tanpa tebang pilih.

Islam rahmatan lil ‘alamiin, rahmat untuk seluruh alam. Islam telah mengatur kehidupan manusia seperti ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan juga sosial-budaya.

Termasuk tingkah laku manusia. Islam mengatur hubungan dirinya dengan Allah SWT dalam hal ibadah. Mengatur hubungan dirinya sendiri dalam hal makanan, minuman dan pakaian. Juga mengatur hubungan dirinya dengan masyarakat dalam hal muamalah .

Setiap aturan mengandung manfaat bagi pelakunya. Namun, ridho Allah-lah yang lebih utama. Sebagai manusia yang dianugrahi akal, kita wajib memilih jalan hidup terbaik menurut alquran dan as-sunnah.

Pandangan hidup inilah yang akan memberi jalan setiap perjalanan hidup manusia. Dari mana? untuk apa? dan akan kemana kita setelah hidup di dunia merupakan pertanyaan mendasar bagi kita.

Sebagai muslim kita tentu menjawab: kita dari Allah, beribadah kepada Allah dan akan kembali kepadaNya. Namun, maukah kita menerima aturan-Nya?

Tentunya ketika Allah SWT telah menetapkan, jawaban seorang hamba kepada Tuhan-nya yaitu, “sami’naa wa atha’naa (kami dengar dan kami taat)” .Wallahu ‘alam bish-shawwab. (*)

Penulis: Nurmia Yasin, S.S. (Alumni Sastra Arab Universitas Hasanuddin Makassar dan Seorang Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Sosial)