OPINI – Munculnya kebijakan Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja (Ciptaker) hingga pengesahannya pada 5 Oktober 2020 lalu kian menuai kontroversi serta penolakan di kalangan masyarakat, baik dari kalangan anak sekolah, mahasiswa hingga masyarakat umum lainnya.

Merespon hal ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun dengan tegas menyatakan sikap dengan mengeluarkan surat edaran kepada seluruh pimpinan Perguruan Tinggi (PT) yang tertuang dalam surat edaran Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud Nomor 1035/E/KM/2020 perihal ‘Imbauan pembelajaran secara daring dan sosialisasi UU Cipta Kerja’.

Dalam surat itu, Kemendikbud mengimbau kepada seluruh mahasiswa untuk tidak berpartisipasi dalam kegiatan penyampaian aspirasi yang dapat membahayakan kesehatan mahasiswa, seperti demonstrasi atau unjuk rasa (detik.com, 10/10/2020).

Merdeka Belajar: Potensi Memerdekakan Generasi atau Kepentingan Korporasi?

Berbagai macam problematika negeri harusnya dipantau lebih oleh para pemuda dan mahasiswa hari ini. Peran dan fungsi mahasiswa sebagai agent of change, iron stock, social control, dan moral force tak bisa dijalankan dengan sepenuhnya. Sebab, pemerintah membatasi area belajar para mahasiswa. Mahasiswa yang harusnya mengembangkan potensi diri di luar kegiatan akademik malah dibungkam dengan berbagai macam kebijakan.

Program kebijakan “Merdeka Belajar” merupakan program yang menjadi terobosan baru di Kemendikbud Nadim Makarim. Program ini bertujuan untuk mengatasi kualitas sumber daya manusia (SDM). Beliau beranggapan bahwasanya program “Merdeka Belajar” merupakan program kemerdekaan dalam berpikir.

Namun, faktanya nihil. Hal ini tidak sesuai dengan cara Menteri menyikapi terkait aksi dan unjuk rasa yang dilakukan sejumlah mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi terkait kebijakan yang tidak pro rakyat.

Meskipun salah satu alasan beliau melarang mahasiswa turun aksi karena khawatir membahayakan kesehatan mahasiswa. Akan tetapi, hal itu sekadar pemanis agar tidak terkesan buruk di mata masyarakat. Hal ini sesuai dengan instruksi Menteri yang menyatakan bahwa dosen dilarang untuk memprovokasi mahasiswa untuk turun aksi dan menyampaikan aspirasi terkait kebijakan Omnibus Law Ciptaker ini.

Keberadaan surat tersebut mengindikasikan bahwa Menteri benar-benar mendorong mahasiswa untuk tidak ikut serta dalam menyuarakan aspirasi terkait kebijakan tersebut. Lantas, bagaimana esensi “Merdeka Belajar” yang katanya merdeka dalam berpikir? Apakah dengan membungkam mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi? Lalu, membiarkan para penguasa dan pengusaha mempermainkan kebijakan atas nama ketahanan negara demi kepentingan korporasi?

Merdeka Belajar ala Kapitalisme: Memandulkan Potensi Pemuda Menuju Perubahan

Alih-alih program ini mendukung generasi untuk berpikir kritis malah berakhir pada pemandulan potensi generasi. Hal ini dibuktikan dengan adanya kebijakan program “Kampus Merdeka” yang lebih banyak menguntungkan para industri dan asing. Buktinya, salah satu kebijakan kampus merdeka yakni memudahkan kampus untuk mengubah statusnya menjadi Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTN-BH) semakin memuluskan jalan para industri untuk bekerjasama dengan kampus.

Fenomena ini menjadi bukti bahwa negara semakin lepas tangan sebagai agen penyelenggara jaminan pendidikan. Selain itu, kebebasan membuka prodi apapun semakin menyesuaikan kebutuhan pasar ditambah kebebasan penentuan kurikulum bersama industri dan asing, hal ini menunjukkan bahwa kekayaan intelektual muda saat ini terkooptasi oleh kepentingan industri dan sekaligus menyesatkan arah orientasi Perguruan Tinggi (PT).

Keberadaan mahasiswa sebagai agent of change kian jauh dari harapan. Sebab, mereka dibungkam dari segala sisi. Hal ini berdasar pada banyaknya mahasiswa yang ditangkap dalam aksi penolakan Omnibus Law UU Ciptaker baru-baru ini. Sedikitnya, ada 167 mahasiswa yang ditangkap di Surabaya (tempo.co, 20/10/2020).

Potensi Pemuda Menuju Perubahan Hakiki

Pemuda secara fitrahnya adalah masa yang paling berkualitas dan jenjang usia yang paling optimal secara pemikiran, perasaan serta kematangan jasmani. Hal ini mengindikasikan bahwa potensi pemuda dalam membawa perubahan di suatu negeri merupakan hal yang sangat penting.

Sayangnya, parameter yang digunakan oleh pemuda hari ini tidak menghantarkan pada solusi yang hakiki. Pergerakan mahasiswa telah gagal memahami akar masalah yang sebenarnya. Sehingga, pemuda dan mahasiswa hanya meraba-raba solusi yang tepat untuk mengatasi problem hari ini yakni mengambil solusi demokrasi. Akhirnya, persoalan negeri tidak kunjung usai dan semakin pelik dan menggunung.

Buktinya, berbagai macam penolakan terhadap undang-undang seperti RUU PKS, RKUHP, Omnibus Law UU Ciptaker dan UU lainnya tidak menyelesaikan permasalahan umat secara tuntas. Alhasil, solusi parsial dan problematika umat semakin rumit di segala lini kehidupan. Ini semakin menunjukkan bahwa perubahan hakiki tidak akan bisa didapatkan ketika masih berharap dengan sistem hari ini.

Solusi Islam Mengarahkan Potensi Sesuai Penciptaan

Dalam catatan sejarah Islam, kiprah para pemuda muslim begitu mengagumkan. Pemuda harus menjadi garda terdepan menyongsong suatu peradaban yang mulia dan mensejahterakan rakyat. Menyuarakan kebenaran bukan sekadar semangat tapi juga berbekal taat. Islam juga memandang bahwa pemuda harus memiliki landasan, arah dan tujuan mereka dalam bergerak menuju perubahan. Tidak terjerumus dan berkontribusi dalam hal keburukan.

Selama berabad-abad, Islam dalam naungan khilafah telah terbukti mencetak generasi hebat dambaan seluruh umat. Kekuatan iman dan semangat yang luar biasa menjadikan pemuda semakin getol dalam menyuarakan kebenaran. Detik demi detik mereka habiskan demi mencari keridhoan Sang Pencipta hingga berbuah keberkahan, menjadikan mereka generasi hebat yang sukses dunia akhirat.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ilmuwan-ilmuwan yang muncul di masa kejayaan Islam seperti Imam Syafi’i, di usianya yang 9 tahun telah menghafal Al-Qur’an. Selain itu, ada juga Ibnu Sina yang terkenal sebagai bapak kedokteran muslim, di usianya yang 5 tahun juga sudah menghafal Al-Qur’an. Bahkan, pemuda hebat lainnya, seperti Muhammad Al-Fatih, di usia yang masih muda telah mampu menaklukkan Konstantinopel, dan masih banyak generasi muda lainnya di era kejayaan Islam. Mereka adalah para generasi hebat dan namanya masih terkenang hingga kini.

Hal ini semakin menunjukkan bahwa hanya dengan sistem Islamlah yang mampu mencetak generasi hebat, bermanfaat bagi seluruh umat, dan tentunya akan menjadikan pemuda sadar akan kewajibannya untuk mewujudkan peradaban mulia dan beramar ma’ruf nahi munkar.

Sebagaimana Allah menegaskan dalam firmanNya “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran: 110).

Wallahu a’lam bish-shawab

Penulis: Rahmah Jalil (Aktivis Muslimah)