OPINI—Gen Z sering kali disebut sebagai generasi yang paling terkoneksi dalam sejarah manusia. Mereka lahir di era teknologi yang berkembang sangat cepat, tumbuh bersama internet, dan menyaksikan perubahan sosial yang berlangsung nyaris tanpa jeda.
Berbagai perkembangan digital memungkinkan mereka mengetahui berbagai peristiwa di belahan dunia lain tanpa harus meninggalkan tempat duduk.
Namun, di balik segala kemudahan yang ditawarkan zaman, generasi ini juga memikul beban yang tidak ringan.
Dalam lanskap digital yang semakin luas, generasi muda Indonesia justru terjebak dalam pusaran ancaman yang tak kasatmata, yakni gangguan kesehatan mental akibat kecanduan layar.
Berbagai laporan menunjukkan peningkatan signifikan kasus depresi, kecemasan, hingga menurunnya kemampuan berkonsentrasi yang berkaitan erat dengan durasi penggunaan layar (screen time) yang berlebihan.
Dilansir GoodStats.id (8 April 2026), sekitar 60 persen Gen Z di Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Sementara itu, survei Deloitte menunjukkan 53 persen Gen Z mengkhawatirkan biaya hidup di tengah kesulitan ekonomi dan meningkatnya harga kebutuhan pokok.
Kekhawatiran tersebut semakin bertambah karena sulitnya memperoleh kepastian karier, tekanan finansial, ekspektasi sosial, hingga perasaan tidak berdaya menghadapi berbagai situasi di luar kendali. Dampaknya terlihat dari meningkatnya perubahan suasana hati, gangguan tidur, kecemasan berlebih, serta kesulitan mengelola emosi.
Mereka adalah generasi yang hidup dalam tsunami informasi. Generasi yang mampu terhubung dengan siapa saja melalui layar gawai. Akan tetapi, ketika akses terhadap informasi semakin terbuka, ketenangan justru menjadi sesuatu yang semakin sulit ditemukan.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan individu yang gagal meregulasi emosi. Kondisi tersebut merupakan cerminan dunia yang sedang menghadapi berbagai krisis secara bersamaan.
Hal ini juga tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara, Gen Z menghadapi tantangan serupa. Ketika ketidakpastian menjadi bagian dari keseharian, rasa cemas bukan lagi pengalaman segelintir orang, melainkan gejala sosial yang dirasakan secara kolektif oleh satu generasi.
Dunia yang diwariskan kepada Gen Z bukanlah dunia yang stabil dan menjanjikan sebagaimana dibayangkan banyak orang. Krisis ekonomi, perubahan iklim, konflik geopolitik, mahalnya biaya hidup, sulitnya memperoleh pekerjaan layak, serta perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat membuat masa depan tampak semakin kabur.
Keresahan tersebut muncul dari berbagai arah yang saling berkelindan. Karena itu, tidak mengherankan apabila banyak anak muda, terutama Gen Z, tumbuh dengan rasa skeptis terhadap sistem yang ada. Pengalaman menyaksikan krisis yang terus berulang telah mengkristal dalam ingatan dan kesadaran mereka.
Menariknya, di tengah tekanan tersebut lahirlah gelombang resistensi. Sebagian Gen Z mulai mempertanyakan budaya kerja yang menguras tenaga, menolak standar kesuksesan yang semata-mata diukur dengan materi, serta mencari pola hidup yang dianggap lebih bermakna.
Gelombang resistensi ini menunjukkan tumbuhnya kesadaran bahwa standar kesuksesan yang dibangun sistem saat ini tidak lagi mampu menjawab kebutuhan hidup mereka.
Akar Kecemasan Generasi di Balik Krisis Peradaban
Meningkatnya kecemasan dan gangguan kesehatan mental pada kalangan Gen Z bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Berbagai persoalan tersebut merupakan bagian dari krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini.
Krisis ekonomi, ketidakpastian politik, kerusakan lingkungan, disrupsi teknologi, hingga perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat menciptakan ketidakpastian hidup yang terus membayangi generasi muda. Dalam kondisi seperti ini, wajar apabila banyak anak muda memandang masa depan dengan penuh kegelisahan.
Namun, menurut penulis, akar persoalan sesungguhnya tidak berhenti pada berbagai krisis tersebut. Semua itu lahir dari sistem kehidupan sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan sekaligus menjadikan materi sebagai tolok ukur utama keberhasilan.
Di sisi lain, media sosial turut menghadirkan tekanan psikologis yang belum pernah dialami generasi sebelumnya dalam skala sebesar sekarang. Setiap hari mereka disuguhi potret kesuksesan orang lain, pencapaian yang dipamerkan tanpa henti, standar kehidupan yang tampak sempurna, serta ekspektasi yang kerap tidak realistis.
Akibatnya, banyak anak muda merasa tertinggal, bahkan ketika sebenarnya mereka sedang bertumbuh sesuai proses hidup masing-masing. Kehidupan berubah menjadi arena perbandingan yang melelahkan, sementara rasa cukup semakin sulit ditemukan.
Lebih jauh, dalam sistem yang memuja materi, manusia perlahan kehilangan tali yang menghubungkannya dengan makna hidup yang hakiki. Banyak anak muda tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus selalu produktif, selalu berhasil, dan selalu lebih unggul daripada orang lain (overachiever).
Ketika tidak mampu memenuhi standar tersebut, mereka merasa gagal, tidak berharga, dan kehilangan arah. Potensi besar yang seharusnya berkembang untuk membangun peradaban justru habis terkuras demi mengejar validasi dan pengakuan.
Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya perhatian serius negara terhadap pembentukan jati diri generasi muda. Banyak pihak berbicara tentang bonus demografi dan potensi generasi masa depan, tetapi mengabaikan kebutuhan mendasar mereka untuk memperoleh ri’ayah, yakni pembinaan, perlindungan, dan arah yang jelas.
Anak muda didorong untuk berkompetisi, tetapi tidak dibekali landasan pemikiran yang kokoh. Mereka dituntut produktif, tetapi tidak diajarkan memahami tujuan hidup secara komprehensif.
Akibatnya, ketika menghadapi berbagai tekanan kehidupan, banyak yang merasa kehilangan pegangan. Kegundahan yang muncul akhirnya bukan hanya disebabkan persoalan ekonomi dan sosial, melainkan juga ketiadaan makna hidup yang tidak mampu diisi oleh kemajuan teknologi maupun kemewahan material.
Stigma Negatif terhadap Gen Z
Alih-alih mendapatkan dukungan, Gen Z justru sering menjadi objek penilaian dan sasaran berbagai stigma negatif. Mereka dicap sebagai generasi yang terlalu sensitif, mudah mengeluh, tidak tahan banting, bahkan dianggap memiliki etos kerja yang lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya.
Narasi seperti ini menimbulkan polarisasi di ruang publik maupun media sosial sehingga menciptakan kesan bahwa berbagai persoalan yang mereka hadapi semata-mata disebabkan kelemahan pribadi.
Padahal, cara pandang tersebut mengabaikan kenyataan bahwa setiap generasi tumbuh dalam konteks sosial yang berbeda. Tantangan yang dihadapi Gen Z jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan kemauan atau ketangguhan personal.
Ketika stigma lebih banyak diberikan daripada empati, yang muncul bukanlah solusi, melainkan jurang pemisah antargenerasi. Anak muda merasa tidak dipahami, sementara generasi yang lebih tua gagal melihat akar persoalan yang sebenarnya.
Dalam kondisi seperti ini, menurut penulis, negara seharusnya hadir sebagai junnah (pelindung) sekaligus ra’in (pengurus urusan rakyat). Namun, realitas menunjukkan berbagai kebijakan belum menyentuh akar persoalan yang dihadapi generasi muda.
Resistensi: Kesadaran Generasi sebagai Energi Perubahan
Meski demikian, memandang Gen Z hanya dari sisi disorientasi dan kerentanannya merupakan kekeliruan.
Di balik berbagai tekanan yang mereka alami, sesungguhnya sedang tumbuh kepekaan terhadap berbagai persoalan di sekitarnya. Generasi ini dikenal lebih kritis terhadap ketidakadilan, lebih berani menyuarakan pendapat, lebih peduli terhadap isu kemanusiaan, serta lebih terbuka membahas persoalan yang sebelumnya dianggap tabu.
Mereka tidak mudah menerima sesuatu hanya karena tradisi atau otoritas mengatakannya. Mereka ingin memahami alasan di balik setiap kebijakan, aturan, maupun fenomena sosial.
Meski sering kali mendapat cibiran dan ejekan dari generasi sebelumnya, sikap kritis inilah yang melahirkan apa yang disebut sebagai gelombang resistensi Gen Z (Kompas.id, 25 Mei 2026).
Pada dasarnya, resistensi tidak selalu berarti penolakan atau pemberontakan. Dalam banyak kasus, resistensi justru merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi yang dianggap tidak ideal.
Ketika anak muda mempertanyakan ketimpangan sosial, mereka menunjukkan bahwa nurani mereka masih hidup. Ketika mengkritik kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat, mereka memperlihatkan bahwa mereka tidak ingin menjadi generasi yang apatis.
Begitu pula ketika mereka berbicara mengenai kesehatan mental, lingkungan, pendidikan, kebijakan pemerintahan, maupun masa depan bangsa. Semua itu menunjukkan bahwa mereka masih memiliki harapan terhadap perubahan.
Dengan kata lain, tekanan psikologis yang mereka rasakan dapat menjadi energi sosial yang mendorong lahirnya kesadaran kolektif.
Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa perubahan besar kerap lahir dari generasi yang gelisah terhadap zamannya. Kegelisahan bukan selalu tanda kelemahan, melainkan dapat menjadi bahan bakar perubahan.
Karena itu, kecemasan Gen Z tidak seharusnya dipandang sebagai akhir dari segalanya. Sebaliknya, kecemasan dapat menjadi titik awal lahirnya generasi yang lebih sadar, lebih peduli, serta lebih siap mengambil peran dalam memperbaiki keadaan.
Namun, menurut penulis, kesadaran dan resistensi saja tidak cukup. Selama sistem sekuler kapitalistik yang melahirkan berbagai krisis tetap dipertahankan, kecemasan hanya akan terus muncul dalam bentuk yang berbeda. Karena itu, diperlukan solusi yang mampu menyentuh akar persoalan secara mendasar.
Islam, Solusi Hakiki Mewujudkan Generasi Emas
Islam menawarkan solusi yang, menurut penulis, tidak hanya menyentuh gejala, tetapi juga akar persoalan. Islam hadir sebagai mabda’ yang memberikan solusi menyeluruh bagi kehidupan manusia, mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt., hubungan antarmanusia, hingga aspek pendidikan, ekonomi, sosial, dan pemerintahan.
Allah Swt. berfirman:
“Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
(QS An-Nahl [16]: 89).
Ayat tersebut dipahami penulis sebagai penegasan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk yang menjelaskan seluruh perkara yang dibutuhkan manusia dalam menjalani kehidupan.
Selanjutnya, penulis menguraikan konsep uqdatul kubra sebagaimana dijelaskan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizham al-Islam, yakni persoalan mendasar mengenai asal-usul manusia, tujuan hidup, dan kehidupan setelah kematian. Menurutnya, penyelesaian problematik pokok tersebut akan menjadi dasar penyelesaian berbagai persoalan lainnya.
Penulis juga menjelaskan bahwa pembinaan generasi dalam Islam dimulai dari penanaman akidah yang benar sehingga terbentuk asy-syakhshiyyah al-Islamiyah (kepribadian Islam), yaitu pola pikir dan pola sikap yang dibangun di atas syariat.
Sebagai contoh, penulis mengangkat kisah Sultan Muhammad al-Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel berbekal keimanan, kecerdasan strategi, dan keyakinan terhadap bisyarah Rasulullah saw.
Menurut penulis, karakter unggul tersebut lahir dari sistem pendidikan Islam yang membentuk kepribadian sekaligus negara yang menjalankan fungsi ri’ayah terhadap rakyat.
Rasulullah saw. bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.”
(HR Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menjadi landasan bahwa negara dalam Islam berfungsi sebagai pelayan sekaligus pelindung umat.
Penulis kemudian menguraikan tanggung jawab negara dalam aspek ekonomi, pergaulan, layanan kesehatan, serta penegakan hukum sebagai bagian dari pengurusan rakyat.
Pada bagian penutup, penulis menegaskan bahwa di tengah berbagai krisis global, pemuda Islam tidak boleh larut dalam pesimisme ataupun berhenti pada sikap resistif. Energi, idealisme, dan semangat perubahan yang dimiliki harus diarahkan untuk mengemban mabda’ Islam serta memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara kaffah.
Menurut penulis, generasi emas tidak akan lahir dari sistem yang melahirkan kecemasan, melainkan dari peradaban Islam yang membentuk manusia bertakwa, negara yang menjalankan ri’ayah terhadap umat, serta masyarakat yang menjadikan rida Allah Swt. sebagai tujuan hidup. (*)
Wallahu a’lam bishawab.
Penulis:
Syarfiah Munzani
(Pemerhati Remaja)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.








