MAKASSAR — Upaya menjaga kualitas pangan sekaligus menekan gejolak harga terus dilakukan Pemerintah Kota Makassar. Melalui Dinas Ketahanan Pangan, sebuah inovasi baru resmi dihadirkan untuk memperkuat rantai distribusi pangan, yakni SIGAPPA (Sistem Gerak Pasokan Pangan), kendaraan logistik berpendingin yang dirancang khusus mengangkut komoditas pangan segar dari sentra produksi hingga ke tangan konsumen.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar, Nirman Nisman Mungkasa S.Stp., M.AP., menjelaskan, kehadiran SIGAPPA dilatarbelakangi masih lemahnya sistem logistik pangan yang terintegrasi dan berbasis rantai dingin (cold chain), baik di tingkat nasional maupun daerah. Kondisi tersebut selama ini menyebabkan tingginya risiko kerusakan komoditas, distribusi yang tidak efisien, hingga fluktuasi harga yang berdampak pada inflasi.
“Selama ini kelompok urban farming dan pelaku usaha pangan sering menghadapi kendala dalam mendistribusikan hasil produksinya. Banyak komoditas diangkut tanpa pengendalian suhu sehingga kualitasnya cepat menurun dan berpotensi mengalami kerusakan sebelum sampai ke konsumen,” ujarnya.
Kondisi tersebut tidak hanya merugikan produsen, tetapi juga berdampak pada pasokan pangan masyarakat dan berpotensi memicu kenaikan harga di pasar.
Melalui SIGAPPA, Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar menerapkan sistem rantai dingin (cold chain) dalam distribusi pangan. Teknologi ini memungkinkan suhu komoditas tetap terjaga selama perjalanan sehingga kesegaran, kualitas, dan keamanan pangan dapat dipertahankan hingga sampai ke konsumen.
“SIGAPPA hadir untuk memastikan hasil produksi masyarakat dapat didistribusikan dengan cepat, aman, dan efisien tanpa kehilangan kualitas,” demikian konsep utama yang diusung dalam inovasi tersebut.
Lebih dari sekadar kendaraan pengangkut, SIGAPPA menjadi instrumen strategis dalam memperkuat ketahanan pangan daerah. Mobil ini juga akan mendukung distribusi komoditas untuk berbagai program pemerintah, termasuk Gerakan Pangan Murah (GPM) yang selama ini menjadi salah satu andalan pengendalian inflasi di Kota Makassar.
Keunggulan SIGAPPA terletak pada kemampuannya menjaga stabilitas suhu selama proses distribusi. Dengan sistem tersebut, risiko kerusakan komoditas dapat ditekan secara signifikan sehingga kehilangan hasil pangan atau food loss dapat diminimalkan.
Selain itu, jangkauan distribusi menjadi lebih luas. Komoditas pangan kini dapat dikirim ke lokasi yang lebih jauh tanpa mengorbankan kualitas produk. Kondisi ini membuka peluang pasar yang lebih besar bagi kelompok urban farming, petani, nelayan, dan pelaku usaha pangan lokal.

Dampak ekonomi yang ditimbulkan juga tidak kecil. Distribusi yang lebih efisien akan membantu menjaga stabilitas pasokan, mengurangi biaya akibat kerusakan produk, meningkatkan nilai jual komoditas, sekaligus memperkuat daya saing pangan lokal di pasar.
Inovasi ini sejalan dengan agenda pembangunan nasional yang menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas utama menuju Indonesia Emas 2045. Di tingkat daerah, SIGAPPA juga mendukung visi Makassar sebagai kota yang unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pangan yang berkualitas dan bergizi.
Dalam pelaksanaannya, Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar akan melakukan pendataan produksi kelompok urban farming, pengaturan jadwal distribusi, pengendalian suhu sesuai jenis komoditas, hingga monitoring dan evaluasi untuk memastikan sistem berjalan optimal.
Sejak digagas, SIGAPPA diproyeksikan mampu memberikan berbagai manfaat strategis, mulai dari menjaga kesegaran komoditas pangan, mengurangi kehilangan hasil produksi, meningkatkan efisiensi distribusi, menjaga stabilitas harga, hingga memperkuat ketahanan pangan daerah.
Tak hanya itu, inovasi ini juga diharapkan menjadi model distribusi pangan modern yang dapat direplikasi oleh daerah lain dalam menghadapi tantangan pasokan pangan dan pengendalian inflasi.
Dengan SIGAPPA, Pemerintah Kota Makassar tidak sekadar menghadirkan kendaraan berpendingin. Lebih dari itu, kota ini sedang membangun mata rantai distribusi pangan yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan—memastikan hasil panen tetap segar saat meninggalkan kebun dan tetap berkualitas ketika tiba di meja makan masyarakat. (Ag4ys/4dv)













