TORAJA UTARA – Hamparan awan yang menyelimuti perbukitan Lolai kini memiliki ikon baru yang menarik perhatian wisatawan. Di kawasan Batara White House, Kecamatan Kapalapitu, berdiri megah replika Kapal Nuh berbentuk Phinisi yang tampak seolah sedang berlayar di atas lautan awan khas Negeri di Atas Awan, Toraja Utara.
Bangunan unik tersebut menjadi salah satu daya tarik terbaru yang memperkaya destinasi wisata di kawasan Lolai. Berada sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Rantepao, Batara White House menawarkan pengalaman yang berbeda bagi wisatawan. Tidak hanya menikmati panorama alam pegunungan dan fenomena lautan awan yang terkenal, pengunjung juga dapat merasakan sensasi menginap di dalam kapal tematik, menikmati suasana pegunungan yang sejuk, hingga menyeruput kopi arabika Toraja sambil menyaksikan pemandangan matahari terbit dari ketinggian.
Pemilik Batara White House, Agus Tuku Sarira, mengatakan pembangunan replika Kapal Nuh Phinisi dilatarbelakangi keinginannya menghadirkan sesuatu yang baru bagi perkembangan pariwisata Toraja. Menurutnya, destinasi wisata membutuhkan inovasi agar tetap menarik dan mampu memberikan pengalaman yang berkesan bagi wisatawan yang datang berkunjung.
“Kami berharap keberadaan replika Kapal Nuh jenis Phinisi ini dapat membuat pariwisata Toraja semakin menarik, lebih bervariasi, dan mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk datang menikmati keindahan daerah ini,” ujarnya, Kamis (25/6/2026)
Agus menjelaskan, kapal tersebut tidak hanya dibangun sebagai objek wisata semata. Di balik bentuknya yang megah, terdapat pesan dan nilai spiritual yang ingin disampaikan kepada para pengunjung. Inspirasi pembangunan kapal berasal dari kisah Nabi Nuh yang dikenal sebagai simbol keselamatan, ketaatan, dan kepercayaan kepada Tuhan.
Menurutnya, keberadaan bangunan tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa manusia harus selalu mengandalkan Tuhan dalam menghadapi berbagai perjalanan dan tantangan kehidupan.
Keunikan replika Kapal Nuh Phinisi juga terlihat dari proses pembangunannya. Material dan pengerjaan konstruksi melibatkan perajin kapal dari Bulukumba yang dikenal sebagai daerah asal kapal Phinisi. Sementara itu, proses penyelesaian akhir dilakukan oleh tenaga ahli dari Manado. Sebagian besar konstruksi menggunakan kayu ulin asal Kalimantan yang terkenal memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca dan usia pemakaian yang panjang.
Batara White House sendiri telah beroperasi sekitar tiga tahun terakhir dan berkembang menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang berkunjung ke Lolai. Seiring meningkatnya kunjungan wisatawan, kawasan ini terus melakukan pengembangan fasilitas untuk memberikan pengalaman yang lebih lengkap bagi pengunjung.
Selain replika Kapal Nuh Phinisi yang resmi dibuka untuk umum pada tahun 2026, kawasan wisata ini menyediakan beragam pilihan akomodasi. Wisatawan dapat memilih menginap di rumah adat Toraja, rumah bergaya Manado, hunian unik berbentuk rumah kurcaci, area camping, hingga kamar-kamar tematik yang berada di dalam kapal.
Pengalaman menginap di Kapal Nuh Phinisi menjadi salah satu yang paling diminati. Di dalam kapal tersedia tujuh kamar dengan konsep dunia pelayaran. Lima kamar yang berada di bagian bawah diberi nama Mualim 1 hingga Mualim 5, sedangkan dua kamar di bagian atas diberi nama Kapten 1 dan Kapten 2. Penamaan tersebut menghadirkan nuansa layaknya berada di atas kapal sungguhan yang sedang berlayar mengarungi lautan.

Secara keseluruhan, Batara White House memiliki sekitar 21 unit akomodasi yang terdiri atas berbagai tipe kamar dan area perkemahan. Tarif menginap pun cukup beragam, mulai dari Rp400 ribu hingga Rp1,75 juta per malam, tergantung jenis kamar dan fasilitas yang dipilih.
Tak hanya menyediakan akomodasi, kawasan ini juga dilengkapi aula serbaguna yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai dari family gathering, pelatihan, pertemuan komunitas, kegiatan perusahaan, hingga acara keluarga. Dengan latar panorama Negeri di Atas Awan dan udara pegunungan yang sejuk, fasilitas tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi rombongan yang ingin menggelar kegiatan di luar ruangan.
Di area Kapal Nuh Phinisi juga terdapat coffee shop yang menjadi tempat favorit wisatawan menikmati suasana alam Toraja. Dari lokasi ini, pengunjung dapat menyaksikan hamparan awan yang membentang di antara perbukitan sambil menikmati secangkir kopi hangat.
Salah satu menu andalan yang banyak diminati adalah Kopi Batara House, kopi arabika yang berasal dari kawasan Kapalapitu dan Lolai. Selain disajikan untuk dinikmati langsung, kopi tersebut juga tersedia dalam kemasan sehingga dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh khas Toraja. Kehadiran coffee shop ini sekaligus menjadi upaya memperkenalkan hasil bumi lokal kepada wisatawan yang datang dari berbagai daerah.
Bagi wisatawan harian, Batara White House juga menawarkan berbagai spot foto menarik dengan latar pegunungan, lautan awan, dan kemegahan Kapal Nuh Phinisi. Tak heran jika kawasan ini menjadi salah satu lokasi favorit untuk mengabadikan momen saat berkunjung ke Lolai.

Salah seorang wisatawan, Wulan, mengaku terkesan dengan suasana yang ditawarkan Batara White House. Menurutnya, kebersihan kawasan, kenyamanan fasilitas, serta kehadiran Kapal Phinisi yang tampak begitu nyata menjadi pengalaman berbeda dibandingkan destinasi wisata lain yang pernah dikunjunginya.
Ia juga memuji cita rasa kopi lokal yang disajikan di kawasan tersebut. Menikmati kopi arabika Toraja sambil memandang pegunungan dan hamparan awan, menurutnya, menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Dengan perpaduan panorama alam yang memukau, akomodasi tematik, kopi lokal berkualitas, serta sentuhan budaya dan nilai spiritual, Batara White House menghadirkan wajah baru pariwisata Toraja. Kehadiran Kapal Nuh Phinisi yang berdiri megah di Negeri di Atas Awan semakin memperkuat daya tarik Lolai sebagai salah satu destinasi unggulan Sulawesi Selatan yang layak masuk dalam daftar kunjungan wisatawan Nusantara maupun mancanegara. (4nny)













