Advertisement - Scroll ke atas
  • Bapenda Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Stunting
Opini

Membangun Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas

148
×

Membangun Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas

Sebarkan artikel ini
Membangun Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas
Muthmainnah Ilham, S.Pd., M.Si.
  • Pilkada Sulsel (KPU Sulsel)
  • Pemprov Sulsel
  • PDAM Kota Makassar
  • Banner DPRD Makassar

OPINI—Indonesia akan mengalami usia emas pada tahun 2045. Saat itu, Indonesia akan berusia satu abad atau 100 tahun. Masa itu, Indonesia diharapkan menjadi negara maju dan setara dengan negara adidaya.

Pada Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31 Tahun 2024, Sabtu (29 Juni 2024) yang mengangkat tema “Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas”, Menteri Koordinator Pembangunan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa keluarga adalah faktor penentu dan pembangunan negara adalah kuncinya. Oleh karena itu, pemerintah saat ini berupaya keras untuk mewujudkan keluarga Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Tujuan pemerintah adalah membentuk keluarga berkualitas sejak masa sebelum kehamilan, kehamilan, dan 1000 hari pertama kehidupan manusia (kemenkopmk.go.id, 30/6/2024).

Jika dicermati, acara peringatan Harganas tahun ini tidak ada bedanya dengan perayaan sebelumnya. Hanya seremonial belaka. Faktanya permasalahan keluarga di Indonesia tidak sesederhana yang kita bayangkan. Misalnya saja kedudukan ibu di tengah-tengah keluarga.

Padahal, peran ibu sangat penting. Namun, jika ia ditempatkan tidak sebagaimana mestinya, maka berbagai ketimpangan akan terjadi. Buktinya, saat ibu harus keluar rumah untuk bekerja, posisinya telah berubah dari tulang rusuk menjadi tulang punggung keluarga.

Peran domestiknya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga pun akhirnya terganggu. Demikian pula, peningkatan tanggung jawab dan menanamkan akidah pada anak akan berkurang.

Keluarga harus menjadi tempat pertama di mana anak-anak dan setiap anggota keluarga dapat belajar tentang Penciptanya. Sayangnya, rusaknya pemikiran masih terjadi dalam keluarga, dan ini jelas bukan penyakit fisik.

Dengan demikian, segala solusi keluarga yang diberikan pemerintah tidak menyentuh akar permasalahannya. Rusaknya pemikiran dalam masyarakat justru turut andil dalam tercemarnya pemikiran dalam keluarga.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui Kementerian PPPA. KPPA juga menghimbau seluruh keluarga untuk memperkuat keluarga dan pendidikan dengan melakukan intervensi guna menciptakan generasi tangguh di masa depan.

Melestarikan, memantau, dan memastikan anak memiliki ketahanan yang kuat, adaptif, dan kreatif untuk menciptakan generasi emas yang berkualitas guna memperkuat ketahanan bangsa.

Akan tetapi, jika kita lihat berbagai program tersebut, sesungguhnya keluarga dan masyarakatlah yang bekerja secara langsung. Artinya, negara membebankan pelaksanaannya kepada masyarakat, negara hanya memfasilitasi beberapa program untuk kemudian dijalankan oleh rakyatnya sebagai pelaksana utama.

Pemerintah makin berlepas tangan dari tanggung jawabnya sebagai penanggung jawab atas seluruh problematika yang menimpa masyarakat. Terlebih jika sistem sekuler kapitalisme masih bercokol di negeri ini, maka akan sulit mewujudkan Indonesia menjadi negara maju, apalagi bersaing dengan negara adidaya.

Keluarga adalah institusi terkecil dalam masyarakat. Dari keluargalah awal sebuah generasi terbentuk. Siapakah yang tidak mendambakan keluarga sakinah mawadah dan rahmah? Pasti semua menginginkannya. Oleh karena itu, bangunan keluarga ideal adalah keluarga yang kuat dan mampu menghasilkan generasi tangguh bahkan mampu membangun peradaban mulia.

Namun demikian, di sisi lain, tumbuh suburnya sekularisme yang ditopang oleh negara bersistem demokrasi-kapitalisme dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sungguh telah mencabut format keluarga ideal sekaligus menyesatkan setiap keluarga muslim. Kapitalisme yang menjunjung tinggi kebebasan telah menjadikan eksistensi keluarga terancam, padahal keluarga adalah fondasi dasar suatu negara.

Dalam keluarga Islam, seorang suami bukan saja berperan sebagai pencari nafkah dan pemimpin keluarga, akan tetapi juga seorang dai bagi istri dan anak-anak mereka. Ia harus menjadi teladan dalam pelaksanaan ajaran Islam dan menjelaskan kebenaran agama ini.

Ia pun tampil sebagi pelindung bagi anak dan istrinya bukan saja dari ancaman fisik yang menyerang keluarga mereka seperti kemiskinan atau penyakit. Tapi juga dari serangan pemikiran yang mengancam akidah dan akhlak keluarganya.

Setelah para ayah, maka yang juga bertanggungjawab dalam pembinaan keluarga adalah para ibu. Bahkan mereka memiliki peran dan fungsi sebagai ‘ummun wa rabbatu bayt’, ibu dan pengatur rumah tangga. Semenjak dari Rahim, seorang anak sudah bersentuhan dengan ibu mereka, dan semenjak itu pula pendidikan kepada anak-anak mereka harus sudah mulai.

Seorang ibu dalam islam adalah madrasatul ula (sekolah yang pertama) bagi anak-anak mereka. Sebelum mereka mencicipi pendidikan di bangku sekolah. Oleh akarena itu, peran seorang ayah maupun ibu sangat penting dalam Islam, termasuk dalam mengemban amanah dakwah di tengah keluarga maupun masyarakat.

Dalam rangka mewujudkan keluarga yang ideal, jelas kita butuh negara yang menerapkan aturan Allah secara kaffah. Sebagai makhluk ciptaan Allah, sudah selayaknya kita meyakini bahwa hanya aturan Allah saja yang tepat untuk mengatur hidup kita.

Hanya dengan penerapan Islam kaffah dalam bingkai Negara yang mampu menyuburkan individu-individu yang bertakwa dan senantiasa terikat dengan hukum Allah, sehingga mereka tumbuh menjadi orang-orang yang siap membangun keluarga dan peradaban.

Saatnya kita kembali pada penerapan sistem kehidupan Islam yang lahir dari akidah Islam yang datang dari Allah Taala. Hanya sistem Islam, sistem yang datang dari Yang Maha Sempurna, yang sesuai fitrah manusia dan memuaskan akal manusia yang dapat melahirkan ketenteraman bagi umat manusia. Melahirkan keluarga ideal dan berkualitas menuju Indonesia emas. (*)

 

Penulis: Muthmainnah Ilham, S.Pd., M.Si

 

 

***

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

  • DPPKB Kota Makassar
error: Content is protected !!