OPINI—Belum hilang amarah umat Islam dengan aksi pembakaran Al-Qur’an di Swedia beberapa waktu lalu, umat Islam kembali disuguhi ulah Charlie Hebdo yang mencetak dan menayangkan karikatur Nabi yang didukung ungkapan kebencian terhadap Islam oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron di bulan peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ ini.

Gejolak di Prancis semakin mencuat setelah peristiwa pembunuhan yang menimpa seorang guru sejarah, Samuel Paty (47), pada 16 Oktober lalu. Kejadian tersebut dipicu oleh materi yang dibahas tentang kartun Nabi Muhammad Saw, di dalam kelas (cnnindonesia.com, 27/10).

Macron menyatakan, pelaku adalah seorang radikal Muslim. Dia menyebut Paty sebagai martir karena mengajarkan kebebasan berpendapat. Lalu memerintahkan supaya aparat keamanan mengawasi sejumlah organisasi masyarakat Muslim, dan menutup sejumlah masjid yang diduga menyebarkan paham radikal.

Tidak lama berselang, Macron kembali memantik perdebatan setelah menyampaikan pernyataan pada Jumat (23/10), pekan lalu.

Dia mengatakan, Islam adalah “agama yang mengalami krisis di seluruh dunia”. Kemudian mengatakan tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekspresi.

Gejolak akibat aksi Prancis ini pun menuai kontroversi, pemboikotan terhadap produk-produk Prancis hingga sejumlah aksi massa di berbagai negara yang mengatakan kecamannya.

Dari Sekularisme Hingga Islamofobia

Polemik kartun Nabi di Prancis adalah hal yang berulang sejak 2005 silam. Ini dikarenakan sekularisme atau “Laïcité” dalam bahasa Prancis tertanam kuat dalam tubuh Prancis.

“Sekularisme adalah pengikat persatuan Prancis. Jangan biarkan kita masuk ke dalam perangkap yang disiapkan oleh kelompok ekstremis, yang bertujuan melakukan stigmatisasi terhadap seluruh Muslim,” ujar Macron.

Prancis adalah rumah bagi lebih dari 5 juta warga Muslim yang sebagian besar bukanlah penganut ajaran radikal, bahkan banyak yang terpengaruh oleh undang-undang sekuler negara itu.

Serangkaian hukum Prancis telah membatasi cara berpakaian wanita Muslim dan simbol-simbol berpakaian umat agama lain selama dua dasawarsa terakhir. Pada 2004, pemerintah melarang penggunaan jilbab, kopiah Yahudi (Yarmulke), dan salib Kristen besar di sekolah umum. Burqa dan niqab yang menutupi wajah kemudian juga dilarang pada 2011.

Jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang selama ini menjadi salah satu model liberalisme dan sekulerisme, apa yang dilakukan pemerintah Prancis jauh melebihi kebijakan Negeri Paman Sam.

Pun jika dibandingkan dengan negara tetangga, Jerman, sikap Prancis jauh lebih keras. Padahal Jerman dipimpin oleh Kanselir Angela Merkel yang berasal dari Partai Persatuan Kristen Demokrat.

Sekularisme yang kian menggila adalah penyebab aksi penistaan Nabi di dunia Eropa.

Sekularisme telah menjadikan liberalisme semakin hidup subur dalam alam demokrasi yang mendewakan konsep kebebasan; kebebasan beragama, kebebasan kepemilikan, kebebasan berpendapat, dan kebebasan berperilaku.

Kebebasan berekspresi yang menjadi dalih atas penghinaan Nabi tidak lain adalah wujud inkonsistensi demokrasi. Ini dikarenakan, pada saat yang sama, Prancis sedang merenggut hak muslim untuk bebas beragama.

Padahal di dalam Islam, pembelaan terhadap nabi adalah syariat yang harus dilakukan kaum muslim.

Kebencian yang makin hari makin nyata juga tidak lain adalah upaya Barat yang semakin menguatkan Islamofobia di tengah masyarakat yang merupakan indikasi nyata akan ketakutan dunia Barat terhadap kebangkitan Islam.

Ini pulalah yang menjadi motif untuk terus mencitra-burukkan Islam, melecehkan syariat, menistakan Nabi hingga menguatkan hegemoni dan dominasi mereka di negeri-negeri kaum muslimin.

Kaum Muslimin Butuh Khilafah

Apa yang terjadi hari ini juga sangat disayangkan. Bagaimana tidak, ketika aksi penistaan Nabi ﷺ terus berulang namun kaum muslimin hanya bisa mengecam dan memboikot produk.

Nabi Muhammad ﷺ diutus membawa Islam untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Membawa manusia dari kegelapan Jahiliyah menuju cahaya Islam. Islam pun menerangi dunia sepanjang 13 abad lamanya.

Namun, sejak kehancuran Daulah Khilafah tahun 1924, umat Islam terpecah belah dan tak punya pelindung. Kaum muslimin tak lagi menerapkan syariat Islam secara kaffah, melainkan hanya sebatas ibadah ritual.

Padahal, tercatat dalam sejarah, Islam dan kaum muslimin pernah kuat dan menjadi bangsa yang disegani dunia, termasuk oleh Prancis.

Hal ini tergambar pada apa yang pernah dilakukan di masa Utsmaniyah.
Khalifah Abdul Hamid II dengan tegas pernah akan memerangi Prancis dan Inggris jika drama bertajuk “Muhammad atau kefanatikan” karya Voltaire (pemikir yang kerap menghina Nabi) tetap dipentaskan. Ketegasan Khalifah memukul telak Prancis yang serta-merta membatalkan drama tersebut.

Walhasil kaum muslimin tidak boleh berdiam diri menyaksikan banyaknya pelecehan yang menimpa Islam, Rasul-Nya, serta ajaran-Nya.

Tidak mencukupkan diri sekadar mengecam dan memprotes apalagi hanya memboikot produk, melainkan harus mengembalikan kemuliaan dan kehormatan Islam dengan berusaha sekuat tenaga mengembalikan penjaganya yaitu institusi Khilafah. Karena dengan Khilafah-lah kemuliaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlindungi.

Wallaahu’alam bi ash-shawab.

Penulis: Kiki Nurmala Maha Putri, S.Si. (Aktivis Muslimah)