Dulu aku suka padamu dulu aku memang suka (Ya-ya-ya)

Dulu aku gila padamu dulu aku memang gila

Minuman keras (miras), apa pun namamu

Tak akan kureguk lagi

Dan tak akan kuminum lagi

Walau setetes (setetes). [Rhoma Irama] 

OPINI—Siapa yang tak asing dengan lirik di atas? Mirasantika sebuah lagu fenomenal bagi penikmat lagu dangdut tanah air. Lagu ini mengingatkan kepada kita bahwa bahwa miras (minuman keras) atau minol (minuman alkohol) adalah minuman berbahaya bagi yang mengkonsumsi bahkan bahayanya pun bisa sampai kepada orang yang tidak mengkonsumsinya.

Adalah Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2021 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor yang diributkan. Impor minuman alkohol jadi salah satu yang dipersoalkan oleh Ketua Bidang Dakwah MUI Cholil Nafis.

Dalam Pasal 50 Permendag Nomor 20 Tahun 2021, memang diatur mengenai ketentuan dalam peraturan menteri ini yang tidak berlaku terhadap impor, salah satunya minuman beralkohol.

“Pengecualian terhadap impor yang tidak dilakukan untuk kegiatan usaha berupa Minuman Beralkohol sebagai barang bawaan penumpang untuk dikonsumsi sendiri,” demikian bunyi ayat 2 poin a pasal 50 Permendag Nomor 20 Tahun 2021.Penumpang Bisa Bawa Minuman Alkohol Maksimal 2.250 Mililiter.

Dalam lampiran barang yang dikecualikan impornya dan tidak dilakukan untuk kegiatan usaha (XXIII) tentang minuman beralkohol nomor 128 Permendag 20/2021, salah satu kategori pengecualian yakni barang bawaan penumpang untuk dikonsumsi sendiri. “Paling banyak 2.250 ml per orang,” demikian bunyi lampiran tersebut.

Peraturan Mendag ini menggugurkan aturan sebelumnya, yakni Permendag Nomor 20 tahun 2014 dan Permendag Nomor 25 tahun 2019. Hal itu ditegaskan dalam dalam pasal 53 poin d beleid tersebut.

Adapun dalam pasal 27 Permendag nomor 20 tahun 2014, diatur setiap orang dari luar negeri dilarang membawa minuman beralkohol untuk dikonsumsi sendiri paling banyak 1.000 mililiter per orang dengan isi kemasan tidak kurang dari 180 mililiter. (KumparanBISNIS 08/11/2021).

MUI mengkritisi aturan Kemendag soal impor, salah satunya aturan impor minuman keras. MUI menilai aturan ini bisa merusak anak bangsa.

Menurut Ketua MUI Cholil Nafis dalam keterangannya, Minggu (7/11), Permendag RI No. 20 tahun 2021 Tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor ini memang memihak kepentingan wisatawan asing agar datang ke Indonesia, tetapi merugikan anak bangsa dan pendapatan negara.

Cholil Nafis berharap, Kemendag tak hanya memikirkan kepentingan wisatawan asing, tetapi juga anak bangsa.(KumparanNEWS 07/11/2021).

Minol bawa untung bagi negara?

Menelisik aturan baru mengenai minol (minuman alkohol) ini dapat dipastikan bahwa yang dibangun adalah paradigma materialisme sentris di mana pandangan berpusat pada manusia yang dijadikan objek dari kepentingan bisnis dan finansial. Mengenyampingkan korban akibat minol Seperti kriminalitas, Kerusakan moral, bahkan korban jiwa dengan dalih menarik wisatawan, kemajuan sektor pariwisata, tenaga kerja, cukai dan seterusnya.

Jika adanya keuntungan bagi negara, pemantik wisatawan mancanegara berdatangan ke negara ini, sehingga aturan baru ini dicetuskan, maka sebuah kesalahan yang cukup besar karena minol adalah faktor yang sangat kecil penarik wisatawan mancanegara.

Di samping itu minol yang terkenal merusak akal, dapat menimbulkan kejahatan, kekerasan, tindak perkosaan, bahkan merusak kesehatan. Sehingga jika dibandingkan antara untung dan buntung hasil dari minol ini  tentu buntungnya jauh lebih besar.

Terlepas bahwa aturan baru ini membatasi kadar minol yang boleh dibawa oleh para wisatawan, tak menafikan efek buruk yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi minol tersebut.

Tapi begitulah negeri yang berasaskan kapitalisme, yang menjadikan akal dan keuntungan materi sebagai timbangan dalam menetapkan sebuah aturan. Kemaslahatan manusia bahkan nyawa manusia dijadikan tolak ukur nomor dua sedangkan  materi sebagai tolak ukur pertama dan utama.

Sistem Islam solusi tuntas pelarangan Minol

Pengharaman khamr dan segala jenisnya adalah bagian dari kemuliaan syariah Islam yg memberikan perlindungan pada akal. Minol jelas menimbulkan kekacauan pada akal manusia. Cikal bakal berbagai tindak kejahatan.

Bukan merupakan ciri orang beriman bila kemudian mencari-cari dalih untuk menghalalkannya. Misal, berdalih, jika dilarang, Minol akan mematikan perekonomian sebagian orang & juga merugikan negara. Islam begitu tegas membabat habis minol hingga ke akar-akarnya. Industri minol tidak akan diberi kesempatan untuk  berdiri dalam sistem islam, dan mustahil terjadi peredaran bebas atas barang barang haram.

Sebab Rasulullah Saw dengan keras melaknat dalam hal minol sepuluh pihak, pemerasnya, yang meminta diperaskan, peminumnya, pembawanya, yang minta dibawakan, penuangnya, penjualnya, pemakan harganya, pembelinya dan yang minta dibelikan. (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadis di atas sekaligus juga menunjukkan bahwa kesepuluh pihak tersebut telah melakukan tindak kriminal dan layak dijatuhi sanksi sesuai ketentuan syariah.

Nabi Muhammad Saw pernah mencambuk peminum khamar dengan pelepah kurma dan terompah sebanyak empat puluh kali.” (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Maka sangat dipastikan hanya sistem Islam yang mampu membabat habis Minol hingga ke akar-akarnya, karena orientasi sistem Islam adalah untuk kemaslahatan masyarakat tanpa melabrak syariat Allah, bukan orientasi keuntungan materi semata. Wallahu a’lam. (*)

Penulis: Wana Zain (Muslimah Jeneponto)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.