Nelly, MPd (Aktivis Peduli Perempuan, Pemerhati Masalah Keumatan).

OPINI – Bicara tentang kaum hawa hari ini masih berkutat seputar problem kesetaraan gender yang menjadi komoditi propaganda Barat yang dikampanyekan pada kaum perempuan. Karenanya, hal ini pun menjadi sesuatu yang rutin diproyeksikan di negeri-negeri Muslim, tak terkecuali di negeri tercinta ini.

Pada akhir November 2019 tahun lalu, komnas perempuan mengeluarkan Siaran Pers tentang Refleksi 25 Tahun Pelaksanaan Beijing Platform for Action (BPfA+25) di Indonesia dengan komitmen negara dalam menjawab tantangan 12 bidang kritis kehidupan perempuan.

Diantara ke 12 butir bidang kritis kehidupan perempuan tersebut salah satunya tentang kesetaraan perempuan dalam pendidikan dan pemberdayaan pelatihan.

Komitmen inilah yang saat ini terus digalakkan oleh negara bagi kaum perempuan bahkan sudah diundang-undangkan sebagai peraturan yang mengikat.

Tujuan dari kesetaraan pendidikan ini diharapkan akan dapat menjadi peluang perempuan menyejahterakan hidupnya.

Bahkan di dalam negeri sendiri sepanjang 25 tahun sejak BPFA 1995 sudah banyak kemajuan pada kondisi pendidikan perempuan lebih behasil melanjutkan sekolah kejenjang lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki.

Seiring perjalanan waktu realitasnya terdapat kemajuan dalam pendidikan selama 25 tahun terakhir. Namun kekerasan terhadap wanita dan anak perempuan masih terjadi di banyak wilayah di seluruh dunia, menurut sebuah laporan yang dirilis pada Rabu (4/3) dari UNICEF, Entitas PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women), dan Plan International.

Bagaimana pun, sejauh ini pelaksanaan BPFA belum maksimal. Setelah 25 tahun berlalu sejak 1995, progresnya lambat. Sejumlah pejuang feminis liberal pun ‘marah’, akibat output perjuangan mereka yang masih jauh dalam pencapaian kesetaraan gender.

Ketimpangan kekayaan, kekuasaan, dan sumber daya menjadi lebih besar dari sebelumnya. Tersebab hal itu, BPFA+25 pada 2020 ini diharapkan dapat menghasilkan review, pembelajaran dan langkah-langkah signifikan untuk pemajuan HAM perempuan ke depan.

Dari sini dapat kita lihat, bahwa dengan adanya konsensus bersama dan berkomitmen untuk menyelesaikan masalah perempuan dengan ide-ide feminisme dan kesetaraan gender belum juga menjadi solusi.

Sebab problematik perempuan selama ini semata-mata akibat diterapkannya sistem aturan sekuler kapitalisme di tengah kita. Maka, BPFA+25 hanya ibarat injury time (perpanjangan waktu dari waktu normal) dalam mencari solusi global permasalahan perempuan.

Fakta yang menjadi titik asal masalah hanya diselesaikan dengan fakta yang baru, tanpa dihilangkan akar masalahnya.

Tentu saja solusi hakiki tidak akan pernah didapatkan, karena sumber masalah bagi kapitalisme adalah sekularisme itu sendiri. Kita lihat hari ini kaum perempuan diatur dengan aturan sekuler.

Profil mereka kian bebas dieksploitasi, baik Media massa dan ide Barat yang liberal memberi ruang lebar kebebasan berekspresi.

Dalihnya, demi aktualisasi hak asasi dan kesetaraan gender. Seolah-olah kaum perempuan selama ini ‘terkekang’ dengan aturan Islam yang diopinikan sudah ketinggalan zaman, kampungan, udik, kuno. Padahal stigma negaif ini bertujuan menjauhkan kaum perempuan dari Islam itu sendiri.

Artinya kaum muslimah dan Dunia Islam harus jeli melihat persoalan ini dan tentunya mesti segera berbenah. Harus mengganti arah pandang tentang nasib kaum perempuan yang selama ini penuh dengan derita.

Sungguh urgen bagi Dunia Islam untuk terus mengampanyekan narasi positif tentang kemuliaan perempuan dalam Islam. Bahwa kemuliaan itu hanya tercapai dengan terikat pada aturan Islam.

Perlu ada edukasi dan kampanye bersama yang bertujuan untuk menentang narasi dominan tentang kesetaraan gender dan klaim-klaimnya dalam memajukan hak-hak kaum perempuan dan kemajuan bangsa.

Padahal kenyataannya tidaklah seperti itu. Maka kita perlu untuk menyajikan sistem Islam yang komprehensif dan unik tentang prinsip-prinsip, hukum, dan sistem secara terperinci.

Dalam ajaran Islam laki-laki dan perempuan itu sama kedudukannya dihadapan Allah SWT, yang membedakan hanyalah takwanya.

Hak dan kewajiban pun sudah diatur sedemikian adilnya oleh Islam bagi laki-laki dan perempuan. Yang jika dijalankan dengan penuh keimanan akan memberikan kebahagiaan.

Khusus dalam hal pendidikan Islam memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan untuk mempelajari alam sekitar dan memanfaatkan ciptaan Allah SWT.

Dalam rangka memberikan manfaat bagi umat manusia di segala bidang termasuk ilmu pengetahuan, kedokteran, industri, dan teknologi.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika suasana belajar dan kajian yang ditumbuhkan sistem Islam akan membuat pendidikan perempuan juga berkembang. Hasilnya, ribuan ulama perempuan dihasilkan pada masa kepemimpinan Islam dalam sejarahnya.

Sejarah juga mencatat kaum perempuan pernah menjadi unggul dalam bidang-bidang studi seperti kedokteran, astronomi, matematika, kaligrafi, puisi, sains, dan teknik.

Contohnya, Sutayta al-Mahamali merupakan sosok yang multitalenta yang lebih dikenal sebagai pakar matematika, khususnya aritmatika.
Bahkan menjadi salah satu ilmuwan yang berhasil memecahkan solusi sistem persamaan dalam matematika. Catatannya tentang sistem persamaan pun banyak dikutip oleh para matematikawan lainnya.

Ada juga ilmuan muslimah Zubaida binti Jafar al-Mansur (istri dari Khalifah kelima dinasti Abbasiyah, Harun al-Rasyid).

Beliau adalah sosok yang menjadi penggagas dibuatnya jalan raya penghubung antara Kufah dan Mekkah, yang bernama Darb Zubaidah.

Jalan raya ini lebarnya sekitar 18 meter, yang membentang sejauh 1500 Km, dan sudah melayani perjalanan haji jutaan kaum muslimin selama berabad-abad.

Di sepanjang jalan tersebut, ia membangun sumur-sumur air dan menara api untuk memberi penerangan ketika malam tiba.

Dalam tulisan “A Secret History” oleh Carla Daya yang diterbitkan di New York Times Magazine 25 Februari 2007, disebutkan bahwa ulama-ulama perempuan ini mencapai peringkat tinggi di semua bidang ilmu tentang Dien dan menjadi ahli hukum terkenal, mengeluarkan putusan-putusan Islam, menafsirkan Alquran, meriwayatkan hadits, bahkan memiliki keilmuan yang mampu menantang putusan hakim.

Mereka banyak menulis buku tentang berbagai bidang dalam ilmu-ilmu Islam, kadang terdiri dari 10 volume atau lebih. Beberapa perguruan tinggi seperti Madrasah Saqlatunia di Kairo didanai dan dikelola sepenuhnya oleh perempuan.

Ruth Roded, Dosen Senior tentang Sejarah Islam dan Timur Tengah di Universitas Ibrani Yerusalem mendokumentasikan bahwa proporsi dosen perempuan dibanyak perguruan tinggi Islam klasik lebih tinggi daripada di universitas-universitas Barat pada zaman modern ini.

Para ulama perempuan dalam masa kekhilafahan Islam saat masanya itu, menjalani kehidupan Islam sepenuhnya.

Mengatur rumah tangga mereka, mengasuh anak-anak mereka, meraih predikat ulama, berpartisipasi dalam urusan masyarakat, menjadi advokat untuk keadilan, menyeru kepada kemakrufan, melarang kemungkaran, dan mengoreksi penguasa.

Muhammad Nadwi Akram menulis, “Saya telah meneliti banyak materi selama lebih dari satu dekade untuk mengkompilasi catatan biografi 8.000 Muhadditsat.”

“Tidak seorangpun dari mereka dilaporkan telah menganggap rendah domain kehidupan keluarga, atau mengabaikan tugas-tugas di dalamnya, atau menganggap bahwa menjadi seorang perempuan adalah hal yang tidak diinginkan atau lebih rendah daripada menjadi seorang laki-laki, atau menganggap bahwa ia tidak punya tugas untuk masyarakat yang lebih luas di luar domain kehidupan keluarga.”

Contoh lainnya yaitu Lubna dari Andalusia belau adalah seorang penyair yang juga hidup pada abad ke 10 Masehi. Beliau unggul dalam tata bahasa, retorika, matematika, dan kaligrafi.

Ia adalah salah satu dari para sekretaris kepala di Negara Khilafah dan dipercayakan dengan korenspondensi resmi. Kaum perempuan dari keluarga Bani Zuhr adalah para dokter pada abad ke 12 M yang melayani Khalifah Abu Yusuf Yaqub al-Mansur.

Pada abad ke 15 M dokter bedah asal Turki Serefeddin Sabuncuoglu menggambarkan para ahli bedah perempuan di Anatolia melakukan prosedur bedah pada pasien perempuan.

Semua ini terjadi karena didorong oleh implementasi hukum-hukum Islam yang mendorong warga negaranya baik laki-laki ataupun perempuan untuk mempelajari Islam dan dunia di sekitar mereka.

Mendorong bersikap unggul dalam setiap bidang kehidupan untuk kepentingan masyarakat dan umat manusia. Sistem Islam berprinsip memberikan nilai tinggi pendidikan kepada perempuan, memaksimalkan potensi perempuan, dan memastikan aspirasi pendidikan perempuan terpenuhi.

Dalam Islam negara juga memprioritaskan penyediaan sistem pendidikan kelas satu untuk semua warganya, laki-laki dan perempuan. Tak lupa pula mendanai pendidikan tinggi yang gratis bagi laki-laki dan perempuan, dengan upaya terbaik yang dapat diberikannya.

Hanya implementasi sistem Islam yang berasal dari Allah SWT yang bisa mencapai visi unik mewujudkan pendidikan perempuan yang memaksimalkan pemikiran dan keterampilan mereka untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, dan di sisi lain, menjamin perlindungan martabat dan keselamatan mereka.

Sungguh sangat naif solusi kesetaraan gender dalam pendidikan perempuan akan bisa menuntaskan semua masalah perempuan baik masalah kekerasan, masalah ekonomi dan hak-hak perempuan.

Apalagi jika sistem aturan yang dijalankan kita adalah sistem kapitalis sekuler yang justru merendahkan harkat dan martabat kaum hawa.

Hanya sistem Islam yang diterapkan secara kaaffah yang akan mampu memuliakan dan mensejahterakan kaum perempuan sesai dengan fitrah dan kodratnya.

Sejarah sudah membuktikannya dan jika kita menginginkan kehidupan yang berkah lagi bahagia maka sudah saatnya kita kembali mengikuti tauladan kita kanjeng Nabi dalam mengatur negara. (*)

Penulis: Nelly, MPd (Aktivis Peduli Perempuan, Pemerhati Masalah Keumatan)