Minggu Ketiga Invasi: Meski Ribuan Orang Tewas, Rusia Bantah Tuduhan Genosida

Invasi Rusia di Ukraina
Sebuah mobil terbakar di sisi rumah sakit bersalin yang rusak akibat penembakan di Mariupol, Ukraina, Rabu, 9 Maret 2022. Serangan Rusia telah merusak ebuah rumah sakit bersalin di kota pelabuhan Mariupol yang terkepung, kata pejabat Ukraina. (Foto: AP/Evgeniy Maloletka)

DUNIA—Invasi Rusia di Ukraina memasuki minggu ketiga pada Kamis (10/3/2022), tanpa satu pun tujuan yang dikehendaki oleh Moskow tercapai meskipun ribuan orang telah tewas, lebih dari dua juta orang menjadi pengungsi, dan ribuan orang terpaksa meringkuk di kota-kota yang terkepung di bawah pengeboman tanpa henti.

Ukraina mengatakan Rusia melakukan “genosida” dengan mengebom sebuah rumah sakit anak-anak di Kota Mariupol. Rusia mengatakan laporan itu adalah “berita palsu” karena bangunan itu adalah bekas rumah sakit bersalin yang telah lama diambil alih oleh pasukan.

Tujuan Moskow yang dinyatakan untuk menghancurkan militer Ukraina dan menggulingkan pemerintah terpilih Presiden Volodymyr Zelenskyy yang pro-Barat tetap di luar jangkauan. Posisi Zelenskyy tak tergoyahkan dan bantuan militer Barat mengalir melintasi perbatasan Polandia dan Rumania.

Kementerian Pertahanan Inggris, Kamis (10/3), mengatakan bahwa ketika korban meningkat, Presiden Rusia Vladimir Putin harus menarik seluruh angkatan bersenjata untuk menggantikan kerugian.

Putin mengatakan kemajuan pasukannya di Ukraina berjalan sesuai rencana dan jadwal. Rusia menyebut serangannya sebagai “operasi khusus” untuk melucuti senjata tetangganya dan mengusir para pemimpin yang disebutnya sebagai “neo-Nazi.”

Sanksi yang dipimpin Barat yang dirancang untuk menggoyahkan ekonomi dan pemerintah Rusia dari pasar keuangan internasional juga mulai berpengaruh. Pasar saham Rusia dan nilai rubel anjlok dan orang-orang Rusia memilih menimbun uang tunai.

Berita Lainnya
Invasi Rusia di Ukraina
Seorang gadis duduk di tempat penampungan di Mariupol, Ukraina, Senin, 7 Maret 2022. (Foto: AP/Evgeniy Maloletka)

Pengeboman Rumah Sakit

Zelenskyy menuduh Rusia melakukan “genosida” setelah pejabat Ukraina mengatakan pesawat Rusia mengebom sebuah rumah sakit anak-anak pada Rabu (9/3). Pemboman tersebut mengubur pasien di bawah puing-puing.

Ironisnya hal itu dilakukan meskipun terdapat kesepakatan gencatan di wilayah Mariupol untuk memberikan kesempatan kepada para warga melarikan diri.

“Negara macam apa ini, Federasi Rusia, yang takut pada rumah sakit, takut pada rumah sakit bersalin, dan menghancurkannya?” Zelenskyy mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi pada Rabu (9/3) malam.

Serangan itu menggarisbawahi peringatan AS bahwa invasi Rusia yang disebut sebagai serangan terbesar di negara Eropa sejak 1945 itu bisa menjadi semakin berkurang setelah kegagalan awal Rusia.

Invasi Rusia di Ukraina
Kerusakan setelah penembakan pasukan Rusia di Constitution Square di Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina, pada 2 Maret 2022. (Foto: AFP)

Serangam bom Rusia di rumah sakit Ukraina, menurut pihak berwenang, melukai perempuan yang sedang bersalin dan meninggalkan anak-anak di bawah reruntuhan.

Gedung Putih mengutuk pemboman rumah sakit itu sebagai “penggunaan kekuatan militer yang biadab untuk mengejar warga sipil yang tidak bersalah.”

“Begitulah berita palsu lahir,” kata Dmitry Polyanskiy, wakil tetap pertama Rusia untuk PBB, di Twitter.

Rusia sebelumnya telah berjanji untuk menghentikan penembakan sehingga setidaknya beberapa warga sipil yang terperangkap dapat melarikan diri dari Mariupol, tempat ratusan ribu orang berlindung tanpa air atau listrik selama lebih dari seminggu. Kedua belah pihak saling menyalahkan atas kegagalan evakuasi tersebut.

Sementara itu, Menteri Angkatan Bersenjata Inggris, pada Kamis (10/3), mengatakan komandan militer Rusia serta orang-orang di puncak pemerintahan negara tersebut akan dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan perang di Ukraina.

“Komandan Rusia perlu mengingat bahwa kejahatan perang tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berada di puncak pemerintahan Rusia,” kata James Heappey kepada Sky News.

“Mereka berkomitmen sepanjang rantai komando oleh semua yang terlibat dan kekejaman ini sedang diawasi, mereka sedang dikatalogkan dan orang-orang akan dimintai pertanggungjawaban,” katanya.

Agresi Rusia di Ukraina
Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba, kiri, disambut oleh Menlu Turki Mevlut Cavusoglu menjelang pertemuan tripartit mereka dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, di Antalya, Turki, Kamis, 10 Maret 2022. (Foto: via AP)

Pembicaraan Rusia-Ukraina

Para menteri luar negeri dari Rusia dan Ukraina akan bertemu di Turki pada Kamis (10/3) dalam pembicaraan tingkat tinggi pertama antara kedua negara sejak Moskow menginvasi tetangganya. Ankara berharap mereka dapat menandai titik balik dalam konflik yang berkecamuk.

“Terus terang harapan saya terhadap pembicaraan itu tipis,” kata Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba dalam sebuah pernyataan video pada Rabu (9/3).

Ukraina sedang mengupayakan gencatan senjata, pembebasan wilayahnya dan menyelesaikan semua masalah kemanusiaan, kata Kuleba.

Moskow menuntut agar Kyiv mengambil posisi netral dan membatalkan aspirasi untuk bergabung dengan aliansi NATO.

Zelenskyy mengulangi seruannya kepada Barat untuk memperketat sanksi terhadap Rusia “agar mereka duduk di meja perundingan dan mengakhiri perang brutal ini.”

Dia mengatakan kepada VICE dalam sebuah wawancara pada Rabu (9/3) bahwa dia yakin Putin pada tahap tertentu akan menyetujui pembicaraan.

Invasi Rusia di Ukraina
Warga Ukraina melintasi jalur improvisasi di bawah jembatan yang hancur saat melarikan diri dari Irpin, di pinggiran Kyiv, Ukraina, Selasa, 8 Maret 2022. (Foto: AP/Felipe Dana)

“Saya pikir dia akan melakukannya. Saya pikir dia melihat bahwa kita kuat. Dia akan melakukannya. Kita perlu waktu,” katanya.

Rusia telah terkena sanksi Barat dan sejumlah perusahaan asing memiliki hengkang dari negara tersebut.

Rio Tinto pada Kamis (10/3) menjadi perusahaan pertambangan besar pertama yang mengumumkan memutuskan semua hubungan dengan bisnis Rusia.

Kepala ekonom Bank Dunia mengatakan Moskow hampir gagal membayar utangnya. [voa]

Berita Terkait