OPINI—Di bulan Ramadhan ini, saat seharusnya umat Islam memanfaatkannya untuk meraih pengampunan Allah SWT, tapi justru sebaliknya, dinodai dengan aksi bejat oleh seorang ayah yang tega memperkosa anak kandungnya. Naudzubillahi min dzalik.

Pelaku yang berinisial DR (40), warga Kelurahan Salassa, Kecamatan Baebunta, Luwu Utara, tega memperkosa anak kandungnya selama 3 tahun, sejak korban berusia 15 tahun hingga 18 tahun. Kasus tersebut terbongkar pada 8 Mei 2021 saat sang ibu bersama korban melaporkan pelaku ke polisi (Palopopos.co.id, 08/05/2021).

Hasil interogasi polisi, pelaku rutin melakukan aksinya baik di rumah maupun di pondok kebun. Korban diancam sehingga terpaksa menuruti kemauan sang ayah, namun karena sudah tak tahan sehingga melapor ke ibunya. Aksi terakhir pelaku dilakukan di bulan Ramadhan ini (Newsdetik.co/10/05/2021).

Kasus ini bukan kasus baru di Indonesia, telah lazim kita membaca dan mendengar dari media terkait kasus inses seperti ini, begitu pula halnya di Luwu Utara, sebelumnya kasus serupa pernah terjadi pada tahun 2017 dan 2019. Pada tahun 2017, pelaku yang berinisial BA (43), warga Desa Karondang, Kecamatan Tanalili, Luwu Utara, ditangkap polisi karena memperkosa anak kandungnya selama 5 tahun (Tribunlutra.com/19/5/2017).

Sedangkan pada tahun 2019, pelaku, Jumardin (39) warga Desa Tolangi, Kecamatan Sukamaju, Luwu Utara, memperkosa anak kandungnya sebanyak delapan kali (koranseruya.com/18/06/2019).

“Sebuas-buasnya harimau tak akan memakan anaknya sendiri”, peribahasa ini tak berlaku bagi para ayah di atas. Sungguh miris, seorang ayah yang seharusnya menjadi pelindung, pengayom dan pengasuh, malah justru menjadi pemangsa bagi anak sendiri.

Hinga kini belum diketahui penyebab sang ayah (DR) tega memperkosa anak kandungnya sendiri. Namun, menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto menyebutkan ada lima hal yang melatarbelakangi seorang ayah tega memperkosa anak kandungnya, diantaranya:

  1. Hobi mengakses pornografi.
  2. Rumah sempit atau kecil, menyebabkan tidak ada privasi antar penghuni rumah karena semuanya bercampur. Ayah akan terangsang melihat anak kandungnya tidur atau berganti pakaian saat mandi.
  3. Istri tak ada di rumah atau tak mau melayani. Alasan itu membuat suami mencari pelampiasan di luar, bahkan ke anak sendiri.
  4. Tingkat pendidikan dan iman yang lemah.
  5. Faktor ekonomi lemah. Ekonomi lemah menyebabkan ayah tak mampu membayar PSK, sehingga melampiaskan nafsunya pada anak sendiri. (Merdeka.com/22/02/2013)

Sungguh malang nasib sang anak harus menjadi korban kebuasan nafsu birahi sang ayah. Kasus ini membuka tabir bahwa rumah yang dulunya menjadi tempat paling aman, kini berubah menjadi tempat paling menakutkan.

Lalu jika rumah sudah tak aman harus kemana lagi tempat berlindung?

Maka harus ada solusi untuk menyelesaikan masalah ini, solusi yang mampu menyelesaikan secara tuntas. Sebab selama ini, hukuman penjara tak memberikan efek jera, terbukti kasus inses semacam ini terus berulang.

Syariah Islam Solusi Tuntas

Islam adalah solusi tuntas untuk menyelesaikan masalah ini. Syariah Islam memiliki seperangkat peraturan hidup untuk mengatur kehidupan manusia, baik Muslim maupun non Muslim. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Qs. Al-Anbiya : 107)

Syariah Islam dalam menyelesaikan masalah ini dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Pertama, Islam mewajibkan setiap individu untuk menuntut ilmu agama, maka Islam akan memfasilitasi setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran guna untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaannya. Seperti mengirimkan dai-dai ke seluruh wilayah negara untuk mengajarkan ilmu Islam.

Kedua, Islam mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat secara sempurna, termasuk dalam keluarga. Sebab Islam mengatur batasan aurat yang boleh terlihat oleh mahram baik itu ayah, kakak, adik, kakek, dan lain lain. Islam juga mengatur privasi masing-masing anggota keluarga.

Ketiga, Islam akan menutup semua akses konten porno, melarang semua bisnis dan peredaran konten porno dan pelacuran. Sebab semua itu merupakan keharaman dan mengundang azab Allah swt.

Keempat, Islam berkewajiban memenuhi kebutuhan pokok warga negaranya. Dalam hal ini rumah yang layak, rumah yang dapat menjaga privasi antar anggota keluarga. Rumah ini akan diberikan secara gratis dengan pembiayaan dari kas baitul mal

Kelima, Islam akan menerapkan sanksi tegas sesuai ketentuan syariah terhadap pelaku kemaksiatan. Pelanggaran berupa zina akan dikenakan sanksi rajam hingga mati bagi pelaku yang sudah pernah menikah, dicambuk sebanyak delapan puluh kali dan diasingkan untuk pelaku yang belum pernah menikah.

Namun solusi di atas hanya bisa diterapkan jika Islam diterapkan secara praktis dalam kehidupan bernegara. Wallahu a’alam bisshowab. (*)

Penulis: Hasriani (Apoteker dan Anggota Komunitas Cinta Qur’an Luwu Utara)