OPINI – Normalisasi hubungan Uni Emirat Arab (UEA)-Israel merupakan fakta teranyar bagi dunia Islam di tengah wabah melanda. Terobosan normalisasi oleh UEA terhadap Israel merupakan pengkhianatan bagi perjuangan warga Palestina menolak aneksasi. Bak ditusuk dari belakang oleh saudara sendiri menjadi ungkapan yang tepat bagi umat muslim di dunia.

Sungguh nelangsa nasib kaum muslim tanpa pemimpin yang akan senantiasa setia tanpa syarat kepada mereka dan Syariat Islam.

Terkhianati untuk yang kesekian kalinya oleh pemimpin dari kalangan muslim yang notabene seiman sungguhlah menyayat hati umat.

Dimana sebelumnya telah diprakarsai oleh Mesir 1979, mengikut Yordania tahun 1994 hingga yang ketiga oleh UEA di tahun 2020.

Tanpa basa-basi sebelumnya, UEA telah meneken kesepakatan normalisasi pada Kamis (13/8) yang diumumkan secara langsung oleh Trump.

Meskipun hasil dari kesepakatan normalisasi tersebut salah satunya Israel menangguhkan aneksasi tapi penolakan tetap bergulir.

Sebagaimana pernyataan Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang mengecam kesepakatan normalisasi antara Uni Emirat Arab dan Israel.

“Saya melihat kesepakatan tersebut sebagai pengkhianatan dan kami mengecamnya. Kami minta negara-negara Arab untuk tetap berkomitmen terhadap kesepakatan tahun 2002 perihal hubungan dengan Israel,” ujar Mahmoud Abbas, dikutip dari The Times of Israel, Rabu, 19 Agustus 2020.

Kecaman atas tindakan normalisasi seharusnya tidak hanya datang dari Presiden Palestina. Namun dari seluruh pemimpin di negeri-negeri muslim yang tersebar di seluruh penjuru bumi.

Minimnya empati dari pemimpin-pemimpin muslim sungguh melannggar hukum syara’.

Hukum syara’ telah menetapkan bahwa seluruh sebagaimana hadits Rasulullah saw yang diriwatkan oleh Muslim.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“(…) Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini–beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali–. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.’” (HR. Muslim) [HR. Muslim no. 2564]

Pengkhianatan UEA terhadap muslim Palestina merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum syara’ karena telah menghinakan saudara muslimnya.

Kesepakatan normalisasi dengan Israel yang memerangi warga Palestina dengan membabi buta secara tidak langsung membenarkan perilaku keji negeri Yahudi tersebut.

Bukan hanya UEA namun pemimpin muslim yang lainnya telah menelantarkan muslim Palestina dengan kebungkamannya.

Pengkhianatan demi pengkhiatan terhadap ajaran Islam dan kaum muslim tak kan pernah terhenti selama sekulerisme menjadi asas tegaknya suatu negara. Bahkan sekalipun seluruh warga di dalamnya adalah umat Islam.

Maka tak ada kesempatan merasakan pemimpin yang senantiasa setia terdapat umat Islam. Sekulerisme yang tidak mementingkan agama dalam menetapkan aturan melegalkan tindakan-tindakan yang menyeleweng dari ketetapan agama.

Bahkan menerima pembelaan UEA melakukan normalisasi karena Israel berjanji menangguhkan aneksasi pun tak bisa dibenarkan. Penangguhan aneksasi tersebut tidaklah menjamin bahwa tak akan ada lagi aneksasi.

Negara sekuler mewajarkan dusta dan pengkhianatan demi mengejar kepentingan mereka. Maka berharap kedamaian dan keamanan pada sistem sekuler sungguh sangat mustahil.

Hal ini jauh berbeda dengan yang ditampilkan oleh negara yang menjadikan Islam sebagai dasar negaranya. Terbukti dengan keamanan yang diberikan oleh institusi pemerintahan Islam yang tegak kurang lebih 1400 tahun.

Sebut saja sejarah terkenal di masa Kekhilafahan Abbasiyah yang saat itu dipimpin oleh Khalifah Al-Mu’tasim Billah. Kisah ini tercatat dalam  kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir.

Beliau menyambut seruan seorang budak muslimah dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi.

Sambutan Khalifah tidak main-main, bahkan menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah. Bahkan dalam riwayat lain menyebutkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah karena besarnya pasukan.

Catatan sejarah menyatakan bahwa ribuan tentara Muslim bergerak di bulan April, 833 Masehi dari Baghdad menuju Ammuriah.

Kota Ammuriah yang saat ini dikenal dengan sebutan Turki, dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan Khalifah al-Mu’tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi.

Perhatian yang amat sangat ini merupakan realisasi dari keterkaitan kepemimpinannya dengan perintah Allah swt.

Kewajiban seorang muslim saat mendapatkan amanah sebagai pemimpin ialah menjadi tameng bagi rakyatnya. Pemimpin yang akan berada di garis terdepan melakukan pembelaan terhadap rakyatnya hanya dibuktikan oleh negara Islam.

Tak pernah didapati dalam negara sekuler. Bahkan pemimpin dengan tega menindas rakyatnya sendiri melalui aturan-aturan zhalim yang memaksa.

Kepemimpinan yang berasal dari aturan Islam menjadi satu-satunya yang dibutuhkan dengan segera oleh umat Islam seluruh dunia hari ini.

Kegentingan akan kebutuhan kita akan kepemimpinan yang satu sudah berada pada tahap yang sangat darurat. Penindasan hanya akan berakhir dengan hadirnya pemimpin muslim berani yang taat kepada Tuhan seluruh alam. Allahu’alam bis-shawab. [*]

Penulis: Muflihana, SPd (Aktivis Muslimah)