OPINI—Bayi mungil dari Gaza berusia 5 bulan bernama Zainab Abu Hayyib menghembuskan nafas terakhirnya akibat kepalapan. Kondisi fisiknya mengenaskan, tulang belakangnya menonjol, ruas-ruas tulang rusuknya terlihat jelas, penampakan memilukan sebab bayi cantik ini sisa kulit dibungkus tulang. Berat badannya lebih dari 3 Kg saat lahir, sedangkan saat ia meninggal berat badannya kurang dari 2 Kg. (republika. Id 28 Juli 2025)
Pelaparan akibat blokade bantuan kemanusiaan memasuki babak terparah, tercatat terdapat 217 orang yang mati kelaparan di Gaza sejak Oktober 2023 lalu, sedangkan 100 orang diantaranya adalah anak-anak. (tempo.co 11 Agustus 2025).
Di tengah kelimpahan pangan bahkan banyak sisa makanan di dunia tapi kelaparan justru terjadi di depan mata. Dalam laporan UN Environment Programme, diestimasikan setiap tahunnya ada sekitar 630,96 juta ton sampah makanan dihasilkan secara global. (goodstats.id 5 April 2024)
Sungguh ironis, sebagai manusia yang masih punya hati tentu kita merasa empati dan berusaha agar bisa memberi bantuan sebab sikap diam adalah bentuk ketidakpedulian dan tanda matinya nurani manusia.
Mengapa terjadi kelaparan?
Donasi bantuan untuk Palestina sebenarnya cukup melimpah, hanya saja Israel melakukan pembatasan dan menguasai peredaran bantuan. Dengan dalih mencegah bantuan dimanfaatkan oleh Hamas, Israel membatasi penyaluran bantuan dan menetapkan jam operasional yang sangat terbatas.
Apalagi ketika penyaluran bantuan diambil alih oleh GHF (Gaza Humanitarian Foundation) yayasan kemanusian yang didirikan oleh Israel dan Amerika.
Sejak pertengahan Juli, Israel mewajibkan pemeriksaan bea cukai terhadap semua bantuan dari Mesir. Aturan ini menyebabkan hambatan birokrasi, penundaan dan biaya bagi organisasi kemanusiaan yang semakin mempersulit bantuan sampai ke rakyat Gaza. Bantuan saat ini butuh minimal satu bulan untuk masuk, padahal dulu saat gencatan senjata bantuan bisa masuk dalam beberapa hari. (tempo.co 14 agustus 2025)
Bahkan yang lebih keji lagi, tentara Israel kerap menargetkan rakyat gaza yang berusaha mendapatkan bantuan kemanusiaan. Tercatat lebih dari 1.000 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel ketika mencoba mendapatkan makanan di Jalur Gaza sejak GHF beroperasi bulan Mei lalu. (bbc.com 23 Juli 2025). Rakyat Gaza seolah berada pada pilihan mati kepalaran atau mati saat mengantre makanan.
Kematian akibat kelaparan
Sungguh pelaparan yang sistematis terjadi adalah bentuk pembunuhan yang sadis dan strategi perang paling pengecut yang pernah ada. Kematian akibat kelaparan adalah kematian yang mengenaskan.
Hal ini karena tubuh merasakan lemah dan sakit yang berlangsung kronis. Berbeda dengan kematian akibat bom atau senjata api misalnya yang dalam hitungan menit bahkan detik jiwa terlepas dari raga, sementara kematian akibat pelaparan mebutuhkan waktu dan menyebabkan sakit yang dirasakan cukup lama.
Pada dasarnya tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama. Saat kelaparan terjadi, tubuh kekurangan asupan glukosa maka otak yang sangat bergantung pada glukosa, mulai menggunakan asam lemak sebagai pengganti glukosa.
Cadangan lemak dipecah untuk menghasilkan energi bagi tubuh. Pada tahap selanjutnya, kurun beberapa hari kemudian, cadangan lemak mulai menipis. Maka tubuh mulai memecah protein otot untuk menghasilkan energi, sehingga massa otot mengalami penurunan.
Jika asupan nutrisi untuk tubuh masih kurang, pelaparan yang terus berlangsung hingga hitungan minggu sampai bulanan dapat menyebabkan fungsi organ vital mulai terganggu. Jantung, hati, ginjal, dan otak mengalami kerusakan. Sistem kekebalan tubuh melemah, sehingga tubuh rentan terhadap infeksi.
Pada tahap akhir terjadi kegagalan pada banyak organ yang dapat mengantarkan pada kematian. Kematian biasanya disebabkan oleh infeksi sistemik, gagal jantung, atau kerusakan otak yang parah.
Solusi Kelaparan Gaza
Pelaparan yang terjadi di Gaza bukan karena kurangnya donasi melainkan karena adanya dominasi yang dilakukan oleh Israel. Israel yang didukung oleh Amerika merasa punya kekuatan untuk melakukan segalanya terhadap Gaza, disatu sisi pemimpin muslim yang harusnya hadir malah memilih bungkam.
Kalaupun ada yang dilakukan paling hanya sekadar kecaman atau donasi, padahal itu hal yang bisa dilakukan diranah individu sedangkan pada level negara ada lebih banyak sumber daya dan kekuatan yang bisa optimalkan. Negeri-negeri muslim punya potensi untuk melakukan tekanan politik dan militer untuk menghentikan kengerian yang ada di Gaza.
Kekuatan negeri-negeri muslim akan mampu meruntuhkan dominasi Israel dan Amerika jika ada persatuan politik sebagaimana dalam sistem Khilafah Islamiyah di masa silam. Negeri-negeri muslim punya potensi tentara, sumber daya, dan finansial namun pemimpin yang lebih cinta dunia akan merasa rugi secara materi jika membantu Palestina spenuh hati.
Lebih banyak yang lebih takut pada Israel dan Amerika dibandingkan kepada Allah. Padahal di dalam Al-quran surah Al-maidah ayat 32, disebutkan bahwa membunuh satu jiwa saja maka sama saja dengan membunuh seluruh manusia.
Kita berharap tragedi pelaparan ini bia segera berakhir, anak-anak Gaza bisa mendapatkan makanan yang layak sehingga bertumbuh dan berkembang dengan baik sebab tidak seharusnya ada seorangpun anak yang patut merasakan penderitaan dan trauma seperti yang terjadi di Gaza. (*)
Penulis: dr.Ratih Paradini (Dokter dan aktivis dakwah)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.











