OPINI—Tidak ada satupun yang pernah menyangka Pria yang tidak sengaja tertangkap kamera berdiri diatas jembatan Cangar mengambil keputusan paling pahit dalam hidupnya. Pria berinisial MMA warga Mojokoerto di temukan tewas di jurang. (detik.com 13 April 2026)
Ia melompat meninggalkan segala penat yang menyesakkan jiwanya. Tidak ada yang tahu seberapa berat beban ditanggungnya dan seberapa besar luka batinnya, yang orang tahu ia hanya pria yang harus kuat menghadapi segala tuntutan kehidupan meski dengan berbagai memar dihatinya.
Pria tidak berbicara dan itulah yang membuat risiko pria bunuh diri lebih besar dari wanita. Data dari Kementerian Kesehatan, angka kematian bunuh diri di Indonesia pada tahun 2016 pada pria, angkanya mencapai 4,8 per 100 ribu penduduk, lebih tinggi dibandingkan wanita yang sebesar 2,0 per 100 ribu penduduk. (halodoc.com 13 September 2022)
Bunuh Diri dan Gangguan Mental
Bunuh diri bukan hanya sekadar tragedi ia adalah manifestasi dari permasalsahan gangguan mental yang selama ini dialami, namun diabaikan, dipendam hingga suatu waktu tidak bisa lagi ditekan.
Setidaknya sekitar 90% kasus bunuh diri berhubungan dengan penyakit jiwa seperti depresi, bipolar,gangguan penggunaan zat, dan gangguan psikosis (pmc.ncbi.nlm.nih.gov 17 September 2018).
Sementara gangguan mental ini sendiri terjadi karena beragam faktor yang kompleks mulai dari faktor genetik hingga faktor lingkungan yang menjadi stressor psikososial.
Faktor genetik bukan hal yang bias kita pilih atau intervensi lebih lanjut karena belum ada teknologi sampai saat ini yang bisa mengubah potensi atau kerentanan gangguan mental yang sudah dibawa sejak lahir itu.
Namun untuk stressor psikososial ada bebagai hal yang dapat diupayakan untuk mencegah berbagai penyakit ini dan agar tidak sampai mengakhiri hidup sendiri.
Solusi Komperhensif
Pendekatan komprehensif dalam menangani masalah bunuh diri harus dimulai dari level promotif dan preventif. Literasi tentang kesehatan mental perlu menjadi perhatian agar masyarakat mengenali tanda-tanda gangguan mental berupa gangguan tidur, gangguan suasana perasaan, penarikan diri dari aktivitas sosial, hingga ide bunuh diri. Pemahaman ini diharapakn mampu menjadi deteksi dini bagi diri sendiri maupun orang lain.
Level komunitas memiliki peranan cukup penting, lingkungan yang suportif dapat menjadi wadah tekanan emosional dapat dirilis dengan cara yang adaptif sebaliknya lingkungan yang menstigma pria tidak berceita dan tidak boleh menangis menjadikan tekanan-tekanan emosional terpendam, kondisi mental yang sudah butuh bantuan professional akhirnya terabaikan hingga semua keget ketika tiba-tiba kabar duka viral di beranda media sosial
Pada level pelayanan kesehatan ditingkat kuratif, dibutuhkan integrasi layanan kesehatan mental mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga tingkat lanjutkan. Diharapakan faskes mampu melakukan skrining, diagnosis awal, serta intervensi dasar terhadap gangguan mental.
Ketersediaan tenaga profesional seperti psikiater, psikolog klinis, dan perawat jiwa perlu tercukupi. Selain itu, pendekatan terapi harus bersifat holistik, mencakup farmakoterapi, psikoterapi, serta rehabilitasi psikososial.
Peran Negara
Dalam perspektif kebijakan, negara memiliki andil besar. Negara yang gagal menciptakan politik ekonomi yang stabil, gagal menwujudkan rasa aman dan keadilan akan menciptakan stressor psikososial yang besar bagi masyarakat.
Selain itu, pemerintah perlu memperkuat regulasi dan alokasi anggaran untuk kesehatan mental. Program nasional pencegahan bunuh diri harus disusun secara sistematis, melibatkan lintas sektor, termasuk pendidikan, ketenagakerjaan, dan sosial
Solusi Islam
Namun, pendekatan komprehensif tidak akan lengkap tanpa memasukkan dimensi spiritual. Islam mengajarkan prinsip dan konsep sabar, syukur, berserah diri dan qadha qadar sebagai dasar pemikiran yang membuat seseorang ketika mendapatkan ujian kehidupan tidak mudah menyerah dan selalu memiliki harapan, cara pandangan seperti ini akan memperkuat resiliensi psikologis.
Islam tidak mengharamkan laki-laki menangis Rasulullah mengajarkan keperkasaan laki-laki tidak dilihat dari air matanya yang tumpah sebab laki-laki juga manuisa yang bias sedih dan terluka.
Lebih dari itu, Islam sebagai ideologi juga memiliki aturan lengkap dalam pengaturan ekonomi, Islam tidak membebani pajak tinggi, menciptakan stabilitas ekonomi dengan penggunaan uang berbasis emas perak, memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis karena bagian dari kewajiban negara, memberika keadilan dengan penegakan hukum berbasis al-quran bukan kepentingan apalagi uang.
Penutup
Pada akhirnya kita berharap keterlibatan sektoral dan penerapan prinsip-prinsip Islam bisa mereduksi angka kematian akibat bunuh diri. Semoga lewat kepedulian dan kesadaran kita kisah pria tidak berecita tiba-tiba kehilangan nyawa bisa dicegah. (*)
Penulis:
dr.Ratih Paradini
(Dokter, Aktivis Dakwah)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.












