OPINI—Indonesia saat ini memasuki era bonus demografi, di mana penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan usia tidak produktif. Jika bonus demografi ini dapat dikelola dengan baik oleh pemerintah, kondisi ini akan menjadi modal penting untuk membangun untuk menuju 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045.
Namun, jika tidak dikelola dengan baik dapat menjadi bumerang dan menjadi beban bagi negara (Katadata.co.id, 30/09/2022).
Dari pernyataan di atas, tentu kita tak perlu menunggu di tahun 2045, saat ini saja telah banyak kita saksikan bagaimana bobroknya kondisi generasi muda yang kian hari makin memprihatinkan.
Dari minimnya minat belajar, tawuran, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, mengonsumsi miras, seks bebas dan berbagai tindakan kriminal lainnya yang jumlahnya makin meroket.
Tengok saja salah satu kasus di antara banyaknya perilaku bejat pemuda yang belum lama ini sempat viral di jagat maya negeri +62. Sebagaimana perselingkuhan ibu mertua dengan menantunya di Kota Serang, Banten menjadi sorotan.
Perselingkuhan ini viral setelah diungkap oleh wanita berinisial NR. Ia menceritakan hubungan terlarang antara suami dengan ibu kandungnya sendiri.
Kecurigaannya pun terbukti saat suami dan ibu kandungnya digerebek warga pada 16 November lalu. Diam-diam warga memergoki perzinahan antara mertua dan menantu tersebut (Tribunnews.com, 22/12/2022).
Masih serupa dan tak kalah miris yang terjadi pada Maret 2019 yang mana hubungan cinta terlarang menantu dan mertua juga terjadi di Desa Tanawaran, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT.
Akibatnya RR sang ibu mertua hamil dan melahirkan bayi. Ironisnya RR membuang bayi tersebut ke sungai yang beraliran deras. Dia tega membuang bayi tersebut karena takut hubungan cinta terlarangnya diketahui oleh keluarganya (Solopos.com, 28/12/2022).
Kasus tersebut hanya secuil fakta bagaimana bejatnya perilaku pemuda hari ini dan rusaknya pergaulan, baik dari kalangan yang mahram maupun bukan mahram. Kasus tersebut pun tidak menutup kemungkinan jumlahnya lebih banyak lagi yang tidak terekspose media.












