OPINI—Perkembangan teknologi tentu menjadi salah satu indikator kemajuan suatu bangsa. Betapa tidak, meningkatnya infrastruktur dan peralatan canggih sangat signifikan dalam mendorong laju produksi barang dan jasa. Maka tidak heran jika semua bangsa di dunia berlomba-lomba untuk meraih percepatan teknologi. Hanya saja, semua pihak harus lebih bijak dalam menyikapi berbagai kemajuan yang ada. Karena, dampak teknologi bisa membawa kebaikan, dan juga sangat berpeluang memberikan pengaruh buruk bagi generasi muda.

Penjajahan gaya baru bisa saja dengan meracuni pemikiran generasi muda, yaitu dengan menyetir cara pandang dan cara bersikap mereka melalui setiap informasi yang disuguhkan oleh penggerak kemajuan teknologi. Apa yang kita baca dan yang kita saksikan, pasti turut andil dalam pembentukan karakter. Sangat disayangkan, banyak tayangan dan bacaan yang tidak edukatif tapi justru menjadi tontonan keseharian generasi muda. Salah satunya, kebebasan berperilaku dan berpakaian.

Jika kita memperhatikan potret generasi muda, maka sungguh sangat ironi. Pergaulan bebas menjadi pemandangan dan pemberitaan yang selalu terpampang nyata. Bahkan, tidak sedikit generasi muda yang terjebak kesulitan ekonomi menjadikan pergaulan bebas (prostitusi) sebagai sumber pendapatan baru. Sangat miris, maraknya kasus prostitusi telah menjangkiti generasi yang masih di bawah umur.

Seperti kejadian penangkapan tujuh muncikari yang menawarkan jasa layanan seks anak di bawah umur melalui media sosial di kota Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka dibekuk setelah warga dan keluarga dari salah seorang gadis berusia 15 tahun yang hendak dijual pelaku kepada pria hidung belang menggagalkan aksinya di sebuah hotel (detiknews.com, 3/2/2021).

Padahal, generasi muda merupakan aset masa depan. Jika generasi rusak, lalu siapa lagi yang diharapkan mampu membangun bangsa dan mengeluarkan bangsa kita dari berbagai persoalan multidimensi.

Akar Masalah

Untuk melahirkan generasi yang unggul harus ditopang oleh sistem yang ideal. Sistem ini harus mampu menjaga generasi dari pengaruh buruk arus liberalisme. Sejatinya generasi muda disibukkan untuk menuntut ilmu dan berlomba-lomba beramal shalih.

Namun, akibat penerapan sistem sekuler kapitalis menjadikan generasi pragmatis dan membebek pada budaya barat. Sehingga generasi kehilangan jati diri. Karena ternyata, yang lebih banyak diadopsi remaja adalah budaya dibandingkan kemajuan teknologi.
Perlu dipahami, tumbuh suburnya pergaulan bebas di kalangan generasi karena didukung oleh lingkungan yang tidak sehat. Akses situs porno sangat mudah dijangkau. Iklan, film, sinetron, novel, poster dan lagu, tidak lepas dari adanya rangsangan syahwat.

Tempat-tempat rekreasi, kafe dan berbagai fasilitas untuk pasangan muda-mudi juga tersedia (tidak ada larangan pacaran).
Oleh karena itu, negara harus menyelamatkan generasi. Negara harus memastikan pendidikan yang diterapkan mampu membentuk kepribadian yang unggul. Dengan visi negara yang kuat maka kemajuan teknologi akan digunakan untuk memudahkan pekerjaan manusia.

Membina Generasi Muda

Islam memiliki seperangkat peraturan tentang kehidupan, termasuk sistem pergaulan. Dalam rangka menjaga kehormatan diri, Islam mewajibkan wanita muslimah untuk menutup aurat, memerintahkan kepada laki-laki agar menundukkan pandangan, melarang para wanita tabarruj (berdandan berlebihan), melarang aktivitas campur baur , melarang laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri untuk berkhalwat.

Pernikahan merupakan satu-satunya jalan, agar ikatan laki-laki dan perempuan menjadi sah. Dari keluarga yang paham tujuan pernikahan, akan lahir generasi cerdas dan berakhlak mulia. Di masa lalu, keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak. Sejak sebelum lahir, orang tua telah membiasakan putra-putrinya yang masih kecil menghafal Al-qur’an dengan cara memperdengarkan bacaannya. Rutinitas itu membuat mereka bisa hafal Al-qur’an sebelum usia enam atau tujuh tahun. Selain itu, mereka juga menghafal hadits dan dibiasakan mengerjakan shalat, puasa, berzakat, infaq serta berjihad. Semua ini menopang pembentukan kepribadian Islam.

Adapun sistem pendidikan Islam, dibangun berdasarkan aqidah Islam. Bertujuan untuk membentuk generasi yang beriman dan bertaqwa dan menguasai ilmu kehidupan. Saat penerapan sistem pendidikan Islam, terus bermunculan para ahli sekaligus ulama dengan karya yang mendunia. Diantaranya, Ibnu Sina yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran Modern.

Kemajuan negara Islam juga ditopang oleh penerapan sistem ekonomi Islam, yang menjamin pemenuhan pokok semua rakyat.
Oleh karena itu, penting untuk mengembalikan posisi generasi sebagai pembentuk peradaban mulia. Negara memiliki peranan yang sangat besar untuk menjaga kehormatan generasi. Dengan menerapkan sistem Islam sebagai solusi untuk semua masalah, termasuk masalah pergaulan. Wallahua’lam bisshowwab. (*)

Prostitusi Online, Ancaman Nyata bagi Generasi
Irmayanti, S.Pd
Penulis : Irmayanti, S.Pd (Praktisi Pendidikan dan pemerhati Remaja)