OPINI—Penghujung Sya’ban 1442 H, pertanda sebentar lagi bulan Ramadhan dijelang. Suasana sekitar pun mulai menampakkan “penyambutan”. Berbagai pesan iklan di media massa baik televisi, radio, maupun media sosial kental dengan konten terkait bulan suci umat Islam ini.

Rasa gembira, harapan akan sampainya diri pada bulan mulia ini menjadi refleksi dari keimanan. Mengapa? Diantaranya karena bulan ini membawa banyak keutamaan, bulan ampunan, bulan penuh berkah dan rahmat. Bahkan Rasulullah mengajarkan doa agar usia kita disampaikan hingga Ramadhan.

Menyiapkan diri sebaik-baiknya menyambut Ramadhan menjadi keniscayaan. Dengan memahami hakikat Ramadhan yang benar, insya Allah akan menjauhkan diri dari mengisinya dengan perkara sia-sia hingga berkah dan keutamaan Ramadhan benar-benar bisa diraih. Melaksanakan shalat wajib secara berjamaah, memperbanyak tadarrus al Quran, menyemarakkan shalat malam, menggiatkan sedekah, menyediakan sajian buka puasa, dan masih banyak lagi amalan yang sangat dianjurkan pelaksanaannya.

Semua dengan dasar semata untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT, yang menjadi jalan pada ampunan-Nya. Tempaan Ramadhan adalah ketaatan tanpa alasan. Mengapa mampu menahan diri dari makan dan minuman padahal bisa dilakukan secara sembunyi-bunyi dari manusia? Karena adanya keyakinan bahwa tak satu pun perbuatan lepas dari pengawasan Allah SWT.

Ketaatan sebagai buah dari keimanan terhadap Zat Yang Maha Mengetahui ini, semestinya mewujudkan daya dorong untuk penerapan Islam kaffah. Bukankah Allah meminta hamba-Nya tak memilah hukum mana yang ingin mereka terapkan sementara yang lainnya diabaikan?

Lantas bagaimana cara mewujudkan penerapan Islam kaffah ini?

Jawabannya sederhana, dan terasa akrab di pendengaran, yakni dengan meneladani perjuangan Rasulullah SAW, mulai dari fase dakwah Mekah hingga Madinah.

Di awal urusan dakwah Islam ini diemban, Rasulullah memulai dengan mengajak masyarakat Mekah kepada tauhid, keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu mengikatkan diri untuk taat pada syariat-Nya. Pada setiap kesempatan, dakwah terus dilancarkan, yang dengannya Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin bisa dirasakan semua manusia.

Reaksi masyarakat Mekah terhadap dakwah kepada agama yang baru mendapatkan penentangan terutama dari kalangan tokoh-tokoh Quraisy. Semakin lama tantangan terhadap dakwah dan pengembannya semakin berat. Namun Rasulullah dan para sahabat beliau tetap istikamah (teguh pendirian), tak bergeming meski berbagai ujian menghadang.

Keistikamahan mengemban dakwah ini mulai memperlihatkan hasil ketika sekelompok rombongan dari kabilah Khazraj dari Madinah datang ke Mekah di satu musim haji. Setelah terjadi dialog antara mereka dan Rasulullah mereka pun masuk Islam. Selanjutnya, orang-orang Madinah yang masuk Islam ini digelari kaum Anshar, penolong agama Islam, penolong Rasulullah, penolong dakwah. Sungguh kebaikan bagi mereka.

Meluasnya wilayah dakwah Rasulullah hingga ke Madinah menjadi pembuka bagi wilayah dakwah yang baru. Secara strategis, berdasarkan wahyu Allah SWT, Madinah selanjutnya menjadi pusat penerapan Islam kaffah yang pertama, di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW.

Fragmentasi singkat ini menunjukkan kepada kita, bahwa upaya menerapkan Islam tak sebatas pada skala individu atau keluarga saja, namun lebih luas pada skala Negara. Sehingga dakwah yang diemban pun bertarget untuk meraih tujuan ini.

Keteladanan Rasulullah di fase dakwah menyeru kepada Islam ini, sebelum tegaknya Islam di Madinah, juga memperlihatkan bahwa dakwah yang diemban semata dengan lisan, menyampaikan dakwah dengan hujjah, argumentasi yang kuat berdasarkan dalil-dalil aqidah dan syariat.

Adanya stigma bahwa Islam agama teror, yang dikuatkan dengan beberapa peristiwa belakangan ini tentu tak bisa dijadikan dasar bahwa berislam kaffah akan menjadikan umat Islam sebagai pelaku teror. Stigma negatif ini harus dihadapi, tetap dengan argumentasi, bukan malah menjadikan kita takut berpegang pada tali agama Allah.

Memanfaatkan momen Ramadhan tahun ini, saat yang tepat mengarahkan energi untuk lebih utuh memahami Islam, sehingga berbagai pemikiran yang sesungguhnya menjauhkan dari hakikat Islam yang sebenarnya dapat diwaspadai dan dihindari.

Selain itu spirit Ramadhan juga dimanfaatkan untuk seluas-luasnya menebar kesadaran memperjuangkan tegaknya Islam kaffah. Dengannya, predikat sebagai khoiru ummah, ummat terbaik pun dapat diraih dengan izin Allah SWT.

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, melakukan amar makruf nahi mungkar, dan mengimani Allah”. (TQS. Ali Imran: 110). [*]

Penulis: Nurhidayah Rahman, S.Si (Pemerhati Persoalan Perempuan dan Generasi)