OPINI—Suasana ramadhan telah terasa. Aroma harum semerbaknya telah sampai di tengah-tengah umat. Kehadirannya telah dinanti-nanti umat Islam sedunia. Ya, tak kurang sepekan lagi kita akan dipertemukan dengan bulan mulia, bulan penuh ampunan bertabur pahala dan nikmat. Walau kali kedua ramadhan akan dijalani dengan suasana pandemi yang belum juga menunjukkan angka penurunan yang signifikan. Tentunya, segala protokol kesehatan harus tetap dijalani bahkan dimaksimalkan.

Disamping itu, umat masih dihadapkan dengan segala permasalahan yang membelit negeri ini. Mulai dari korupsi yang menggurita, kriminalisasi ulama, kemiskinan yang tersistemik, kedzoliman dan ketidakadilan masih mewarnai beberapa tahun terakhir ini. Hal ini membuat umat gerah dan geram atas kondisi negeri, sehingga umat butuh solusi utuh. Dengan hadirnya ‘tamu istimewa’ ini, memberi sedikit harapan untuk mulai berbenah diri dan negeri.

Namun segala permasalahan negeri ini tentu tidak mengurangi keistimewaan ramadhan nantinya. Sebab, bulan yang satu ini memiliki banyak keutamaan, jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Tetapi tidak mengurangi keistimewaan bulan lain yang telah dipahami umat muslim. Seperti bulan-bulan haram, yakni Muharram, Rajab, Dzulqaidah dan Dzulhijjah. Selayaknya sejak saat ini kita mempersiapkan hati, mental dan tenaga secara maksimal dalam menyambut ramadhan dengan penuh kegembiraan.

Mengapa perlu bergembira? Sebab, pahala amalan manusia dilipatgandakan 10 hingga 700 kali lipat pada bulan ramadhan. Semua kategori amal perbuatan kecuali puasa, sebab puasa amalan yang tidak diketahui jumlah pahalanya karena hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Puasa adalah salah satu ibadah tersembunyi dan hanya Allah SWT yang mengetahui seberapa ganjaran yang akan diterima. Pun, kegembiraan menyambut dan menjalankan puasa ramadhan di dunia, ternyata Allah SWT akan memberikan dua kegembiraan di akhirat kelak.

Seperti sabda Rasulullah SAW, yang artinya:
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari).

Selayaknya bulan ramadhan, jadi moment dimana umat melipatgandakan do’a dan ikhtiar menuju perubahan. Perubahan yang hakiki dari kondisi buruk hijrah ke kondisi terbaik. Sebab, umat muslim adalah umat terbaik yang disebutkan Allah SWT dalam al-Quran ” …kalian adalah umat terbaik..”.

Namun, kondisi umat saat ini jauh dari kondisi terbaik, bahkan umat mengalami kemerosotan dari segala sisi. Apakah Allah SWT tidak menepati janji? Tentu tidak, sebab kondisi menjadi umat terbaik butuh diperjuangkan. Kondisi umat diperparah dengan adanya sistem sekularisme-liberalis yang memisahkan agama dengan kehidupan. Akhirnya manusia menjalani hidup semaunya tanpa batas sesuai hawa nafsu.

Oleh sebab itu, penting menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Karena Islam bukan hanya berbicara persoalan aqidah semata, tetapi juga berbicara terkait hukum syariah. Syariah-lah yang mengatur seluruh hidup manusia, mulai dari ekonomi, politik, sosial-budaya, pendidikan, kesehatan dan hukum. Maka, perjuangan ini memerlukan komitmen kokoh dan istiqomahan tanpa putus. Perjuangan mengembalikan kemuliaan Islam, menjadi mercusuar peradaban mulia dan jalan hidup bagi manusia.

Kini, setelah 100 tahun kehilangan peradaban mulia. Maka, saatnya umat muslim mengasah kesadaran akan pentingnya hijrah menuju peradaban mulia tersebut. Umat terbaik tidak akan diraih dengan hanya duduk berpangku tangan. Tetapi, akan diraih oleh tangan kaum muslim yang mau berjuang dengan ikhlas, menebar kebaikan kepada sesama manusia. Niscaya kondisi umat akan menjadi umat terbaik atas izin Allah SWT.

Dengan demikian, semoga ramadhan tahun ini menjadi ramadhan terakhir dalam kondisi umat yang terpuruk dan siap menyongsong detik-detik hadirnya cahaya yang akan menyinari seluruh penjuru dunia. Dan Allah SWT menepati kedua janji-Nya, yakni menjanjikan kemenangan ditangan kaum muslim dan menjadikannya sebagai umat terbaik.

Allah SWT berfirman, Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 55). Wallahu’alam bish-shawab