Beranda Opini Remaja Mental Brutal di Sistem Sekuler-Liberal

Remaja Mental Brutal di Sistem Sekuler-Liberal

Penulis: Wana Zain (Aktivis, Jeneponto)

0
42
Ilustrasi: Chucky Doll. (Foto: Courtesy)

“You are the books you read, the films you watch, the music you listen to . . .”

OPINI – Potongan kalimat berbahasa Inggris di atas sepertinya bukan quote semata. Bercermin pada kasus yang menyita perhatian publik beberapa hari belakang ini, membuktikan quote di atas adalah sebuah fakta.

Seorang gadis berinisial NF berusia 15 tahun melakukan tindakan brutal termotivasi dari tontonan kesukaannya, Slender man dan Chucky.

Slender Man adalah karakter supernatural fiksi yang digambarkan dengan sosok kurus tinggi dengan kepala tanpa wajah. Sedangkan Chucky adalah karakter arwah pembunuh berantai yang masuk ke dalam tubuh boneka.

Dilansir oleh cnnindonesia.com, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus mengatakan kepolisian meminta bantuan dari ahli Psikologi untuk mengetahui secara pasti motif pembunuhan.

Dari pemeriksaan sampai saat ini, NF mengaku membunuh karena hasrat yang muncul seketika.

Menurut keterangan Yusri, NF beberapa kali juga merasakan hasrat untuk membunuh yang masih bisa ditahan. Kemudian pada Kamis (5/3) lalu NF tidak bisa menahan sehingga membunuh temannya.

“Dia biasa bermain dengan binatang dan diperlakukan dengan kasar. Ada kodok ditusuk pakai garpu. Dia punya kucing kesayangan, kalau lagi kesal dibuang dari lantai 2,” kata Yusri.

Yusri menambahkan, “Berdasarkan pengakuan dia, dia mengaku suka nonton film horor. Salah satunya Chucky.” (cnnindonesia.com, 7/3/2020)

Aksi pembunuhan terhadap bocah perempuan 5 tahun di dalam lemari ini pun terbongkar. Pembunuhan ini terjadi di rumah pelaku di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Pelaku melakukan pembunuhan pada Kamis (5/3/2020) sore hari saat rumah dalam kondisi sepi.

Pelaku awalnya menenggelamkan kepala korban dalam bak berisi air. Lalu, jasad korban dibawa ke kamar lantai atas dan disembunyikan di dalam lemari pakaian.

Pagi hari pada Jumat (6/3/2020) pelaku berencana membuang jasad korban sambil berangkat sekolah. Namun, pelaku kebingungan dan akhirnya menyerahkan diri ke Polsek Taman Sari.

Kapolres Jakarta Pusat Kombes Heru Novianto menyebut pelaku tak menyesali perbuatannya, justru merasakan kepuasan.

“Ini agak sedikit unik, si pelaku dengan sadar diri menyatakan telah membunuh. Kemudian menyatakan saya tidak menyesal tapi saya merasa puas,” kata Kombes Heru kepada wartawan di lokasi kejadian, Sawah Besar, Jakpus, Jumat (6/3/2020) (sumber: kompas.tv)

Kasus NF di atas membuktikan bahwa remaja saat ini sedang tidak baik baik saja. Siapa yang menjamin jika kasus NF adalah satu satunya kasus remaja brutal di negeri ini.

Melihat fakta banyaknya keluarga rapuh serta negara yang abai. Dapat dipastikan ada NF NF lain di luar sana.

Kasus NF seharusnya membuka lebar mata kita bahwa para remaja dicekoki tayangan sadisme, tayangan sampah yang dipromosikan dan dipertontonkan tanpa sensor, tayangan sadisme bertebaran bebas begitu saja tanpa adanya pengawasan yang ketat oleh negara ini.

Screening penonton cukup dilakukan dengan memberi label D (Dewasa) dan 18+. Lalu, siapa yang menjamin remaja dengan rasa penasaran yang tinggi akan taat kepada label seperti itu?.

Betapa dilema menjadi milenial di era digital hari ini. Kemajuan teknologi tak berbanding lurus dengan kemajuan adab dan moral para remaja kini.

Kemajuan teknologi justru dimanfaatkan kapitalisme barat untuk mendulang pundi pundi keuntungan dari tayangan sadisme. Seolah menjadikan tontonan sebagai tuntunan bagi kaum milenial.

Di Sistem sekuler liberal yang diterapkan hari ini mencabut rasa kemanusiaan. Tontonan hari ini “mendidik” mereka untuk berlaku brutal dan “merangsang” Mereka untuk mempraktekkannya.

Sistem sekular-liberal menjadikan media sebagai pendulang Dollar tanpa memperdulikan tayangan yang disajikan akan melahirkan kerusakan generasi.

Sungguh problem ini harus segera diatasi, kasus NF tidak boleh dipandang sebelah mata. Kasus NF dan NF NF lainnya di luar sana butuh penyelesaian yang mengakar.

Kasus seperti itu tak bisa diserahkan pada penyelesaian personal, psikolog, atau bahkan orang tua pelaku saja.

Asas kehidupan hari yang demikian sekuler-liberal menghasilkan manusia manusia tanpa belas kasihan.

Sistem sekuler di mana agama dimaknai sebagai aktivitas ritual semata harus digantikan dengan asas kehidupan yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan dalam berfikir dan berbuat.

Dari sisi negara, maka negara seharusnya yang menjadi ujung tombak agar rakyatnya bertakwa, sehingga suasana masyarakat adalah suasana takwa.

Aneka tayangan di media yang merusak akan diblokir dari segala arah, baik tulisan maupun tontonan.

Konten kekerasan, pornografi, kebebasan bertingkah laku, perselingkuhan, kebohongan, dll, akan diblokir. Konten media akan diatur agar menjadi media yang sehat bagi generasi.

Media akan diisi tayangan Islami semisal pembelajaran Alquran, hadis, fikih, sains, dan tayangan lainnya yang membentuk kepribadian islami.

Semua upaya ini merupakan kolaborasi yang kompak antara individu, masyarakat, dan negara yang menilai sebuah tayangan sesuai dengan kacamata islam, apakah baik atau buruk. Baik jika diridai Allah Ta’ala, buruk jika dimurkai-Nya, bukan pada tolak ukur untung dan rugi.

Dengan adanya tatanan kehidupan yang menerapkan Islam kaffah (menyeluruh) akan menghasilkan generasi yang sehat jiwa raganya, bukan generasi brutal yang “sakit” akal dan fisiknya. Wallahu a’lam bishawab. (*)

Penulis: Wana Zain (Aktivis, Jeneponto)