Tahun Baru, Harapan Baru
Tiap elemen masyarakat tentu menaruh harapan terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik di tahun 2023 ini. Berbagai persoalan narkoba, kriminalitas, korupsi, pandemi Covid, hingga kenaikan harga kebutuhan pokok sudah cukup membuat susah sebagian besar masyarakat khususnya menengah ke bawah, ditambah adanya isu resesi 2023, semakin membawa kecemasan tersendiri.
Namun yang menjadi tanda tanya, bisa kah sistem sekular-kapitalis hari ini mewujudkan harapan tersebut?
Sementara pergantian tahun dibarengi motivasi perubahan sudah berulang kali terjadi, tapi hasilnya tetap sama, tak ada perubahan yang berarti, lagi-lagi rakyat harus siap menanggung kecewa bahkan malah semakin kecewa.
Masalah yang tidak kalah pelik juga menghinggapi kondisi generasi muda hari ini yang sangat jauh dari kata tangguh dan bermental pemimpin.
Para pemuda yang memiliki potensi besar dalam menciptakan sebuah perubahan justru terjerat dalam gaya hidup hedonis ala Barat, mentalnya loyo, imannya lemah, dan kreativitasnya terkungkung oleh ketidakpercayaan diri dan kemalasan dalam berpikir kritis.
Ditambah racun liberalisasi (kebebasan) yang bersembunyi dibalik kata HAM telah menjerat generasi muda kepada penyimpangan seksualitas, hingga lahirlah ide sesat L687Q yang harusnya menjadi aib tapi justru djwajarkan.
Sayangnya masih banyak elemen masyarakat yang belum memahami bahwa penyebab utama atas segala problem yang dihadapi saat ini berasal dari penerapan sistem sekuler kapitalis yang tidak mengindahkan aturan agama dalam kehidupan.
Sistem ini terbukti melahirkan banyak persoalan kehidupan, sebab hakikatnya segala hal yang berasal dari sesuatu yang terbatas maka hasilnya pun akan lemah dan terbatas dan sekularisme sendiri berasal dari hasil pemikiran terbatas manusia.
Akibat prinsip pemisahan aturan beragama dalam kehidupan ini, hal yang menjadi standar perbuatan bukan lagi halal/haram namun hanya berdasar pada asas materi dan manfaat. Mulai dari sistem pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, termasuk politik semuanya berstandar pada nilai materi atau kesenangan duniawi semata.
Maka wajar jika kemudian generasi muda terjebak narkoba, pejabat terlibat korupsi, pengusaha terjerat kasus investasi ilegal, dan pemimpin menyalahgunakan kekuasaan demi keuntungan. Sungguh sangat memilukan.
Maka dari itu berharap perubahan hakiki di tengah penerapan sistem sekuler kapitalis hanyalah sebuah ilusi. Solusi yang lahir dari sistem ini bersifat pragmatis, sebab tidak menyentuh pada akar persoalan. Untuk itulah umat butuh sistem lain yang lebih solutif, tidak hanya menyelesaikan permukaan masalah tetapi hingga ke akar-akarnya.













