Berharap Solusi Hanya Pada Islam
Allah Taala berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al-Maidah [5]: 3).
Sepenggal ayat ini cukup menjadi hujjah akan kesempurnaan Islam, bukan hanya sebagai agama tetapi juga sebagai aturan kehidupan. 13 abad lamanya Islam mampu membuktikan eksistensinya menciptkan peradaban gemilang bahkan jauh melampaui peradaban Barat hari ini.
Dengan penerapan mabda (ideologi) Islam sebagai pemahaman (mafahim) maupun standar (maqayis) telah mampu mencetak ribuan bahkan jutaan pemuda-pemuda yang sangat cemerlang, tak hanya berakhlakul karimah diiringi ketakwaan yang mempesona tetapi juga menguasai berbagai macam bidang IPTEK.
Misalnya saja seorang pemuda ahli matematika penemu angka 0 yang bernama al-Khawarizmi, seorang ahli fisika bernama al-Biruni, pakar kimia bernama Jabir bin Hayyan, ahli filsafat Ibnu Rusyd, pakar sejarah dan sosiologi bernama Ibnu Khaldun, seorang yang dikenal sebagai bapak kedokteran modern yakni Ibnu Sina, dan masih banyak lagi generasi-generasi hebat yang lahir dari keberhasilan peradaban Islam.
Tak sampai disitu Islam juga mampu menjadi solusi komprehensif atas berbagai persoalan kehidupan, mulai dari bidang ekonomi, sosial, budaya, hingga politik.
Di era kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz misalnya, Khalifah Dinasti Umayyah tersebut telah mampu menciptakan sebuah kejayaan yang luar biasa. Dikabarkan pada masa tersebut sangat sulit ditemukan rakyat yang berhak menerima zakat sebab setiap rakyat sudah makmur dan sejahtera.
Bahkan Khalifah Umar bin Khaththab ra. pernah menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari yang berisi:
“Amma ba’du, sesungguhnya para pengurus (urusan umat) yang paling bahagia di sisi Allah adalah orang yang membahagiakan rakyat (yang diurus)-nya. Sebaliknya, para pengurus yang paling sengsara adalah orang yang paling menyusahkan rakyat (yang diurus)-nya. Berhati-hatilah kamu agar tidak menyimpang, sehingga para penguasa di bawahmu juga akan menyimpang….” (Abu Yusuf, Al-Kharaj).
Hal ini menjadi bukti betapa pemimpin yang lahir dalam sistem Islam sangat bertanggung jawab atas amanah besar yang diembannya. Mereka tidak sekadar sibuk mengejar eksistensi diri apalagi memanfaatkan kekuasaannya demi meraup keuntungan sebagaimana di sistem sekuler kapitalis hari ini, tetapi fokus pada kepentingan rakyat dan negara.
Oleh sebab itu, sudah saatnya umat menyadari bahwa hanya dengan Islamlah harapan baru di tahun 2023 ini dapat terealisasi dengan sempurna. Wallahu’alam Bisahawab. (*)
Penulis: Nurhikmah, S.Pd (Tim Pena Ideologis Maros)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













