OPINI—Ditengah kasus Covid yang belum menurun pemerintah mengizinkan ratusan tentara Amerika Serikat untuk mengadakan latihan bersama dengan TNI. Dilansir dari idntimes.com (26/7/2021) sebanyak 330 pasukan Amerika Serikat tiba di Bandara Sultan Mahmud Baharuddin II, Palembang, Sumatera Selatan pada 24 Juli 2021 lalu.

Latihan bersama itu diberi nama Garuda Shield ke-15 tahun 2021. Adapun tujuan latihan bersama ini diklaim untuk meningkatkan kerjasama dan kemampuan prajurit TNI AD dan AD Amerika Serikat dalam pelaksanaan tugas operasi.

Latihan ini disebut menjadi latihan terbesar dalam sejarah kerja sama antara TNI AD dengan tentara AS. Latihan ini akan diikuti oleh 2.246 personel TNI AD dan 2.282 personel tentara AD AS dengan materi latihan Staff Exercise, Field Training Execrise, Live Fire Exercise, Medical Exercise, dan Aviation (news.detik.com, 24 Juli 2021).

Latihan Bersama: Membuka Pintu Masuknya Intervensi Asing

Sekilas kerjasama ini dianggap sebagai sebuah kemajuan negeri karena terbuka dengan dunia internasional, padahal latihan bersama memungkinkan pihak luar dapat mengukur sejauh mana kekuatan militer yang dimiliki oleh negeri dan lebih dari itu latihan bersama dengan Asing seringkali menjadi pintu masuk intervensi Asing untuk menangani problem dalam negeri. Tidak jarang pula intervensi Asing ini menjadikan penguasa tidak memiliki kedaulatan atas negerinya sendiri.

Terlebih di masa pandemi banyak kepentingan AS yang ingin didesakkan di berbagai negeri dengan kerangka program penanganan pandemi. Berbagai kebijakan dibuat dan diambil oleh negeri kaum muslimin yang terikat dengan perjanjian dan organisasi internasional yang mereka buat agar pengaruhnya tidak melemah di negeri-negeri sumber pemasukan negaranya. Seperti solusi konsep New Normal Life untuk menangani pandemi. Dilansir dari kompaspedia.com (28 Juni 2020) konsep New Normal Life sejatinya adalah konsep yang digunakan dalam sektor ekonomi yang mengikuti krisis tahun 2008.

Istilah ini digunakan oleh ahli manajemen investasi Mohamed A. El-Erian, CEO Pasific Investment Management Co (Pimco) untuk menggambarkan situasi yang mengikuti krisis finansial tahun 2008 saat angka pengangguran sangat tinggi, pertumbuhan ekonomi dunia lebih lambat, dan intervensi pemerintah yang lebih kuat dalam pasar keuangan yang nantinya akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Selain itu istilah ini dianggap untuk mengingatkan pasar dan pembuat kebijakan bahwa ekonomi industri setelah krisis akan memulihkan diri dengan cara-cara yang baru. Maka setelah adopsi istilah yang digunakan dalam sektor ekonomi dialihkan untuk sektor kesehatan terbukti mengorbankan banyak nyawa.

Masyarakat diperbolehkan keluar dan menjalankan aktivitas mereka seperti biasa agar ekonomi berjalan kembali setelah terhenti akibat kebijkan lockdown parsial.

Padahal virus covid-19 masih berkeliaran di publik, akibatnya klaster baru bermunculan bahkan yang lebih mengerikan saat ini muncul berbagai varian mutasi virus covid-19 yang tingkat virulensinya lebih ganas.

Maka sangat jelas ketika negara Barat mengeluarkan kebijakan pandemi, terbukti sangat egois. Tidak peduli dengan kebutuhan bangsa lain dan terbukti mengorbankan banyak nyawa rakyat setelah gagal mengatasi dampak kesehatan akibat pandemi.

Bukti yang lain, saat dunia internasional menawarkan utang ribawi melalui IMF, World Bank, dan sejenisnya akibatnya penguasa kehilangan kedaulatan untuk mengatur negara. Banyak kebijakan yang berasal dari intervensi asing dan menyengsarakan rakyat. Seperti pencabutan subsidi, kenaikan pajak, dan sebagainya.

Barat dengan ideologi kapitalismenya sejatinya telah terbongkar kebobrokan dan kedzalimannya terhadap negeri-negeri kaum muslimin. Oleh karena itu, sudah semestinya penguasa terus mewaspadai tekanan dan intervensi asing dalam beragam aspek. Bukan justru bekerja sama bahkan mengundang mereka untuk latihan militer bersama.

Kerjasama Militer dalam Sistem Islam
Islam memandang militer sebagai institusi pertahanan dan ketahanan yang penting dalam negara. Dalam fiqih Mahzab Syafii, bab peperangan (jihad) halaman 418 dijelaskan bahwa fungsi militer untuk membela dan meninggikan kalimatullah. Artinya agar ajaran-ajaran Islam yang tinggi dan mulia dapat terpelihara, jangan sampai dirusak dan dihalangi oleh golongan-golongan perusak yang hendak mencederai atau memfitnah ajaran-ajaran Islam yang suci.

Negara wajib serius mempersiapkan kekuatan pasukannya secara maksimal agar mampu menggetarkan dan mengalahkan musuh sebagaimana firman Allah SWT di dalam surah Al- Anfal ayat 60 yang artinya

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya

Dari ayat tersebut sangat jelas bahwa Allah SWT memerintahkan kepada kita bahwa kekuatan yang harus dipersiapkan sampai taraf menggentarkan musuh. Oleh karena itu, pelatihan militer adalah kebutuhan vital untuk mempersiapkan kekuatan yang diperintahkan Islam, ini merupakan pelaksanaan kewajiban penyebaran ajaran Islam, mencegah serangan musuh termasuk mengusir agresi penjajah.

Tentu militer Islam dituntut memiliki kesiapan tingkat tinggi, sejalan dengan ini, Islam mengarahkan militer agar bersungguh-sungguh memberikan perhatian pada pelatihan tempur, penguatan fisik para tentara, pelatihan penggunaan senjata, ilmu militer yang mumpuni, hingga menjadi militer yang kuat dan siap kapan pun melakukan jihad fi sabilillah.

Hanya saja Islam memiliki aturan yang sangat rinci tentang hal ini, dalam Masyru ad dustuur dijelaskan dalam pasal 189 dan 190. Pasal 189 berbunyi Dilarang keras mengadakan perjanjian militer dan sejenisnya, atau yang terikat secara langsung dengan perjanjian tersebut seperti perjanjian politik dan persetujuan penyewaan pangkalan serta lapangan terbang.

Dibolehkan mengadakan perjanjian bertetangga baik, perjanjian dalam bidang ekonomi, perdagangan, keuangan, kebudayaan dan gencatan senjata. Adapun pasal 190 yang berbunyi Negara tidak boleh turut serta dalam organisasi yang tidak berasaskan Islam atau menerapkan hukum-hukum selain Islam seperti organisasi internasional PBB, Mahkamah Internasioanl, IMF, Bank Dunia. Begitu pula dengan organisasi regional seperti Liga Arab.

Maka dari sini dapat dipahami bahwa militer merupakan hal penting termasuk di dalamnya pelatihan militer. Akan tetapi Islam memerintahkan negara melakukannya secara mandiri tidak ada kerjasama militer dengan negara Asing.

Karena hal ini sama saja negara menyerahkan dirinya kepada Asing, karenanya negara Islam akan melakukan berbagai kesiapan militer termasuk pelatihan militer tanpa dicampuri negara lain. Namun semua ini hanya dapat dilaksanakan ketika penguasa mengambil Islam secara menyeluruh kemudian menerapkannya secara praktis dalam daulah Islam. (*)

Penulis: Irnawati (Mahasiswa)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.