OPINI—Tidak bermoral adalah kata yang tepat ketika melihat ibu-ibu yang sedang minum Miras disertai joget yang diiringi dengan alunan musik DJ. Entah apa yang ada dalam pikiran Ibu Ibu berhijab di Jeneponto yang secara sengaja mempertontonkan aksi tesebut.
Peristiwa yang viral di media sosial itu terjadi di Desa Bulusibatang, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Kamis (25/7/2024). Buntut dari aksi berjoget sambil minum minuman keras di depan umum, enam orang ibu-ibu di Kabupaten Jeneponto, terpaksa harus berurusan dengan hukum.
Kepala Desa (Kades) Bulusibatang, Faisal Wahidin yang dikonfirmasi mengatakan, keenam emak-emak yang viral itu telah diamankan di kantor Polisi.
Dikatakan Faisal, pihak Kepolisian langsung mendatangi TKP dan hendak menjemput keenam emak-emak tersebut setelah videonya viral. (fajar.co.id, 29/07/2024)
Karena ulah mereka, sontak membuat warganet jadi heboh, apalagi dalam vidionya nampak seorang ibu ibu yang secara sadar melakukan selfie. Sungguh tindakan yang tidak patut dicontoh apalagi dipertontonkan kepada khalayak ramai.
Sejaitnya seorang ibu adalah teladan bagi anaknya, jika potret seorang ibu seperti ini, lalu kepada siapa lagi seorang anak dapat bersandar?
Hedonisme
Fakta menyesakkan seperti ini bukan sekali terjadi, sebelumnya kita pernah dihebohkan dengan seorang ibu yang melakukan tindakan asusila kepada anaknya, belum lagi dengan seorang ibu yang tega “menjual” anaknya. Karena perkembangan teknologi, maka beragam kerusakan begitu cepat dan mudah diindera.
Pada zaman modern ini juga tingkat konsumerisme dan hedonisme berkembang pesat di kalangan masyarakat. Masyarakat dijangkiti dengan gaya hidup dan mentalitas yang boros, menghabiskan barang dan jasa secara berlebihan, serta suka menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting.
Sisi lain, mereka juga dijangkiti gaya hidup hedon yang menganggap kenikmatan sebagai tujuan hidup. Penganut hedonisme (kaum hedonis) merupakan orang-orang yang hidup hanya untuk mengejar kenikmatan saja.
Fenomena inipun ternyata banyak menimpa ibu ibu, mereka juga menjadi sasaran empuk bagi gaya hidup konsumerisme dan hedonisme, bahkan materialisme. Ketiganya (konsumerisme, materialisme, dan hedonisme) seringkali berjalan seiringan, bahkan tidak terpisahkan.
Mereka yang menganggap bahwa hidup ini hanya untuk kenikmatan saja (hedonis) maka akan mencari-cari barang-barang yang dapat memuaskan dirinya (materialis) yang akhirnya mengakibatkan perilaku konsumeristis atau pemborosan.
Kondisi ini sekaligus menggambarkan rusaknya tatanan kehidupan di hampir semua lini. Tidak mengenal usia dan status sosial. Seperti potret ibu-ibu di Jeneponto, Sulawesi Selatan di atas.
Rusaknya Fitrah Ibu
Ketika berbicara konotasi status seorang ibu, satu kata atau sekalimat pun tidak cukup menandinginya. Sosok ibu begitu mulia dan memiliki banyak makna. Seringkali kita dengar ungkapan bahwa di balik lelaki yang sukses, ada perempuan yang mulia di belakangnya.
Jika ada seorang anak yang tumbuh menjadi sosok yang sukses dan beriman, lihatlah ibu mereka. Ini karena ibu berperan besar dalam membentuk karakter dan wawasan seseorang. Itulah sejatinya makna dari status da peran seorang ibu.
Fitrahnya, seorang ibu memiliki peran yang sangat mulia. Betapa pengorbanan dan kasih sayang yang mengalir dari jiwa dan raganya begitu besarnya. Mulai dari mengandung, melahirkan, merawat, hingga mendidik dan menjaga anak-anaknya. Begitulah kemuliaan seorang ibu yang akan berkontribusi melahirkan dari rahimnya para insan cemerlang.
Ibu adalah guru pertama, sebelum si kecil belajar dengan guru mana pun. Oleh karenanya, kecerdasan, keuletan, dan perangai sang ibu adalah faktor dominan bagi pendidikan dan masa depan anak. Itulah fitrah seorang ibu.
Sungguh, berbagai kasus di atas menegaskan bahwa dalam sistem sekuler saat ini, fitrah seorang ibu sudah sedemikian rusak. Tidak hanya berdampak pada pendidikan dan perkembangan anak kandungnya sendiri, melainkan telah merusak moral dan mentalnya sendiri.
Islam Memuliakan dan Menjaga Fitrah Ibu
Dalam Islam tegas dengan mendudukkan peran perempuan dan ibu sesuai fitrah penciptaannya. Dalam sebuah HR Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, bahwa seseorang datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, kepada siapakah aku berbakti yang utama?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.”
Orang itu bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Rasul pun menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Rasul pun menjawab, “Ibumu.” Orang itu pun bertanya kembali dan Rasul pun menjawab, “Kemudian ayahmu.
Artinya, setiap manusia yang lahir ke dunia ini adalah karena kuasa Allah Taala yang diamanahkan melalui rahim seorang ibu, sosok perempuan yang diciptakan-Nya dengan segenap fitrah kelembutan dan kasih sayangnya.
Islam sebagai agama yang sempurna, yang diturunkan Allah untuk mengatur kehidupan manusia, sangat memperhatikan fitrah manusia, aturan Islam menjaga agar manusia tetap dalam fitrahnya.
Islam juga memiliki berbagai macam aturan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan naluri manusia. Dengan seperangkat aturan Islam yang menyeluruh, manusia dapat hidup tenang, terpenuhi semua kebutuhannya baik fisik maupun psikisnya, demikian pula kebutuhan nalurinya. Manusia pun akan tetap terjaga kemuliaannya sebagaimana manusia dan terjaga fitrahnya.
Semua itu tentu saja hanya akan terwujud ketika aturan Islam diterapkan secara keseluruhan oleh negara. Terjaganya fitrah manusia (Ibu) membutuhkan tegaknya sistem Islam yang kafah, sehingga dengannya seorang ibu akan melakukan kebaikan dan hal-hal terpuji lainnya, karena negara akan menghilangkan berbagai hal yang dapat merusak fitrah ibu. Wallahua’lam bis Showab. (*)
Penulis: Mansyuriah, S. S. (Aktivis Muslimah dan Pemerhati Sosial)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













