Sejarah dan Keutamaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW

 

ISLAM – Maulid Nabi merupakan waktu dimana Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Mayoritas umat Islam di duni dan di Indonesia menyambut datangnya bulan ini dengan berbagai bentuk kegiatan dalam rangka untuk merayakan kelahiran baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dirayakan pada tanggal 12 Rabiul Awal (dalam kalender Islam), yang tahun ini bertepatan pada hari Jumat, tanggal 1 Desember 2017.

Berbicara tentang sejarah peringatan Maulid SAW, Jalaluddin al-Suyuthi dalam Al-Hawi li al-Fatawi (I/252) menyebutkan bahwa orang yang pertama kali mengadakannya adalah penguasa Irbil, Raja Muzhaffar Abu Sa’id al-Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin (549-630 H), seorang raja yang mulia, luhur dan pemurah. Beliau merayakan Maulid Nabi SAW. Pada bulan Rabi’ul Awwal dengan perayaan yang meriah.

Dalam al-Bidayahwa al-Nihayah(XIII/136) Ibnu Katsir menilai bahwa Raja Muzhaffar termasuk penguasa yang alim dan adil, serta memiliki banyak peninggalan yang baik (atsar hasanah). Di antara peninggalan baik beliau adalah al-Maulid al-Syarif (perayaan maulid yang mulia) setiap bulan Rabi’ul Awwal.

Sejak saat itulah, umat Islam di berbagai belahan dunia menjadikan peringatan Maulid Nabi SAW. Sebagai sebuah tradisi yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Hal itu dilakukan sebagai bentuk ungkapan kegembiraan atas lahirnya Nabi Muhammad SAW, karena kelahiran beliau merupakan nikmat dan rahmat teragung yang diturunkan Allah SWT. Ke muka bumi dan selayaknyalah kaum muslim merasa gembira dengan cara merayakan atau dengan cara lain yang substansinya menunjukkan rasa syukur atas adanya nikmat tersebut.

Nabi sendiri mensyukuri hari kelahirannya dengan cara berpuasa. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau bersabda:

“Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari, bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang puasa Senin. Beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.”(HR. Muslim [1977]).

Hadits di atas menjelaskan bahwa Nabi SAW berpuasa pada hari Senin sebab hari itu adalah hari kelahiran beliau dan diturunkannya wahyu kepada beliau. Ibnu Hajar al-‘Asqallani mengatakan bahwa bersyukur kepada Allah SWT bisa dilakukan dengan bermacam bentuk ibadah seperti sujud, berpuasa, sedekah dan membaca Alquran, dan tidak dipungkiri bahwa kelahiran beliau adalah nikmat yang paling agung. Dari itulah dalam mengekspresikan syukur selayaknya dengan memperbanyak membaca Alquran, memberi makan dan menyanjung dengan pujian-pujian atas Rasulullah yang dapat menggerakkan hati untuk melakukan kebaikan dan amal ukhrawi. (Al-Fatawa al-Kubra, I/196).

Maulid Nabi dalam Perspektif Ulama

Sebagian kelompok menolak peringatan Maulid Nabi SAW dengan alasan tradisi ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW dan para sahabat. Padahal mayoritas ulama sepakat tidak semua tradisi yang muncul setelah generasi awal Islam adalah tradisi buruk. Imam Syafi’i membagi tradisi baru menjadi dua kategori. Apabila bertentangan dengan syariat, maka disebut bid’ah sayyi’ah. Apabila sesuai dengan syariat, maka dianggap sebagai sesuatu yang terpuji (mahmudah). (Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, XIII/253).

Dalam hal ini Imam al-Sakhawi menjelaskan bahwa peringatan Maulid Nabi SAW memang tidak dikenal pada tiga abad pertama, namun demikian semua umat Islam di berbagai penjuru dunia mengadakan peringatan tersebut. Mereka bersedekah pada malam harinya dan membaca Maulid Nabi dengan begitu semarak (al-Sirah al-Halabiyyah, I/111). Penjelasan senada juga ditegaskan oleh al-Hafizh al-Qasthalani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah, I/148).

Imam Abu Syamah, guru Imam Nawawi, berkata:

“Sebaik-baik perbuatan yang diadakan pada masa ini adalah apa yang dilakukan di kota Irbil pada setiap tahun, bertepatan dengan hari kelahiran Nabi SAW, yang dilakukan dengan cara bersedekah, mengerjakan hal-hal baik serta menampakkan keriangan dan kegembiraan, karena yang demikian itu selain di dalamnya terkandung perbuatan yang baik terhadap fakir miskin, juga mengesankan suatu kecintaan dan pengagungan kepada Nabi SAW, serta rasa syukur kepada Allah atas karunianya yang telah menciptakan beliau dan mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (Al-Ba’is ‘alaInkar al-Bida’ wa al-Hawadis, hal.21).

Jalaluddin al-Suyuthi menjelaskan bahwa orang yang merayakan Maulid Nabi SAW. Dengan membaca Alquran dan kisah-kisah teladan Nabi sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya, kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanyaitu yang dilakukan, tidaklebih. Semua itu termasuk bid’ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad yang mulia. (Al-Hawi li al-Fatawi, I/ 251-252).

Kalaupun misalnya dalam pelaksanaan peringatan Maulid Nabi SAW ditemukan beberapa penyimpangan yang melanggar norma syari’at, seperti terjadinya ikhtilath (percampuran) antara laki-laki dan perempuan dan lain sebagainya, tentu saja ini menjadi tugas kita bersama untuk meluruskannya, bukan malah dengan membabi buta menyalahkan tradisi yang notabene dianggap baik oleh banyak ulama.

Sangat na’if sekali kalau hanya karena ada tikus di dapur lalu kita berfikir untuk merobohkan dapurnya, tentu saja akan lebih baik dan bijak jika tikusnya yang dibasmi dengan cara diracun dan semacamnya.

Peringatan Maulid Nabi SAW hanyalah sebatas tradisi. Karena itulah peringatan ini tidak mempunyai format baku layaknya suatu ibadah wajib. Peringatan Maulid Nabi SAW bisa dilakukan kapan saja. Bentuk peringatan Maulid Nabi SAW juga dapat berubah, berbeda dan berkembang sesuai dengan perubahan, perbedaan dan perkembangan masyarakat setempat pada setiap zaman dengan mengikuti kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tersebut, asalkan tidak menyalahi prinsip-prinsip ajaran agama Islam.

Jangan sampai acara peringatan Maulid Nabi SAW hanya menjadi acara seremonial belaka tanpa ada efek positif sesudahnya. Alangkah indahnya jika acara peringatan Maulid Nabi SAW bisa membuat kecintaan kita kepada beliau semakin bertambah, sehingga kita bisa senantiasa meneladani sikap dan kepribadian beliau dalam kehidupan sehari-hari. Selamat bermaulid. [*/4ld]

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab & Humaniora IAIN Jember

0 Comments

Komentar Anda

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Don't have account. Register

Lost Password

Register